Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Terungkap ! Daftar Taipan dan Politisi di Balik Klub Liga 1, Sepak Bola Indonesia Jadi Arena Kekuasaan Baru

Muhamad Ahsanul Wildan • Selasa, 24 Maret 2026 | 21:10 WIB
Daftar taipan pemilik klub Liga 1 mengungkap kuatnya pengaruh politik dan bisnis dalam sepak bola Indonesia.
Daftar taipan pemilik klub Liga 1 mengungkap kuatnya pengaruh politik dan bisnis dalam sepak bola Indonesia.

TRENGGALEK NJENGGELEK - Daftar taipan pemilik klub Liga 1 tak hanya mencerminkan kekuatan ekonomi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sepak bola Indonesia menjadi arena baru bagi pengaruh politik dan kekuasaan.

Daftar taipan pemilik klub Liga 1 kini menjadi perbincangan hangat, terutama setelah kabar mundurnya Azrul Ananda dari posisi CEO Persebaya Surabaya.

Peristiwa ini membuka kembali diskusi tentang siapa sebenarnya aktor di balik layar klub-klub besar Indonesia.

Sejak lama, sepak bola nasional memang tak bisa dipisahkan dari kepentingan bisnis dan politik.

Kini, dalam era industri olahraga, keterlibatan elite semakin terang-terangan.

Baca Juga: Rahasia Persib Bandung Stabil dan Profesional, Ternyata Ini Peran Pemilik Persib Bandung Rp30 Triliun di Balik Layar

Persebaya dan Dinasti Media

Persebaya Surabaya menjadi salah satu contoh keterkaitan antara media, bisnis, dan sepak bola.

Klub ini dimiliki oleh PT Jawa Pos Sportainment yang terafiliasi dengan grup media besar.

Azrul Ananda, sebagai anak dari Dahlan Iskan, membawa warna tersendiri dalam pengelolaan klub.

Namun, mundurnya ia memunculkan pertanyaan besar, apakah ada perubahan arah kepentingan di balik layar ?

Persija dan Jejak Politik

Di Jakarta, Persija bukan sekadar klub sepak bola. Kepemilikan yang terhubung dengan Bakrie Group menunjukkan adanya relasi kuat dengan dunia politik.

Beberapa nama dalam struktur manajemen memiliki latar belakang politik, termasuk tokoh dari partai besar.

Hal ini memperkuat dugaan bahwa sepak bola bisa menjadi alat konsolidasi pengaruh.

Baca Juga: Glenn Sugita dan Persib Bandung, Rahasia Stabilitas Klub, dari Konglomerat Investasi hingga Arsitek Finansial Maung Bandung

Jaringan Global dan Elite Ekonomi

Keterlibatan Northstar Group dalam Persib Bandung dan Bali United menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia juga menarik perhatian investor global.

Relasi keluarga dan bisnis antara tokoh-tokoh elite semakin memperjelas bahwa kepemilikan klub tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari jaringan kekuasaan yang lebih luas.

Konglomerat Daerah dan Pengaruh Lokal

Di daerah, klub-klub seperti PSM Makassar dan Barito Putera menjadi simbol kekuatan ekonomi lokal.

Namun, keterlibatan tokoh yang juga aktif di politik memperlihatkan adanya irisan kepentingan.

Hasnuryadi Sulaiman di Barito Putera dan Munafri Arifuddin di PSM Makassar adalah contoh figur yang berada di dua dunia sekaligus, bisnis dan politik.

Baca Juga: Glen Sugita dan Kekayaan Fantastis di Balik Persib Bandung, Sosok Pengusaha yang Ubah Maung Bandung Jadi Klub Mandiri !

PSS Sleman dan Jejak Korporasi Tambang

PSS Sleman menunjukkan bagaimana sektor industri ekstraktif juga masuk ke sepak bola.

Keterkaitan dengan Medco Group menegaskan bahwa klub sepak bola bisa menjadi bagian dari strategi ekspansi korporasi besar.

Madura United, Antara Bisnis dan Negara

Madura United di bawah Ahsanul Qosasi juga menarik perhatian. Selain sebagai pengusaha, ia memiliki rekam jejak sebagai pejabat publik.

Kombinasi ini membuat klub tidak hanya kuat secara finansial, tetapi juga memiliki akses luas ke jaringan kekuasaan.

Sepak Bola Sebagai Alat Pengaruh

Fenomena daftar taipan pemilik klub Liga 1 menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia telah melampaui fungsi olahraga.

Ia kini menjadi alat strategis untuk membangun citra, memperluas jaringan, hingga memperkuat posisi politik.

Meski membawa dampak positif dalam hal pendanaan dan profesionalisme, kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran akan independensi klub dan kompetisi yang fair.

Transparansi, regulasi yang ketat, serta pengawasan publik menjadi penting agar sepak bola tidak sepenuhnya dikuasai oleh kepentingan elite.

Baca Juga: Persib Bandung Berubah Total ! Peran Glen Sugita Bikin Maung Bandung Lepas dari APBD dan Jadi Klub Profesional

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#taipan klub Liga 1 #politik sepak bola Indonesia #kepemilikan klub #konglomerat Indonesia #bisnis sepak bola