Trenggaleknjenggelek – Dalam pertandingan sepak bola tanpa bantuan teknologi Video Assistant Referee (VAR), keputusan wasit di lapangan bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat. Situasi ini kerap menimbulkan kontroversi, terutama ketika keputusan dianggap merugikan salah satu tim. Meski demikian, para pemain dan pelatih dituntut untuk tetap menjunjung tinggi sportivitas dan menaati aturan yang berlaku.
Menurut peraturan yang diterapkan di berbagai kompetisi, tindakan tidak menghormati keputusan wasit seperti melontarkan kata-kata kasar, memprotes dengan berlebihan, atau menunjukkan gestur tidak pantas dapat dikategorikan sebagai dissent—yakni pelanggaran disiplin yang bisa berujung pada pemberian kartu kuning atau bahkan kartu merah.
Wasit adalah pemimpin pertandingan. Tanpa VAR, keputusan mereka jadi pegangan mutlak di lapangan. Karena itu, pemain harus bisa mengendalikan diri dan menghormati keputusan meski tidak setuju.
Jika merasa dirugikan, jalur resmi tetap terbuka. Protes dapat diajukan melalui surat resmi oleh manajemen atau perwakilan tim kepada pihak penyelenggara kompetisi. Ini bisa menjadi dasar evaluasi untuk ke depan tanpa mengganggu jalannya pertandingan yang sedang berlangsung.
Beberapa liga juga menyediakan mekanisme banding terhadap keputusan wasit, khususnya yang berdampak besar terhadap hasil pertandingan atau melibatkan pelanggaran disiplin. Meski proses banding ini memerlukan waktu dan tidak serta-merta membatalkan keputusan di lapangan, hal ini menjadi bentuk kontrol internal dalam menjaga keadilan pertandingan.
Yang terpenting, pemain dan pelatih diingatkan untuk tetap menjaga sikap sportif. Menghormati lawan, menjaga emosi, dan menampilkan permainan yang bersih menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai sepak bola.
Sepak bola bukan sekadar soal menang atau kalah, tapi bagaimana nilai fair play dijunjung tinggi. Ketika tidak ada VAR, di situlah ujian terbesar dari karakter seorang pemain.
Dengan demikian, menghadapi keputusan wasit yang dirasa tidak adil bukan berarti kehilangan kendali. Ada saluran yang bisa ditempuh, dan ada etika yang tetap harus dijaga. Sebab, sportivitas adalah kemenangan sejati dalam setiap pertandingan.(jaz)