Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Punya Daya Magis, Manchester United: Tetap Memikat Meski Terpuruk

Akhmad Nur Khoiri • Minggu, 15 Juni 2025 | 02:22 WIB
Manchester United masih digemari meskipun terseok-seok di musim lalu.
Manchester United masih digemari meskipun terseok-seok di musim lalu.

Trenggaleknjenggelek — Meski mengalami musim terburuk dalam sejarah modern klub, Manchester United tetap menjadi magnet kuat di dunia sepak bola.

Finis di urutan ke-15 Premier League tak mengurangi pesona Manchester United yang telah menjadi simbol tradisi dan kebanggaan sejak lebih dari satu abad lalu.

Nama besar Manchester United masih menjadi impian bagi banyak pemain untuk bermain bagi Setan Merah.

Jersey merah mereka bukan sekadar seragam, melainkan simbol warisan dan kebanggaan yang tertanam dalam benak banyak pesepakbola sejak masa kecil.

Di tengah badai performa buruk, klub ini justru menunjukkan kekuatan utamanya: daya tarik yang tak tergoyahkan.

Tidak banyak klub yang bisa terpuruk sedalam itu dan tetap memancarkan aura sebesar United.

Sejarah mencatat, musim 1973–74 mereka terdegradasi ke Divisi Dua, namun justru terjadi lonjakan antusiasme.

Sebanyak 81 ribu penonton hadir dalam laga Piala FA melawan tim non-liga, bukan di Old Trafford yang saat itu rusak karena sisa-sisa Perang Dunia II, tapi di stadion netral.

Sebuah bukti bahwa semangat suporter tidak runtuh bersama performa tim.

Kini, di masa modern, rata-rata 73.815 penonton hadir di Old Trafford setiap pekan. Stadion itu tetap penuh, seolah hasil di klasemen bukan ukuran utama loyalitas.

Manchester United tetap bersanding dengan institusi global seperti Real Madrid dan Barcelona, bukan sekadar karena trofi, tetapi karena karakter klub: sepak bola menyerang, keberanian, dan keberpihakan pada pemain muda.

CEO Manchester United, Omar Berrada, menegaskan bahwa klub tidak kesulitan menarik minat pemain baru, bahkan tanpa tiket Liga Champions.

“Kalau pemain datang hanya karena Liga Champions, maka mereka bukan pemain yang kami cari,” tegasnya.

Kalimat itu menggambarkan idealisme klub yang tetap terjaga: mencari pemain yang mencintai badge, bukan hanya kompetisi Eropa.

Uang memang penting, tetapi United bukan satu-satunya klub yang bisa membayar tinggi.

Namun, tidak semua klub menawarkan panggung global dan sejarah hidup seperti Setan Merah.

Bahkan satu atau dua penampilan di Old Trafford bisa mengangkat reputasi pemain, sesuatu yang tak bisa ditawarkan Brentford atau Bournemouth meski bisa menang di lapangan.

Salah satu bukti kekuatan emosional klub adalah kisah Matheus Cunha.

Pemain yang baru bergabung dari Wolves itu mengaku jatuh cinta dengan United sejak menyaksikannya di rumah neneknya di Brasil.

Sentuhan emosional inilah yang membuat banyak pemain masih memimpikan United.

Meski telah lebih dari satu dekade tanpa gelar liga, klub tetap menjadi tujuan.

United bukan lagi klub yang merebut bintang dari Spurs, tetapi tetap memikat talenta potensial.

Nama-nama seperti Rasmus Højlund menjadi bukti bahwa tradisi mengasah mutiara muda tetap dijaga.

Para rival boleh mencibir. Mereka boleh bertanya-tanya mengapa pemain masih tergoda pada klub yang tak sekuat dulu.

Namun pesona itu nyata, menjangkau seluruh dunia, menyusup ke hati pemain, suporter, dan bahkan mereka yang membenci.

Karena Manchester United bukan sekadar klub bola. Ia adalah cerita yang terus ditulis ulang, meski tintanya kadang buram. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#old trafford #manchester united #matheus cunha #setan merah