TRENGGALEK NJENGGELEK - Nama John Herdman mulai mencuat sebagai sosok pelatih yang dinilai tepat untuk membawa Timnas Indonesia melangkah lebih jauh, bahkan menembus Piala Dunia edisi berikutnya.
Pengalaman panjang dan rekam jejaknya yang impresif menjadi alasan utama mengapa sosok ini dianggap layak memimpin skuad Garuda.
Herdman bukan pelatih sembarangan. Ia memulai karier kepelatihannya sejak 2003 bersama timnas putri Selandia Baru.
Di sana, ia sukses mengantarkan timnya tampil di Piala Dunia 2007 dan 2011 serta Olimpiade 2008.
Kariernya semakin bersinar saat menangani Kanada, di mana ia mempersembahkan dua medali perunggu Olimpiade untuk tim putri sebelum akhirnya dipercaya melatih tim putra pada 2018.
Prestasi terbesar Herdman datang saat ia berhasil membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022, pencapaian yang sangat bersejarah karena terakhir kali mereka tampil di ajang tersebut adalah pada 1986.
Dengan rekam jejak tersebut, tak heran jika publik mulai menaruh harapan besar terhadap potensi kontribusinya untuk Timnas Indonesia.
Taktik Fleksibel dengan Formasi Tiga Bek
Salah satu ciri khas utama Herdman adalah penggunaan formasi tiga bek.
Ia kerap mengandalkan variasi seperti 3-4-3, 3-4-2-1, hingga 3-4-1-2. Meski terlihat fleksibel, ada satu pola yang hampir selalu konsisten, yakni penggunaan double pivot di lini tengah.
Pendekatan ini dinilai cocok dengan karakter pemain Timnas Indonesia saat ini yang sudah cukup familiar dengan skema tiga bek.
Nama-nama seperti Rizky Ridho, Jay Idzes, hingga Jordi Amat bisa menjadi pilar di lini belakang, sementara lini tengah dapat diisi oleh gelandang bertipe pekerja keras untuk menjaga keseimbangan tim.
Dalam fase build-up, Herdman mengandalkan struktur tiga bek di lini pertama dan dua gelandang di depannya.
Ia juga sering melakukan modifikasi posisi pemain, seperti melebar ke sisi sayap untuk membuka ruang bagi wingback agar lebih agresif membantu serangan.
Serangan Cepat dan Overload Sayap
Kekuatan utama lain dari taktik John Herdman adalah eksploitasi area sayap.
Dalam sistem tiga bek, peran wingback menjadi sangat vital. Mereka tidak hanya bertugas bertahan, tetapi juga menjadi motor serangan dari sisi lapangan.
Herdman kerap menerapkan strategi overload, baik di tengah maupun di sayap.
Dalam kondisi tertentu, ia bahkan bisa menumpuk hingga lima pemain di satu sisi untuk menciptakan keunggulan jumlah.
Strategi ini memungkinkan tim melakukan kombinasi umpan pendek dengan efektif.
Selain itu, ia juga menggunakan skema “overload to isolate”. Ketika lawan fokus menutup satu sisi, Herdman akan memindahkan bola ke sisi berlawanan yang kosong. Strategi ini terbukti efektif untuk membongkar pertahanan rapat.
Menariknya, peran “wide center back” juga menjadi bagian penting dalam taktiknya.
Bek tengah diberi kebebasan untuk maju membantu serangan, baik melalui overlap maupun underlap.
Pola ini sebenarnya bukan hal baru bagi pemain Indonesia, karena sudah pernah diterapkan sebelumnya.
Baca Juga: Sosok Veda Ega Pratama: Wonderkid Indonesia Pecah Rekor Moto3 2026, Dari Gunungkidul ke Podium Dunia
Adaptif dalam Bertahan
Dalam fase bertahan, Herdman dikenal sebagai pelatih yang sangat adaptif.
Ia bisa menerapkan high press untuk menekan lawan sejak awal, atau memilih bermain lebih aman dengan medium block.
Saat menggunakan high press, pemain akan melakukan penjagaan ketat dengan pendekatan man-to-man.
Namun jika situasi tidak memungkinkan, ia bisa mengubah strategi menjadi lebih defensif dengan formasi 5-4-1 atau 5-3-2.
Fleksibilitas ini menjadi nilai tambah karena memungkinkan tim beradaptasi dengan berbagai gaya permainan lawan.
Faktor Non-Taktis yang Tak Kalah Penting
Meski dikenal sebagai pelatih yang detail secara taktik, Herdman juga menekankan pentingnya hubungan emosional antara pelatih dan pemain.
Ia percaya bahwa kepercayaan dan rasa aman adalah kunci keberhasilan tim.
Pendekatan ini menjadi keunggulan tersendiri, terutama bagi Timnas Indonesia yang membutuhkan sosok pemimpin kuat di ruang ganti.
Dengan kemiripan gaya melatih dengan pelatih sebelumnya, proses adaptasi pemain diprediksi tidak akan sulit.
Hal ini bisa menjadi keuntungan besar dalam menghadapi turnamen penting seperti FIFA Series dan Piala AFF.
Kini, publik hanya tinggal menunggu apakah John Herdman benar-benar akan menjadi sosok yang mampu membawa Timnas Indonesia mencetak sejarah baru di kancah sepak bola dunia.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan