TRENGGALEK NJENGGELEK - Timnas Bulgaria kembali menjadi sorotan setelah disebut sebagai tim dengan ranking tertinggi di FIFA Series Indonesia 2026.
Namun di balik status tersebut, performa Timnas Bulgaria justru jauh dari kata meyakinkan.
Bahkan, jika melihat skuad yang dibawa ke Jakarta, sulit menemukan pemain bintang yang benar-benar menonjol.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar, bagaimana Timnas Bulgaria bisa mengalami kemerosotan sedalam ini ?
Padahal, mereka pernah menjadi salah satu kekuatan mengejutkan di kancah sepak bola dunia.
Jika menengok ke belakang, Timnas Bulgaria pernah mencatat sejarah gemilang pada Piala Dunia 1994.
Saat itu, mereka berhasil melaju hingga semifinal dan finis di peringkat keempat.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian terbaik sepanjang sejarah sepak bola Bulgaria.
Perjalanan mereka di turnamen tersebut terbilang dramatis. Setelah kalah telak 0-3 dari Nigeria di laga pembuka, Bulgaria bangkit dengan mengalahkan Yunani 4-0.
Mereka kemudian menciptakan kejutan besar dengan menumbangkan Argentina 2-0, yang saat itu diperkuat sejumlah pemain bintang.
Baca Juga: Timnas Indonesia vs Bulgaria, Waspada! 15 Menit Awal Bisa Jadi Bencana di Final FIFA Series 2026
Tak berhenti di situ, Bulgaria kembali membuat sensasi di babak perempat final dengan mengalahkan Jerman 2-1.
Namun langkah mereka akhirnya terhenti di semifinal setelah kalah dari Italia.
Meski gagal ke final, bintang mereka saat itu, Hristo Stoichkov, berhasil meraih Ballon d'Or 1994.
Awal Kemunduran Timnas Bulgaria
Setelah era keemasan tersebut, performa Timnas Bulgaria perlahan menurun.
Mereka masih sempat tampil di Euro 1996 dan Piala Dunia 1998, tetapi gagal melangkah jauh karena tersingkir di fase grup.
Harapan sempat muncul ketika generasi baru hadir, dipimpin oleh Dimitar Berbatov.
Bersama pemain seperti Stilian Petrov dan Martin Petrov, Bulgaria berhasil lolos ke Euro 2004. Namun, turnamen tersebut justru menjadi titik balik kemunduran mereka.
Di Euro 2004, Bulgaria tampil buruk tanpa meraih satu poin pun di fase grup.
Sejak saat itu, mereka tak pernah lagi tampil di turnamen besar, baik Piala Dunia maupun Piala Eropa hingga kini.
Krisis Federasi Jadi Akar Masalah
Kemerosotan Timnas Bulgaria ternyata tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis di lapangan.
Masalah terbesar justru berasal dari tubuh federasi sepak bola mereka, BFU (Bulgarian Football Union).
Selama hampir dua dekade, federasi dipimpin oleh Borislav Mihailov, yang menjabat sejak 2005 hingga 2024.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai skandal mencuat, mulai dari dugaan pengaturan skor hingga penyalahgunaan fasilitas federasi.
Salah satu kasus yang mencoreng nama Bulgaria terjadi pada 2011, ketika pertandingan persahabatan melawan Estonia diduga diatur.
Selain itu, Mihailov juga dikaitkan dengan jaringan taruhan ilegal internasional.
Masalah lain muncul pada 2019, saat terjadi kasus rasisme terhadap pemain Inggris dalam pertandingan di Sofia.
Sikap federasi yang dinilai lamban memicu kemarahan pemerintah hingga berujung pada pemotongan dana.
Meski sempat mundur, Mihailov kembali menjabat dan bahkan terpilih lagi pada 2021, mengalahkan legenda Timnas Bulgaria, Dimitar Berbatov, yang membawa misi reformasi.
Minimnya Regenerasi dan Pengembangan
Selain konflik internal, masalah lain yang memperparah kondisi Timnas Bulgaria adalah minimnya investasi di level akar rumput. Sistem pembinaan pemain muda terabaikan selama bertahun-tahun.
Akibatnya, Bulgaria kalah bersaing dengan negara-negara yang sebelumnya dianggap lebih lemah.
Akademi sepak bola tidak berkembang, sementara klub-klub lebih memilih menggunakan pemain asing dibanding membina talenta lokal.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pemain nasional yang dinilai kehilangan karakter, daya juang, dan ambisi.
Pelajaran Berharga bagi Indonesia
Kisah Timnas Bulgaria menjadi pelajaran penting bagi negara lain, termasuk Indonesia.
Bahwa kehancuran sebuah tim nasional tidak terjadi secara instan, melainkan akibat akumulasi masalah yang dibiarkan berlarut-larut.
Mulai dari tata kelola federasi yang buruk, minimnya pembinaan usia dini, hingga konflik internal, semuanya berkontribusi terhadap kemunduran prestasi.
Kini, meski masih memiliki ranking yang lebih tinggi, Timnas Bulgaria bukan lagi kekuatan yang ditakuti.
Mereka justru menjadi contoh nyata bagaimana sebuah negara bisa menghancurkan sepak bolanya sendiri.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan