TRENGGALEK NJENGGELEK - Como 1907 bangkit drastis setelah diakuisisi Grup Jarum pada 2019.
Klub yang sempat terpuruk di kasta terbawah sepak bola Italia itu kini sukses menembus Serie A dan bahkan finis di posisi ke-10 musim 2024-2025.
Perjalanan Como 1907 bangkit drastis ini menjadi salah satu kisah paling menarik di sepak bola Eropa.
Dari klub yang pernah bangkrut hingga menjadi entitas modern dengan manajemen profesional, transformasi ini tak lepas dari strategi bisnis jangka panjang yang diterapkan Grup Jarum.
Como 1907 bangkit drastis bukan hanya karena performa di lapangan, tetapi juga perubahan total dalam pengelolaan klub.
Dalam waktu lima tahun, mereka menjelma dari tim “yoyo” menjadi klub stabil dengan fondasi kuat.
Dari Bangkrut ke Harapan Baru
Didirikan pada 1907, Como bukan nama asing di Italia. Namun, klub ini lebih sering dikenal sebagai tim yang naik turun kasta.
Puncak keterpurukan terjadi pada 2004 saat mereka bangkrut akibat krisis finansial.
Setelah itu, Como harus memulai dari nol di Serie D. Pergantian manajemen dan ketidakjelasan arah membuat klub ini sulit berkembang.
Upaya kebangkitan sempat muncul pada 2017, namun hasilnya belum maksimal.
Titik balik terjadi pada April 2019 ketika perusahaan yang didukung Grup Jarum mengakuisisi klub.
Sejak saat itu, Como mulai dibangun ulang dengan pendekatan profesional.
Strategi Modern ala Korporasi
Manajemen baru langsung menanamkan prinsip stabilitas keuangan dan investasi jangka panjang.
Mereka membangun akademi, memperbaiki struktur pelatih, serta mengembangkan infrastruktur stadion dan fasilitas latihan.
Tidak ada pendekatan instan seperti membeli pemain mahal. Sebaliknya, Como fokus pada sistem yang berkelanjutan.
Hasilnya terlihat cepat. Dari Serie D musim 2018-2019, Como langsung promosi ke Serie C.
Dua musim kemudian, mereka menjuarai Serie C dan naik ke Serie B. Puncaknya, pada musim 2023-2024, Como finis sebagai runner-up Serie B dan promosi ke Serie A.
Peran Investor dan Nama Besar
Kesuksesan Como juga didukung kehadiran figur besar sepak bola dunia seperti Thierry Henry, Cesc Fabregas, dan Raphael Varane sebagai investor.
Fabregas bahkan terlibat langsung sebagai pemain, lalu pelatih. Pada Juli 2024, ia resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala dengan kontrak empat tahun.
Gaya bermain yang ia terapkan menekankan penguasaan bola, pressing kolektif, dan permainan modern. Ia juga diberi peran besar dalam rekrutmen pemain dan strategi tim.
Kejutan di Serie A
Sebagai tim promosi, Como tampil mengejutkan di musim 2024-2025. Mereka finis di posisi ke-10 klasemen dengan 49 poin dari 13 kemenangan, 10 imbang, dan 15 kekalahan.
Capaian ini melampaui ekspektasi banyak pihak. Como mampu bersaing dengan klub mapan dan menunjukkan konsistensi permainan sepanjang musim.
Gaya bermain mereka yang agresif dan efisien menjadi identitas baru. Bahkan saat kalah, Como tetap menunjukkan struktur permainan yang jelas.
Bukan Sekadar Klub, Tapi Mesin Bisnis
Di balik performa impresif, Como juga dibangun sebagai entitas bisnis modern.
Klub ini tidak bergantung pada utang, melainkan pada penyertaan modal dan pengelolaan berbasis data.
Stadion Como disulap menjadi pusat gaya hidup dengan rencana pembangunan restoran, area komersial, hingga fasilitas hiburan.
Pendapatan klub tidak hanya berasal dari tiket dan hak siar, tetapi juga dari lini bisnis lain seperti merchandise dan kuliner.
Target jangka panjangnya ambisius, yakni mencapai valuasi hingga 1 miliar dolar. Bahkan tawaran akuisisi senilai 100 juta euro disebut telah ditolak.
Model Klub Masa Depan
Como 1907 kini dipandang sebagai model klub masa depan. Mandiri secara finansial, modern dalam manajemen, dan adaptif dalam bisnis.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sepak bola tidak lagi sekadar soal prestasi di lapangan.
Dengan strategi yang tepat, klub kecil pun bisa menjelma menjadi kekuatan baru.
Dari Kudus ke Italia, jejak Grup Jarum melalui Como 1907 menunjukkan bahwa profesionalisme dan visi jangka panjang mampu mengubah sejarah sebuah klub.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan