MALANG - Arema FC kembali dihantam badai cedera pada musim 2025-2026. Kondisi ini memperpanjang tren buruk dalam dua musim terakhir, di mana selalu ada tiga pemain yang harus mengakhiri kompetisi lebih cepat akibat cedera serius.
Masalah utama yang dialami Arema FC hampir serupa, yakni cedera lutut dan tulang yang memaksa pemain menjalani operasi. Situasi ini jelas mengganggu stabilitas tim yang tengah berupaya bangkit di kompetisi.
Pada musim ini, nama pertama yang harus menepi adalah Ahmad Maulana. Ia mengalami cedera saat kompetisi baru berjalan tiga pekan dan harus segera naik meja operasi.
Tiga Pemain Cedera, Lini Belakang Terguncang
Setelah Ahmad Maulana, giliran bek asal Brasil Luis Gustavo yang mengalami cedera lutut jelang putaran pertama berakhir. Kehilangan ini menjadi pukulan telak karena ia merupakan bagian penting di lini pertahanan.
Belum sempat pulih dari situasi tersebut, Arema FC kembali mendapat kabar buruk. Pemain pengganti Luis, yakni Walison Maya, juga mengalami cedera serupa.
Padahal, Walison baru didatangkan pada bursa transfer paruh musim untuk menambal kekosongan di lini belakang. Namun nasib berkata lain, ia justru harus mengikuti jejak rekannya naik meja operasi.
Marcos Santos: Cedera Adalah Risiko
Pelatih Arema FC, Marcos Santos, mengakui bahwa situasi ini sangat merugikan tim. Meski demikian, ia menilai cedera merupakan risiko yang tidak bisa dihindari dalam sepak bola.
“Tentu kami kehilangan mereka. Namun ini sebuah risiko dan tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi,” ujarnya.
Absennya tiga pemain tersebut, terutama di sektor pertahanan, membuat permainan tim menjadi tidak stabil. Rotasi pemain yang terpaksa dilakukan juga berdampak pada performa di lapangan.
Dejavu Musim Lalu Kembali Terjadi
Jika menilik ke belakang, kondisi ini seperti mengulang kejadian musim 2024-2025. Saat itu, tiga pemain juga mengalami cedera parah hingga harus menjalani operasi.
Baca Juga: Persib Puncak Klasemen Usai Imbang Lawan Borneo FC, Bojan Hodak Liburkan Tim Saat Lebaran
Mereka adalah Dafa Fahish, Syaiful Anwar, dan Pablo Oliveira.
Bedanya, dua pemain lokal yakni Dafa dan Syaiful bukan pilihan utama, sehingga dampaknya tidak terlalu terasa. Namun ketika Pablo Oliveira cedera, lini tengah Arema langsung goyah.
Gelandang asal Brasil tersebut memiliki peran vital sebagai penghubung antara lini belakang dan depan. Kehilangannya membuat alur permainan tidak berjalan maksimal.
Performa Tim Ikut Terganggu
Dampak dari badai cedera tersebut sangat terasa pada hasil akhir musim lalu. Arema FC hanya mampu finis di posisi ke-10, jauh dari target manajemen yang ingin bersaing di papan atas.
Musim ini, harapan untuk bangkit kembali diuji dengan situasi serupa. Cedera pemain inti membuat tim kembali kesulitan menjaga konsistensi permainan.
Jika tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin Singo Edan kembali terjebak di papan tengah klasemen.
Manajemen Dinilai Lebih Humanis
Di tengah situasi sulit, manajemen Arema FC mendapat apresiasi karena tetap menunjukkan sikap humanis terhadap pemain cedera.
Salah satunya terlihat dari kasus Dafa Fahish yang tetap dipertahankan hingga kontraknya habis meski mengalami cedera sejak pramusim. Ia tidak diperpanjang bukan karena cedera, melainkan kebutuhan tim akan pemain yang lebih berpengalaman.
Sementara itu, Syaiful Anwar bahkan sempat menjalani dua kali operasi selama membela Arema dalam tiga musim.
Peluang Kembali Musim Depan
Untuk musim ini, Ahmad Maulana, Luis Gustavo, dan Walison Maya masih tercatat sebagai bagian dari tim. Nasib mereka ke depan akan ditentukan berdasarkan kebutuhan pelatih.
Di sisi lain, Pablo Oliveira yang sempat cedera pada 2025 kini sudah pulih dan mulai kembali mendapatkan kesempatan bermain.
Kontrak Luis Gustavo dan Walison Maya sendiri akan berakhir di akhir musim. Jika masih dibutuhkan, bukan tidak mungkin keduanya kembali berseragam Arema FC.
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi tim untuk bangkit, sekaligus mengakhiri siklus buruk cedera yang terus berulang dalam dua musim terakhir.
Editor : Dyah Wulandari