Trenggaleknjenggelek - Musim 2024/2025 menjadi saksi bahwa dalam dunia sepak bola, kejayaan tidak pernah bersifat abadi.
Klub-klub besar yang selama ini mendominasi kompetisi Eropa harus menerima kenyataan pahit, mereka gagal lolos ke Liga Champions, Liga Europa, bahkan UEFA Conference League.
Tradisi tampil di panggung benua biru terhenti seketika. Kekecewaan menyelimuti fans, manajemen mulai mengevaluasi arah klub, dan musim depan akan menjadi awal dari perjalanan baru yang tidak mudah.
Berikut lima klub elite Eropa yang dipastikan absen dari kompetisi UEFA musim depan:
1. Manchester United
Musim yang penuh gejolak bagi Manchester United berakhir tanpa tiket ke Eropa. Kedatangan Ruben Amorim di pertengahan musim tak mampu menyelamatkan posisi United di klasemen Premier League.
Meski sempat menyalakan harapan di Liga Europa dengan menembus final, kekalahan tipis 0-1 dari Tottenham membuat mereka pulang tanpa gelar.
Tottenham melaju ke Liga Champions, sementara United harus memutar otak dalam bursa transfer untuk membangun ulang skuad yang kompetitif.
2. Sevilla
Raja Liga Europa itu kehilangan tahta dan arah. Sevilla yang identik dengan kejayaan di kompetisi kasta kedua UEFA terperosok hingga posisi ke-17 La Liga.
Tak ada kisah manis seperti dua musim lalu saat mereka menutup musim buruk dengan trofi Liga Europa.
Ironisnya, Real Betis—rival sekota mereka—malah tampil hingga final UEFA Conference League. Musim depan akan menjadi musim perenungan panjang bagi Los Nervionenses.
3. Real Sociedad
Konsistensi Real Sociedad terjun bebas musim ini. Dari langganan Liga Champions dan Liga Europa, mereka kini tercecer di peringkat ke-11 La Liga.
Kegagalan ini semakin pahit dengan hengkangnya Martin Zubimendi ke Arsenal. Absennya mereka dari panggung Eropa bisa memicu eksodus pemain kunci lainnya.
Sociedad butuh rencana matang untuk menjaga identitas mereka sebagai penantang utama di sepak bola Spanyol.
4. RB Leipzig
RB Leipzig mencatat musim terburuk mereka sejak promosi ke Bundesliga. Hanya 13 kemenangan dari 34 laga cukup untuk menggambarkan keterpurukan mereka.
Posisi ketujuh di klasemen akhir membuat mereka gagal lolos ke semua ajang UEFA. Terakhir, kekalahan menyakitkan dari Stuttgart di kandang sendiri menutup musim penuh kekecewaan. Untuk klub yang biasa bersaing di papan atas, ini menjadi alarm keras akan perlunya reformasi.
5. AC Milan
Musim tanpa gelar, tanpa Eropa—itulah kenyataan pahit yang dihadapi AC Milan. Peringkat delapan Serie A dan kekalahan dari Bologna di final Coppa Italia menyingkirkan mereka dari jalur ke Liga Europa.
Bagi Rossoneri dan penggemarnya, ini adalah titik nadir. Performa menawan Christian Pulisic tak cukup untuk menyelamatkan musim.
Bahkan, ia kini terancam kehilangan panggung penting menjelang Piala Dunia 2026 di negaranya, Amerika Serikat.
Ketiadaan klub-klub besar ini di kompetisi Eropa musim depan tentu mengubah peta persaingan. Tapi seperti halnya dalam sepak bola, setiap kejatuhan adalah kesempatan untuk bangkit.
Musim depan akan menjadi ujian karakter dan kebijakan bagi lima raksasa yang terluka ini. (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri