BANDUNG - Hasil drawing babak 16 besar AFC Champions League Two (ACL 2) musim 2025/2026 resmi mempertemukan Persib vs Ratchaburi FC di ACL 2.
Wakil Indonesia itu kembali menantang klub asal Thailand, lawan yang dinilai masih berada dalam jangkauan Maung Bandung, meski tantangan terbesar justru datang dari faktor non-teknis: kepadatan jadwal dan manajemen kebugaran pemain.
Drawing babak 16 besar ini berlangsung dengan momen menarik. Legenda Persib, Atep, didapuk sebagai pengambil undian.
Raut wajah Atep sempat menjadi sorotan saat nama Ratchaburi FC muncul sebagai calon lawan Persib.
Pertemuan ini sekaligus mengulang memori Persib menghadapi klub-klub Thailand di kompetisi Asia dalam beberapa musim terakhir.
Secara performa, Persib vs Ratchaburi FC di ACL 2 dinilai cukup seimbang. Ratchaburi saat ini berada di papan atas Thai League 1, menempati posisi kedua klasemen sementara.
Meski demikian, jarak poin mereka dengan raksasa Thailand, Buriram United, cukup terpaut jauh. Kondisi ini membuat Ratchaburi tidak bisa disamakan levelnya dengan Buriram yang dikenal dominan di Asia Tenggara.
Ratchaburi FC, Klub dengan Sejarah Unik
Ratchaburi FC bukan klub biasa. Dalam kurun 2018 hingga 2020, klub ini tercatat mengganti pelatih hingga 12 kali.
Sejumlah nama besar pernah menangani mereka, mulai dari Christian Ziege, mantan pemain Liverpool dan timnas Jerman, hingga Marco Simone, eks striker AC Milan.
Bahkan, pelatih Persib saat ini, Bojan Hodak, pernah berada dalam ekosistem sepak bola yang bersinggungan dengan klub Thailand, termasuk Ratchaburi.
Meski kini lebih stabil, Ratchaburi tetap menyimpan potensi kejutan. Salah satu sorotan utama adalah keberadaan Faiq Bolkiah, pemain yang pernah disebut media Spanyol Marca sebagai pesepak bola terkaya di dunia.
Keponakan Sultan Brunei itu menjadi simbol bahwa Ratchaburi memiliki daya tarik tersendiri, meski kekuatan tim tak sepenuhnya bertumpu pada satu nama.
Modal Persib: Kedalaman Skuad dan Mental Tanding
Menatap Persib vs Ratchaburi FC di ACL 2, Maung Bandung punya modal berharga. Persib tercatat pernah menaklukkan Bangkok United di Thailand pada fase sebelumnya.
Catatan itu menjadi bukti bahwa klub asal Bandung mampu bersaing di level Asia, khususnya menghadapi wakil Thailand.
Kedalaman skuad juga menjadi keunggulan Persib musim ini. Rotasi pemain dinilai cukup ideal untuk menghadapi jadwal padat, meski tetap membutuhkan manajemen menit bermain yang cermat.
Selain itu, keuntungan geografis juga menjadi faktor pendukung. Jarak Thailand yang relatif dekat memungkinkan suporter Persib hadir langsung tanpa harus mengeluarkan biaya besar, berbeda jika harus bertandang ke Jepang atau Korea Selatan.
Baca Juga: Melampaui Batas Kota: Suka Duka Menjelajahi Jarak dan Waktu!
Jadwal Padat, Tantangan Sebenarnya
Musuh utama Persib bukan hanya Ratchaburi, melainkan jadwal yang sangat rapat. Leg pertama babak 16 besar ACL 2 dijadwalkan pada 10–12 Februari, sementara leg kedua berlangsung pada 17–19 Februari.
Di sela-sela itu, Persib juga harus menjalani laga Super League melawan Malut United, Borneo FC, dan Persita Tangerang.
Beberapa pertandingan domestik berpotensi ditunda karena jarak antar laga yang terlalu berdekatan.
Situasi ini menuntut kecermatan pelatih dalam menjaga recovery pemain, terutama setelah perjalanan tandang ke Thailand.
Ancaman Lebih Besar Menanti
Jika mampu melewati Persib vs Ratchaburi FC di ACL 2, tantangan lebih berat sudah menanti di perempat final.
Dua raksasa Asia, Pohang Steelers dari Korea Selatan dan Gamba Osaka dari Jepang, berpeluang menjadi lawan berikutnya.
Keduanya memiliki rekam jejak mentereng di kompetisi Asia dan pengalaman panjang di level tertinggi.
Namun demikian, optimisme tetap terjaga. Persib dinilai punya peluang realistis melaju sejauh mungkin di ACL 2 musim ini.
Selain meningkatkan prestasi klub, pencapaian tersebut juga berdampak besar terhadap koefisien kompetisi Indonesia di Asia, yang dalam jangka panjang membuka peluang tampil di level ACL Elite.
Dengan kombinasi performa stabil, dukungan suporter, dan manajemen tim yang tepat, Persib diharapkan mampu menjawab tantangan besar di awal tahun dan membawa nama Indonesia bersinar di pentas Asia. (mal)
Editor : Didin Cahya Firmansyah