JAKARTA – Sebuah badai besar tengah mengguncang jagat sepak bola Italia. Klub kecil dari pinggiran Danau Como yang kini menjelma menjadi kekuatan baru, Como 1907 milik Grup Djarum, mendadak menjadi pusat kontroversi. Bukan karena prestasi promosinya yang mengejutkan, melainkan karena tuduhan serius dari petinggi kasta tertinggi sepak bola Italia (Serie A) yang menyebut kebijakan transfer klub tersebut sebagai "parasit" yang tengah menggerogoti masa depan Timnas Italia, Gli Azzurri.
Kemarahan Bos Serie A meledak di depan media setelah melihat manuver Como 1907 milik Grup Djarum yang sangat agresif mengimpor pemain muda berbakat dari Argentina, Spanyol, hingga Kroasia. Di tengah krisis talenta lokal yang membuat Italia terancam gagal melaju ke Piala Dunia 2026, Como dituding egois. Mereka disebut hanya memanfaatkan tanah Italia sebagai etalase bisnis untuk mencetak pemain bintang non-Italia, lalu menjualnya demi keuntungan finansial tanpa memberikan kontribusi bagi kejayaan tim nasional setempat.
Dominasi Como 1907 milik Grup Djarum yang kini nangkring di posisi kelima klasemen sementara Serie A dianggap sebagai penghinaan bagi tradisi lama Italia. Para raksasa liga yang mulai gemetar melihat kekuatan uang baru dari Asia ini mulai melancarkan serangan verbal, mempertanyakan apakah investor asal Indonesia ini sedang membangun revolusi sepak bola atau justru merusak ekosistem talenta lokal dari dalam di tengah keterpurukan prestasi nasional mereka.
Krisis Timnas Italia dan Pabrik Talenta yang Sekarat
Untuk memahami kemarahan publik Italia, kita harus melihat potret buram Timnas mereka saat ini. Negara pengoleksi empat trofi Piala Dunia itu kini dihantui trauma besar setelah gagal lolos pada edisi 2018 dan 2022. Kini, di tahun 2026, alarm bahaya kembali berbunyi setelah Italia kalah bersaing dengan Norwegia di babak kualifikasi dan harus menjalani partai hidup-mati melawan Irlandia Utara demi tiket turnamen paling bergengsi di dunia.
Legenda Inter Milan, Marco Materazzi, menyebut Italia telah kehilangan "pabrik" talenta kelas dunia. "Kita tidak lagi punya belasan lapangan latihan yang memproduksi pemain kelas dunia," ujarnya dengan nada putus asa. Di tengah situasi Italia yang sedang "sekarat" mencari penyelamat, Como 1907 justru tampil sebagai fenomena yang terlihat tidak peduli dengan nasib negara tempat mereka bernaung. Alih-alih membina pemain lokal, tulang punggung keberhasilan Como justru terletak pada legiun asing muda.
Strategi Transfer Djarum: Nico Paz Hingga Penerus Modric
Keberhasilan Como duduk di papan atas Serie A musim ini memang didorong oleh rekrutmen pemain muda internasional yang brilian. Ada Nico Paz yang didatangkan dari Real Madrid sebagai permata masa depan Argentina, Jesus Rodriguez dari Spanyol, hingga Martin Baturina dari Kroasia yang digadang-gadang sebagai penerus sejati Luka Modric. Bagi petinggi liga, ini adalah bentuk egoisme profesional yang hanya mengejar kenaikan harga pasar pemain asing.
Menariknya, para pengamat di Italia mulai mengaitkan pola pengembangan Como dengan apa yang terjadi di sepak bola Indonesia. Muncul teori konspirasi yang menyebut bahwa kebijakan Grup Djarum di Italia sangat mirip dengan langkah PSSI yang gencar melakukan naturalisasi pemain keturunan untuk mendongkrak prestasi secara instan. Keduanya dianggap menggunakan "jalan pintas" dan tidak lagi percaya pada proses pembinaan akar rumput negara yang bersangkutan demi kemenangan cepat.
Jawaban Menohok Cesc Fabregas: Perbaiki Mentalitas Kalian!
Menanggapi tuduhan tersebut, pelatih Como 1907 sekaligus legenda hidup sepak bola dunia, Cesc Fabregas, memberikan jawaban yang sangat pedas dan menohok. Ia tidak membantah bahwa timnya minim pemain lokal, namun ia justru menunjuk hidung balik sistem kepelatihan di Italia yang dianggap kolot, konservatif, dan tidak berani memberi waktu bagi pemain muda untuk berkembang.
"Di Italia, jika seorang pemain muda melakukan satu kesalahan kecil, kalian langsung menghakiminya dan membuangnya ke bangku cadangan," tegas Fabregas dengan nada tajam. Ia membela kebijakan Grup Djarum dengan menjelaskan bahwa pemain dipilih berdasarkan kualitas teknis dan kecocokan taktik, bukan paspor. Fabregas seolah memberikan pelajaran bagi seluruh otoritas liga untuk berhenti menyalahkan investor dari Indonesia dan mulai memperbaiki sistem kepelatihan serta mentalitas mereka sendiri yang sudah ketinggalan zaman.
Ketegangan antara Como 1907 dan otoritas Serie A menjadi bukti nyata bahwa kekuatan finansial dari Nusantara telah mengguncang tatanan lama sepak bola Eropa. Revolusi sepak bola yang dipicu tangan dingin dari Nusantara ini telah mengubah Danau Como menjadi medan perang ideologi sepak bola modern yang melampaui batas negara. Apakah Como akan terus melaju hingga kompetisi Eropa musim depan dan membuktikan model bisnis mereka benar? Publik kini menanti kelanjutan drama eksklusif ini.
Editor : Natasha Eka Safrina