TRENGGALEK NJENGGELEK - Jejak konglomerat di sepak bola Indonesia semakin terlihat nyata.
Dalam beberapa tahun terakhir, kepemilikan klub tidak lagi sekadar soal hobi atau kecintaan terhadap olahraga, melainkan telah menjadi bagian dari strategi bisnis dan bahkan kepentingan politik.
Fenomena ini kembali mencuat setelah kabar mundurnya Azrul Ananda dari kepemilikan Persebaya Surabaya.
Kabar tersebut langsung menyedot perhatian publik, mengingat Persebaya merupakan salah satu klub besar dengan basis suporter masif di Indonesia.
Sejak 2017, Persebaya berada di bawah naungan PT Persebaya Indonesia, dengan 70 persen saham dimiliki oleh PT Jawa Pos Group.
Azrul Ananda, sebagai pemegang kendali, memainkan peran penting dalam mengelola klub berjuluk Bajul Ijo tersebut.
Meski kini melepas kepemilikan, ia disebut masih akan menyelesaikan proses administrasi hingga tuntas.
Kepemilikan Klub oleh Konglomerat
Fenomena konglomerasi juga terlihat di ibu kota. Persija Jakarta, klub dengan sejarah panjang, diketahui berada di bawah pengaruh Bakrie Group.
Kepemilikan ini awalnya tidak terlalu terlihat, karena menggunakan perusahaan perantara.
Namun, setelah Persija menjuarai Liga 1 2018, keterlibatan kelompok bisnis besar tersebut mulai terungkap ke publik.
Sejumlah nama dari lingkaran Bakrie kemudian muncul dalam struktur direksi dan komisaris klub.
Hal serupa juga terjadi pada Persib Bandung dan Bali United. Kedua klub ini memiliki keterkaitan dengan Northstar Group, perusahaan investasi berbasis di Singapura.
Persib lebih dulu mendapatkan suntikan dana sejak 2009, sementara Bali United berkembang pesat sejak berdiri pada 2015.
Bali United bahkan mencatat sejarah sebagai klub pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek.
Hal ini menandai transformasi sepak bola dari sekadar olahraga menjadi entitas bisnis profesional.
Klub Daerah Tak Kalah Kuat
Tidak hanya klub besar di Jawa, dominasi konglomerat juga menjangkau daerah.
PSM Makassar, misalnya, berada di bawah kendali Bosowa Group. Perusahaan ini dikenal luas di sektor industri semen dan memiliki jaringan bisnis yang kuat di kawasan timur Indonesia.
Struktur manajemen PSM pun diisi oleh tokoh-tokoh yang memiliki hubungan langsung dengan grup tersebut.
Ini menunjukkan bahwa keterlibatan konglomerat tidak hanya pada level investasi, tetapi juga dalam pengambilan keputusan strategis.
Barito Putera di Kalimantan Selatan juga berada di bawah Hasnur Group.
Perusahaan keluarga ini memiliki bisnis yang mencakup pertambangan, kehutanan, hingga transportasi.
Klub menjadi bagian dari ekspansi brand sekaligus penguatan identitas daerah.
Sementara itu, PSS Sleman dikaitkan dengan jaringan perusahaan yang berafiliasi dengan sektor tambang besar nasional.
Kepemilikan saham mayoritas menunjukkan bahwa industri ekstraktif pun turut masuk dalam ekosistem sepak bola.
Sepak Bola Jadi Instrumen Bisnis
Kondisi ini menegaskan bahwa sepak bola Indonesia telah memasuki era industri.
Klub tidak lagi hanya berfungsi sebagai simbol daerah, tetapi juga sebagai aset bisnis yang menjanjikan.
Pendapatan dari sponsor, hak siar, hingga penjualan merchandise menjadi daya tarik utama bagi para investor besar.
Selain itu, popularitas klub juga bisa dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh, baik secara ekonomi maupun politik.
Meski demikian, fenomena ini tidak lepas dari pro dan kontra. Di satu sisi, masuknya konglomerat mampu meningkatkan profesionalisme klub.
Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa sepak bola kehilangan identitas lokalnya.
Ke depan, transparansi dan tata kelola menjadi kunci agar industri sepak bola Indonesia tetap sehat.
Tanpa itu, dominasi konglomerat bisa berpotensi menimbulkan konflik kepentingan yang merugikan perkembangan olahraga itu sendiri.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan