Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Mengenal Olahraga Tinju Hingga Sejarah Masuknya di Indonesia

Akhmad Nur Khoiri • Kamis, 15 Mei 2025 | 02:02 WIB

Ilustrasi Sejarah Olahraga Tinju di Indonesia.
Ilustrasi Sejarah Olahraga Tinju di Indonesia.

Trenggaleknjenggelek - Tinju bukan sekadar adu pukul, tapi seni bela diri yang mengandalkan strategi, kecepatan, dan kekuatan dalam pertarungan antar dua petarung dengan bobot seimbang.

Pertandingan ini dibagi dalam beberapa ronde berdurasi satu hingga tiga menit, baik di ajang Olimpiade maupun laga profesional.

Tujuannya? Mendaratkan pukulan ke lawan sambil menghindari serangan balik.

Baca Juga: Megawati Hangestri Pulang Kampung ke Kampak, Jadi Inspirasi Anak Muda Trenggalek

Asal-usul Kata Tinju

Kata "tinju" diadaptasi dari bahasa Inggris boxing atau pugilism. Menariknya, kata pugilism punya akar dari bahasa Latin pugilatus, yang berasal dari bahasa Yunani pugno—yang berarti tinju atau tangan yang terkepal.

Baca Juga: Menyimak Sejarah Derby Superclásico, Lebih Panas dari El Clasico

Dalam mitologi Yunani, dewa tinju adalah Poliux, saudara kembar Castor, anak dari Jupiter dan Leda.

Dan coba tebak? Tangan yang terkepal memang sekilas mirip kotak—makanya disebut boxing alias kotak-kotakan!

Baca Juga: Melihat Penggunaan VAR dalam Sepak Bola dari Kelebihan, Kekurangan hingga Dampaknya

Jejak Sejarah Tinju Dunia

Tinju sudah dikenal sejak era Mesir, Romawi, hingga Yunani kuno. Dulu, petinju tidak memakai sarung tangan empuk seperti sekarang.

Justru mereka memakai sarung tangan dari besi! Tak heran kalau banyak nyawa melayang di arena.

Salah satu legenda di masa itu adalah Theagenes dari Thasos, Yunani, yang memenangkan Olimpiade tahun 450 Masehi.

Ia bertarung lebih dari 1.400 kali selama hidupnya, semuanya masih dengan sarung tangan besi!

Baru pada 10 Agustus 1973, tinju mulai mengarah ke versi yang lebih aman. Diperkenalkanlah sarung tangan berbahan spons, dan James Ping dari Inggris menjadi petinju pertama yang menggunakannya secara resmi.

Tinju Masuk ke Indonesia

Olahraga ini mulai dikenal di Indonesia saat era Hindia Belanda, diperkenalkan oleh tentara KNIL.

Tapi setelah Belanda dikalahkan Jepang, dunia tinju di Tanah Air sempat kehilangan arah karena tak ada lembaga resmi yang menaunginya.

Baru pada tahun 1955, Komandan Kepolisian Jakarta, Didi Karta Sasmita, membentuk organisasi PERTIGU (Persatuan Tinju dan Gulat) dengan Frans Mendur sebagai ketua.

Namun ketika Indonesia ingin ikut Olimpiade Roma tahun 1960, IOC (Komite Olimpiade Internasional) mensyaratkan adanya federasi tinju amatir. Maka lahirlah PERTINA (Persatuan Tinju Amatir Indonesia) pada 30 Oktober 1959.

Sempat juga, tinju profesional dilarang pada 1961 karena arah politik Indonesia yang cenderung condong ke blok sosialis. Untungnya, larangan itu tidak bertahan selamanya.

Kini, Indonesia pernah mencetak nama besar di kancah dunia lewat petinju legendaris seperti Chris John.

Bukan cuma jadi kebanggaan, tapi juga bukti kalau olahraga yang dulu brutal ini bisa melahirkan pahlawan nasional dari atas ring. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#tinju #indonesia #sejarah