SURABAYA – Peta kekuatan sepak bola di Jawa Timur (Jatim) mengalami guncangan hebat pada kompetisi musim 2025-2026. Sebagai provinsi dengan wakil terbanyak, Jatim justru harus melihat klub-klub kebanggaannya terpuruk di papan bawah klasemen. Di tengah situasi pelik ini, Persebaya Surabaya Super League muncul sebagai satu-satunya tumpuan harapan bagi publik sepak bola Jawa Timur agar tetap eksis di jajaran elit nasional.
Hingga memasuki pekan ke-25, performa Persebaya Surabaya Super League memang menjadi yang paling stabil dibandingkan tiga saudara tuanya. Tim berjuluk Bajul Ijo tersebut kini nangkring di posisi ketujuh klasemen sementara dengan raihan 39 poin. Meski belum masuk dalam bursa calon juara, stabilitas anak asuh Bernardo Tavares ini jauh lebih baik ketimbang Arema FC, Persik Kediri, maupun Madura United yang masih terseok-seok menghadapi ancaman degradasi.
Keterpurukan klub Jatim di Persebaya Surabaya Super League musim ini terlihat nyata dari statistik. Arema FC masih tertahan di posisi ke-11 dengan pertahanan yang rapuh. Persik Kediri lebih parah dengan catatan kebobolan 45 gol, sementara Madura United berada di bibir jurang degradasi pada posisi ke-16. Praktis, hanya Persebaya yang mampu menjaga jarak aman dari zona merah, meskipun sembilan hasil imbang yang mereka raih menjadi penghambat utama untuk menembus posisi lima besar.
Polemik Penutupan Tribun Utara Stadion GBT
Namun, di tengah perjuangan menjadi suar harapan Jawa Timur, internal Persebaya justru diterjang kabar miring. Manajemen Persebaya secara mengejutkan memutuskan untuk menutup Tribun Utara (Curva Nord) Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) hingga akhir musim 2025-2026. Keputusan ini merupakan buntut dari insiden penyalaan petasan dan kembang api saat laga kandang melawan Persib Bandung pada 2 Maret 2026 lalu.
Keputusan sepihak ini langsung direspons keras oleh kelompok suporter Green North 27. Melalui pernyataan resmi pada Kamis, 12 Maret 2026, mereka menyayangkan ketiadaan dialog antara manajemen dan suporter. Green North 27 menilai manajemen telah mengabaikan prinsip fairness dan melakukan hukuman kolektif yang dianggap tidak proporsional.
"Hukuman kolektif tanpa dialog bukanlah solusi. Menyamaaratakan kesalahan tanpa kajian yang proporsional bukanlah keputusan yang layak," tulis Green North 27 dalam pernyataan resminya. Mereka juga mempertanyakan dasar penutupan hingga akhir musim, mengingat keputusan Komdis PSSI sebenarnya hanya menjatuhkan hukuman penutupan tribun untuk satu laga kandang serta denda materi sebesar Rp250 juta.
Dampak Finansial dan Atmosfer Pertandingan
Penutupan sektor paling berisik di GBT ini diprediksi akan merugikan Persebaya dari berbagai sisi. Secara teknis, absennya 8.000 suporter vokal di Tribun Utara akan mengurangi tekanan mental bagi tim lawan sekaligus menghilangkan energi tambahan bagi para pemain Bajul Ijo saat bertanding di kandang. Padahal, dukungan militan dari tribun utara selama ini dikenal sebagai "nyawa" yang membuat GBT menjadi angker bagi tim tamu.
Tak hanya soal atmosfer, aspek finansial klub juga terancam tergerus. Dengan kapasitas Tribun Utara yang mencapai 8.000 kursi, potensi pendapatan dari penjualan tiket dipastikan hilang dalam sisa laga kandang musim ini. Manajemen Persebaya kini dihadapkan pada pilihan sulit: menegakkan kedisiplinan demi menghindari denda PSSI yang membengkak, atau merangkul kembali suporter demi menjaga stabilitas tim di papan atas.
Kini, beban berat berada di pundak manajemen dan pemain. Sebagai harapan terakhir Jawa Timur di kompetisi kasta tertinggi, Persebaya Surabaya harus segera meredam gejolak internal agar konsentrasi di lapangan tidak terganggu. Jika komunikasi antara klub dan tribun utara tidak segera membaik, langkah Bajul Ijo untuk mengakhiri musim di papan atas dipastikan akan semakin terjal.
Editor : Natasha Eka Safrina