MALANG - Arema FC kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan soal hasil pertandingan, melainkan aksi solidaritas melalui peluncuran jersey keempat yang penuh makna. Jersey anyar tersebut tidak sekadar menjadi identitas di lapangan, tetapi juga simbol kepedulian terhadap keluarga korban tragedi.
Peluncuran jersey keempat Arema FC ini langsung mencuri perhatian Aremania. Pasalnya, klub memastikan bahwa 100 persen keuntungan bersih dari penjualan jersey akan disalurkan kepada keluarga korban secara berkelanjutan.
Manajer Store Arema FC, Cipta di Purnomo, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus solidaritas klub terhadap para korban.
“Jersey keempat ini bukan hanya tentang tampilan baru di lapangan, tetapi juga tentang kepedulian dan kebersamaan,” ujarnya.
Simbol Kepedulian dan Kebersamaan
Menurut Cipta, peluncuran jersey ini membawa pesan kuat bahwa Arema FC dan Aremania selalu berdiri bersama dalam kondisi apa pun.
Ia menambahkan, program ini bukan sekadar kegiatan sesaat. Bantuan dari penjualan jersey akan disalurkan secara merata kepada keluarga korban setiap bulan.
“Ini adalah komitmen kami. Seluruh keuntungan bersih akan kami dedikasikan untuk keluarga korban,” tegasnya.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa sepak bola tidak hanya berbicara soal kompetisi, tetapi juga kemanusiaan. Dukungan terhadap keluarga korban diharapkan bisa terus dirasakan dalam jangka panjang.
Komitmen Bantuan Berkelanjutan
Program bantuan dari jersey keempat ini dirancang agar bersifat berkelanjutan. Artinya, selama jersey tersebut masih terjual, bantuan akan terus mengalir kepada keluarga korban.
Kebijakan ini mendapat respons positif dari Aremania yang melihatnya sebagai bentuk kepedulian nyata klub terhadap tragedi yang pernah terjadi.
Dengan konsep tersebut, jersey keempat tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga nilai emosional yang kuat bagi seluruh elemen klub.
Kisah Gustavo Franca dan Pengalamannya
Di sisi lain, kabar menarik juga datang dari pemain Arema FC, Gustavo Franca. Pemain berusia 27 tahun itu membagikan pengalamannya sebelum bergabung dengan Singo Edan.
Gustavo mengaku pernah berhadapan dengan Alison Santos yang kini bermain untuk SSC Napoli.
Pertemuan tersebut terjadi saat Gustavo masih bermain di kasta ketiga Liga Brasil bersama Londrina Esporte Clube B. Sementara itu, Alison membela Figuerense FC.
“Itu terjadi sekitar dua tahun lalu. Saya berhadapan langsung dengan Alison,” ungkapnya.
Kesan terhadap Pemain Napoli
Gustavo menilai Alison sebagai pemain dengan kualitas individu yang sangat baik. Kecepatan dan kelincahannya menjadi keunggulan utama di lapangan.
Menurutnya, tidak mengherankan jika Alison mampu menembus kompetisi Eropa dan bermain di level tertinggi seperti Serie A Italia.
“Ia punya kemampuan individu yang tinggi dan sangat cepat saat membawa bola,” jelas Gustavo.
Ia juga menambahkan bahwa pemain asal Brasil umumnya mampu beradaptasi dengan gaya permainan di Italia yang lebih taktikal.
Sepak Bola dan Nilai Kemanusiaan
Peluncuran jersey keempat ini menjadi momentum penting bagi Arema FC untuk menunjukkan bahwa sepak bola lebih dari sekadar olahraga.
Melalui langkah ini, klub tidak hanya memperkuat identitas tim, tetapi juga mempererat hubungan dengan suporter dan masyarakat luas.
Aksi solidaritas tersebut diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi klub lain untuk turut menghadirkan nilai kemanusiaan dalam dunia sepak bola.
Editor : Dyah Wulandari