TRENGGALEK NJENGGELEK – Aksi ekspresif pelatih John Herdman di pinggir lapangan saat memimpin Timnas Indonesia menuai perhatian publik. Gaya kepelatihannya yang aktif memberi instruksi sepanjang pertandingan ternyata memiliki istilah khusus dalam teori kepelatihan modern.
John Herdman terlihat tak henti-hentinya berteriak, memberi gestur, hingga mengarahkan pemain dari sisi lapangan. Fenomena ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan bagian dari metode coaching yang dikenal sebagai coaching in the run.
Dalam dunia kepelatihan sepak bola, pendekatan seperti yang ditunjukkan John Herdman pada Timnas Indonesia menjadi salah satu indikator komunikasi aktif antara pelatih dan pemain di tengah pertandingan.
Coaching in the Run: Instruksi Saat Laga Berjalan
Istilah utama yang menggambarkan aksi John Herdman adalah coaching in the run. Ini merupakan metode di mana pelatih memberikan instruksi secara langsung ketika pertandingan sedang berlangsung.
Saat bola bergerak dari satu sisi ke sisi lain, Herdman terus mengarahkan pemain dengan suara dan gestur. Tujuannya adalah menjaga struktur permainan tetap sesuai rencana taktik.
Gaya ini juga sering digunakan oleh pelatih kelas dunia seperti Pep Guardiola dan José Mourinho yang dikenal aktif di pinggir lapangan.
Namun, tidak semua pelatih memilih pendekatan ini. Ada pula yang lebih tenang seperti Ernesto Valverde, yang lebih banyak mengamati sambil mencatat jalannya pertandingan.
Coaching Interval: Instruksi Saat Jeda
Selain coaching in the run, Herdman juga menerapkan metode coaching interval. Ini adalah momen ketika pelatih memberikan arahan saat pertandingan berhenti sementara.
Contohnya saat terjadi lemparan ke dalam, pergantian pemain, atau water break. Dalam situasi ini, Herdman kerap memanggil pemain seperti Rizky Ridho untuk memberikan instruksi langsung.
Metode ini dinilai efektif karena pemain bisa menerima arahan dengan lebih fokus dibanding saat permainan berlangsung cepat.
Coaching in the Stop: Hanya di Latihan
Satu metode lain dalam teori kepelatihan adalah coaching in the stop. Namun, metode ini tidak digunakan saat pertandingan resmi.
Biasanya, pendekatan ini diterapkan saat sesi latihan. Pelatih akan menghentikan permainan untuk langsung mengoreksi kesalahan pemain. Hal ini tidak mungkin dilakukan dalam pertandingan karena permainan tidak bisa dihentikan secara sepihak.
Kelebihan dan Risiko Gaya Ekspresif
Gaya ekspresif seperti yang ditunjukkan John Herdman memang menarik perhatian. Banyak fans menilai hal ini sebagai bentuk keseriusan dan totalitas pelatih terhadap tim.
Namun dalam teori kepelatihan, penggunaan coaching in the run yang berlebihan juga memiliki risiko. Terlalu banyak instruksi bisa membuat pemain bingung dan kehilangan kreativitas di lapangan.
Karena itu, kunci utama adalah keseimbangan. Instruksi harus jelas, singkat, dan tepat sasaran agar tidak mengganggu fokus pemain.
Bukan Penentu Mutlak Kualitas Pelatih
Meski terlihat mencolok, gaya ekspresif bukan satu-satunya indikator kualitas pelatih. Baik pelatih yang aktif maupun yang tenang memiliki peluang yang sama untuk sukses.
Pendekatan ini lebih kepada preferensi dan karakter masing-masing pelatih. Yang terpenting adalah bagaimana strategi diterapkan dan hasil yang dicapai di lapangan.
Dalam kasus John Herdman, kombinasi komunikasi aktif, gestur tegas, dan kemampuan membaca situasi menjadi kekuatan tersendiri bagi Timnas Indonesia.
Jadi Sorotan Publik
Aksi Herdman di pinggir lapangan kini menjadi bahan diskusi di kalangan pecinta sepak bola nasional. Banyak yang menilai gaya tersebut mirip dengan era pelatih sebelumnya yang juga dikenal ekspresif.
Namun pada akhirnya, efektivitas metode ini akan terlihat dari performa Timnas Indonesia dalam jangka panjang.
Satu hal yang pasti, kehadiran John Herdman dengan gaya kepelatihannya yang khas telah membawa warna baru bagi skuad Garuda.
Editor : Fadhilah Salsa Bella