Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Menyimak Sejarah Derby Superclásico, Lebih Panas dari El Clasico

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 12 Mei 2025 | 01:00 WIB
Ilustrasi Derby Superclásico yang dinilai lebih panas dari El Classico.
Ilustrasi Derby Superclásico yang dinilai lebih panas dari El Classico.

Trenggaleknjenggelek - Bagi sebagian penggemar sepak bola dunia, nama Superclásico Argentina mungkin belum sefamiliar El Clasico antara Real Madrid dan Barcelona.

Namun, derby panas yang mempertemukan dua raksasa Argentina—Boca Juniors dan River Plate—menyimpan sejarah, emosi, serta pertarungan kelas sosial yang membuatnya disebut sebagai derby terpanas di dunia sepak bola.

Berlangsung di ibu kota Argentina, Buenos Aires, Superclásico menjadi simbol benturan budaya dan ekonomi.

River Plate berasal dari distrik Núñez, wilayah utara kota yang dikenal sebagai kawasan elite.

Klub ini identik dengan kelompok masyarakat kelas atas atau kaum borjuis.

Sementara itu, Boca Juniors tumbuh di kawasan La Boca, daerah yang terkenal dengan komunitas pekerja dan imigran kelas menengah ke bawah.

Rivalitas Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Pertemuan antara River dan Boca bukan sekadar laga 90 menit. Ini adalah pertarungan dua identitas sosial yang berbeda.

Superclásico menggambarkan lebih dari sekadar adu strategi; ia menjadi cerminan konflik kelas, ekonomi, bahkan ideologi.

Tak heran jika media Inggris The Observer menempatkan Superclásico sebagai derby olahraga nomor satu yang wajib ditonton, mengalahkan berbagai laga ikonik lainnya di dunia.

Lebih dari 70 persen penduduk Argentina adalah pendukung fanatik salah satu dari dua klub ini.

Maka, setiap pertemuan antara River Plate dan Boca Juniors bukan hanya pertandingan, melainkan momen nasional yang menyita emosi publik.

Tragedi 1968: Luka yang Tak Terlupakan

Salah satu titik kelam dalam sejarah Superclásico terjadi pada 23 Juni 1968.

Laga panas di Stadion Monumental antara River Plate dan Boca Juniors berubah menjadi tragedi berdarah.

Bentrokan suporter di dalam dan luar stadion menyebabkan 71 orang meninggal dunia dan 150 lainnya luka-luka.

Total korban sebanyak 221 orang menjadikan insiden ini sebagai salah satu tragedi paling mematikan dalam sejarah sepak bola dunia.

Sejak saat itu, Superclásico tak lagi hanya dikenal karena tensi tinggi di lapangan, tetapi juga sebagai simbol peringatan akan pentingnya keamanan dan manajemen suporter dalam pertandingan.

Lebih Panas dari El Clasico?

Meski El Clasico Spanyol juga menyimpan sejarah rivalitas politik antara Madrid dan Barcelona, banyak pengamat menilai bahwa Superclásico memiliki unsur emosional dan sosial yang lebih dalam.

Jarak geografis antara basis pendukung hanya 15 kilometer, tetapi jurang sosial di antara mereka begitu lebar.

Setiap kali Superclásico digelar, keamanan ditingkatkan secara maksimal, jumlah polisi ditambah, dan stadion dipenuhi atmosfer penuh gairah.

Tak sedikit yang menganggap bahwa derby ini memiliki tingkat tekanan dan tensi yang melebihi El Clasico. (kho)

RITEL: Pengunjung berbelanja di salah satu toko modern di wilayah Kecamatan Camplong, Sampang, Minggu (11/5). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)
RITEL: Pengunjung berbelanja di salah satu toko modern di wilayah Kecamatan Camplong, Sampang, Minggu (11/5). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#el classico #superclasico #river plate #boca junior