JAKARTA – Sepak bola modern bukan lagi sekadar olahraga, melainkan instrumen investasi global yang kini dikuasai oleh tangan-tangan dingin pengusaha Nusantara. Tak sedikit konglomerat Indonesia memiliki klub sepak bola di liga-liga terbaik dunia, mulai dari kasta tertinggi Italia hingga kompetisi bersejarah di Inggris dan Belgia. Fenomena ini membuktikan bahwa kekuatan finansial dari Indonesia telah diakui secara internasional dalam membangun ekosistem olahraga yang profesional dan kompetitif.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah manuver grup bisnis raksasa yang menempatkan nama Indonesia di peta sepak bola Italia. Melalui visi jangka panjang, para konglomerat Indonesia memiliki klub yang mampu bangkit dari keterpurukan hingga menjadi kekuatan baru yang disegani. Langkah ini tidak hanya soal gengsi, tetapi juga tentang manajemen aset strategis yang mampu mengubah klub kecil menjadi magnet bagi bintang-bintang dunia.
Kehadiran para pemilik asal Indonesia di kancah Eropa ini juga membuka pintu bagi talenta muda tanah air untuk mencicipi atmosfer kompetisi profesional di luar negeri. Dengan jaringan global yang dimiliki, para konglomerat Indonesia memiliki klub tersebut sebagai jembatan diplomasi olahraga, sekaligus membuktikan bahwa standar manajerial pengusaha kita mampu bersaing dengan taipan-taipan global lainnya.
Dominasi Grup Djarum di Italia: Kebangkitan Como 1907
Nama Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono melalui Grup Djarum menjadi sorotan dunia saat mengakuisisi Como 1907 pada tahun 2019. Melalui SENT Entertainment Ltd, mereka mengambil alih klub yang saat itu sedang terpuruk akibat kebangkrutan. Di bawah kepemilikan orang terkaya di Indonesia ini, Como 1907 mengalami transformasi radikal dan berhasil menembus kasta tertinggi sepak bola Italia.
Kehadiran Grup Djarum membawa magnet luar biasa bagi tokoh sepak bola dunia. Nama-nama besar seperti Cesc Fabregas tidak hanya bergabung sebagai pemain pada 2022, tetapi kini juga menjabat sebagai pelatih. Bahkan, legenda Arsenal, Thierry Henry, ikut bergabung sebagai salah satu pemegang saham. Como kini bukan lagi sekadar klub kecil di pinggiran danau, melainkan fenomena industri yang mengguncang Serie A.
Erick Thohir dan Ekspansi di Tanah Inggris
Menteri BUMN sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memiliki rekam jejak yang sangat panjang dalam kepemilikan klub internasional. Saat ini, Erick tercatat sebagai salah satu pemilik saham Oxford United, klub yang berlaga di kompetisi liga Inggris. Oxford United menjadi bagian dari portofolio investasi olahraga Erick yang sangat prestisius.
Sebelum fokus di Oxford, Erick Thohir pernah mengukir sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Presiden Inter Milan, salah satu klub raksasa di Italia. Ia juga pernah memiliki saham mayoritas di klub MLS Amerika Serikat, DC United. Pengalaman global inilah yang kini ia bawa untuk merevolusi sepak bola Indonesia agar memiliki standar manajemen yang setara dengan klub-klub di Eropa.
Grup Bakrie dan Santini Group: Jejak di Belgia serta Inggris
Keluarga Bakrie melalui Bakrie Group juga tidak ketinggalan dalam peta persaingan sepak bola Eropa. Mereka merupakan pemilik dari klub Belgia, Cercle Sportif (C.S.) Vise. Klub yang bermarkas di kota Vise ini menjadi sangat populer di tanah air karena sering menjadi destinasi bagi pemain-pemain muda berbakat Indonesia untuk menimba ilmu dan memulai karier profesional mereka di Benua Biru.
Sementara itu, Wanandi Bersaudara melalui Santini Group juga menancapkan kuku di Inggris. Sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, Sofjan Wanandi bersama keluarganya membeli saham Tranmere Rovers, klub yang berkompetisi di League Two Inggris. Investasi di Tranmere Rovers ini menunjukkan bahwa pengusaha Indonesia memiliki minat yang besar terhadap nilai sejarah dan potensi komersial dari sistem liga sepak bola di Inggris yang sangat terstruktur.
Fenomena kepemilikan klub luar negeri oleh pengusaha Nusantara ini merupakan bukti nyata bahwa Indonesia telah menjadi pemain penting dalam ekonomi sepak bola global. Dengan tangan dingin para konglomerat ini, klub-klub yang awalnya terpuruk kini kembali bersinar di panggung dunia.
Editor : Natasha Eka Safrina