Trenggaleknjenggelek - Langkah Timnas Indonesia ke ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia memang masih terbuka.
Namun, sorotan tajam justru mengarah ke lini depan yang tampil tanpa daya saat dihajar Jepang 6-0 di Suita City Stadium, Selasa (10/6/2025) sore WIB.
Bertumpu pada skema 3-4-3 racikan pelatih Patrick Kluivert, sektor penyerang seolah menjadi titik mati.
Beckham Putra, Ole Romeny, dan Yance Sayuri yang diplot sebagai trisula serang tak mampu mengancam sedikit pun.
Sepanjang laga, Indonesia bahkan tidak mencatatkan satu pun tembakan ke arah gawang. Bukan soal akurasi, melainkan peluang pun tak pernah tercipta.
Baca Juga: Timnas Indonesia Dibantai Jepang 6-0 di Laga Penutup Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia
Statistik ini mencerminkan bukan sekadar kekalahan, melainkan ketumpulan total di lini serang. Bahkan pressing balik yang menjadi bagian dari transisi ofensif pun nyaris tak terlihat. Bola kerap patah di lini tengah, sementara trio depan kehilangan koneksi dan visi bermain.
Padahal, kombinasi lini tengah yang diisi Thom Haye dan Joey Pelupessy sempat diharapkan mampu menjadi jembatan distribusi serangan.
Baca Juga: Timnas Indonesia Lolos ke Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026, Ini Calon Lawannya
Namun, Jepang tampil terlalu dominan. Dengan penguasaan bola mencapai 71%, skuad asuhan Hajime Moriyasu tak memberi ruang bagi Garuda untuk bernapas.
Jepang membombardir sejak menit pertama. Daichi Kamada membuka keunggulan di menit ke-15, disusul Takefusa Kubo tiga menit kemudian.
Kamada kembali mencetak gol ketiga sebelum turun minum. Babak kedua menjadi mimpi buruk lanjutan.
Morishita, Shuto Machino, dan Hosoya masing-masing menambah luka Indonesia hingga skor akhir 6-0.
Bagi Timnas Indonesia, kekalahan ini menjadi kekalahan terbesar sepanjang fase kualifikasi. Dan titik lemahnya begitu jelas: barisan depan yang tak mampu menciptakan ancaman sama sekali.
Dengan banyaknya pemain naturalisasi berdarah Eropa yang memperkuat skuad, publik sempat menaruh harapan lebih.
Namun, malam kelam di Osaka memperlihatkan bahwa ekspektasi itu masih jauh dari kenyataan. Label Eropa belum cukup jika tak diiringi chemistry dan keberanian di depan gawang.
Meski posisi Indonesia tetap aman di peringkat keempat Grup C dengan 12 poin dari 10 laga, hasil buruk ini tetap menyisakan keprihatinan.
Terlebih, ada dampak nyata terhadap ranking FIFA: minus 3,42 poin membuat posisi Garuda kian rawan di klasemen dunia.
Untuk Patrick Kluivert, skor telak ini menjadi alarm keras. Ia harus menjawab pertanyaan yang kini menggema di benak pecinta sepak bola nasional: sampai kapan lini serang Indonesia hanya tajam di atas kertas? (kho)
Editor : Akhmad Nur Khoiri