MONACO– Paul Pogba kembali mencuri perhatian dunia sepak bola bukan hanya lewat performanya, tetapi juga lewat momen sujud syukur di lapangan usai pertandingan.
Aksi ini bukan sekadar selebrasi biasa, melainkan simbol rasa syukur mendalam atas perjalanan kariernya yang penuh liku.
Kesempatan itu terjadi saat AS Monaco menghadapi Rennes di Ligue 1, Minggu (23/11/2025) dini hari WIB.
Pogba masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-85, meskipun timnya kalah dengan skor 1–4.
Namun demikian, peluit akhir menjadi saat penuh makna baginya.
Segera setelah pertandingan usai, Pogba langsung bersujud di tengah lapangan.
Sujud syukur yang ditunjukkannya mencerminkan betapa besar rasa terima kasih dari Pogba terhadap Allah atas kesempatan kembali merumput setelah masa absen panjang.
Ia pernah dijatuhi hukuman larangan bermain selama 18 bulan karena kasus doping selama memperkuat Juventus.
Setelah perjuangan, banding, dan masa sulit, momen ini dinilai sebagai titik balik dalam kariernya.
Lebih dari sekadar ungkapan rasa syukur atas kembalinya ke lapangan, sujud Pogba juga menjadi cerminan identitas religiusnya.
Ia dikenal sebagai seorang muslim taat.
Keputusannya menjadi mualaf terjadi sekitar tahun 2012, dipengaruhi oleh teman-teman dekatnya.
Islam memberikan Pogba ketenangan dan kedamaian, sesuatu yang dia sebut sebagai sumber kekuatan dalam hidupnya.
Selama kariernya, Pogba tak enggan menunjukkan ekspresi keimanannya di berbagai kesempatan.
Ia pernah menunaikan ibadah Umrah, bahkan berbagi momen spiritual tersebut bersama rekan-rekannya.
Bagi Pogba, sujud syukur bukan hanya aksi gestural, melainkan manifestasi spiritual dari perjalanan hidup sebagai seorang atlit sekaligus hamba Allah.
Dari sisi keilmuan Islam, sujud syukur memiliki makna khusus.
Sujud itu sendiri adalah bentuk sujud yang dilakukan di luar ibadah salat sebagai ungkapan terima kasih atas nikmat besar.
Sujud seperti yang dilakukan Pogba adalah wujud rasa syukur spiritual sekaligus simbol ketundukan diri di hadapan Sang Pencipta.
Reaksi publik atas momen sujud Pogba sangat positif.
Banyak penggemar dan tokoh dunia olahraga menyebutnya sebagai simbol kebangkitan, iman, dan pembuktian bahwa pegangan spiritual dapat menjadi pondasi kuat dalam menghadapi badai karier.
Kisah sujud syukur Pogba juga mengingatkan betapa pentingnya identitas pribadi di luar lapangan.
Ia tidak hanya seorang pemain terkenal, tetapi juga figur yang terbuka soal keyakinannya.
Keputusan hidupnya sebagai seorang muslim dan tindakannya bersujud di momen krusial menginspirasi banyak orang, terutama di kalangan penggemar sepak bola yang juga menganut Islam.
Di sisi olahraga, momen ini dapat menjadi momentum kebangkitan Pogba di panggung kompetitif.
Di tengah sorotan media, tekanan profesional, dan ekspektasi tinggi, aura spiritual ini bisa menjadi bahan bakar motivasi baru untuk melanjutkan perjalanan karier yang sempat terhenti.
Bagi Pogba, sujud syukur bukan sekadar diapresiasi oleh publik, tetapi juga pengingat pribadi bahwa tiap momen kemenangan, sekecil apa pun, adalah anugerah. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah