RADAR TRENGGALEK - Nama Veda Ega Pratama kini bukan lagi sekadar pelengkap di ajang Moto3 musim 2026. Pembalap muda asal Gunungkidul itu justru menjadi sorotan media internasional, terutama dari Spanyol yang dikenal sebagai kiblat balap motor dunia.
Sorotan terhadap Veda Ega Pratama semakin menguat setelah performa impresifnya di dua seri awal Moto3 2026. Ia berhasil finis kelima di Buriram dan meraih podium ketiga di Brasil. Hasil tersebut mengubah persepsi banyak pengamat yang sebelumnya hanya menganggapnya sebagai rookie biasa.
Media Eropa bahkan mulai melabeli Veda Ega Pratama sebagai rookie paling berbahaya musim ini. Status tersebut tentu menjadi tekanan tersendiri, mengingat ia harus bersaing dengan pembalap-pembalap berpengalaman yang sudah lama mendominasi kelas ini.
Adaptasi Cepat Jadi Kunci Utama
Salah satu kekuatan utama Veda Ega Pratama yang banyak disorot adalah kemampuan adaptasinya terhadap sirkuit baru. Meski belum pernah menjajal Circuit of the Americas (COTA) di Texas, ia dinilai mampu cepat menemukan ritme balap.
Hal ini terlihat jelas saat balapan di Brasil, di mana ia langsung kompetitif sejak sesi latihan bebas. Kemampuan membaca karakter lintasan, menentukan titik pengereman, serta memilih racing line yang optimal menjadi keunggulan tersendiri.
Dengan kemampuan tersebut, Veda tetap dijagokan meskipun harus menghadapi sirkuit Austin yang terkenal sangat teknikal.
Tantangan Berat di Sirkuit Austin
Circuit of the Americas dikenal sebagai salah satu lintasan paling sulit di kalender Moto3. Trek ini memiliki 20 tikungan dengan variasi elevasi yang ekstrem serta permukaan aspal yang bergelombang.
Kondisi tersebut menuntut kekuatan fisik dan konsistensi tinggi dari setiap pembalap. Risiko arm pump atau kelelahan otot lengan juga menjadi ancaman serius, terutama saat pengereman keras.
Tim teknis Honda Team Asia pun fokus pada pengaturan suspensi untuk meredam getaran aspal. Tujuannya agar Veda tetap stabil dan tidak cepat kelelahan selama balapan berlangsung.
Mental Tanding di Barisan Depan
Selain kemampuan teknis, kematangan mental Veda Ega Pratama juga menjadi sorotan. Pada balapan di Brasil, ia menunjukkan ketenangan luar biasa saat duel sengit di lap terakhir.
Alih-alih terburu-buru, Veda memilih menunggu momentum yang tepat sebelum melakukan manuver. Strategi late braking yang presisi menjadi kunci keberhasilannya meraih podium.
Pendekatan ini dinilai jarang dimiliki pembalap muda yang biasanya cenderung agresif tanpa perhitungan matang.
Performa Motor Semakin Kompetitif
Motor NSF250RW yang digunakan Veda juga menunjukkan peningkatan signifikan. Tim yang dipimpin Hiroshi Aoyama berhasil menemukan setting yang seimbang antara kecepatan dan kelincahan.
Hal ini sangat penting di COTA yang memiliki trek lurus panjang sekaligus tikungan tajam. Jika performa mesin tetap konsisten, peluang Veda untuk kembali naik podium bahkan meraih kemenangan terbuka lebar.
Duel Rookie of the Year Memanas
Persaingan gelar Rookie of the Year Moto3 2026 juga semakin menarik. Veda Ega Pratama bersaing ketat dengan beberapa nama besar seperti Maximo Quiles dan Marco Morelli.
Keunggulan Veda terletak pada konsistensinya dalam meraih poin. Sementara rivalnya kerap tampil inkonsisten akibat gaya balap yang terlalu agresif.
Seri Amerika akan menjadi penentu penting dalam perebutan gelar rookie terbaik musim ini.
Harapan Besar dari Indonesia
Keberhasilan Veda Ega Pratama membawa dampak besar bagi dunia motorsport Indonesia. Ia menjadi pembalap Indonesia pertama yang mampu meraih podium di Moto3.
Prestasi tersebut memicu antusiasme tinggi dari penggemar balap tanah air. Veda kini tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa harapan jutaan pendukung.
Jika mampu mempertahankan performa, bukan tidak mungkin ia akan menjadi ikon baru motorsport Indonesia di kancah dunia.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula