TRENGGALEK NJENGGELEK - Proliga 2026 kembali memanas. Kekalahan dramatis Jakarta Pertamina Enduro (JPE) dari Jakarta Elektrik PLN di laga perdana Final Four tak hanya berdampak pada klasemen, tetapi juga memicu gejolak internal tim.
Sorotan tajam tertuju pada kritik keras Irina Foronkova terhadap setter utama, Tisha Amalia.
Dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 2-3 tersebut, JPE sebenarnya sempat tampil dominan di set pertama.
Namun, memasuki set berikutnya, ritme permainan berubah drastis. Serangan tim menjadi mudah terbaca dan variasi umpan dinilai minim, sehingga memicu kekecewaan dari pemain asing asal Rusia tersebut.
Irina Foronkova secara terbuka menyampaikan ketidakpuasannya terhadap distribusi bola yang dinilai tidak maksimal.
Ia menilai banyak peluang emas yang seharusnya bisa dimanfaatkan justru terbuang karena keputusan yang kurang tepat di lapangan.
Kritik Tajam Distribusi Bola
Menurut Foronkova, pola permainan JPE terlalu monoton sehingga memudahkan lawan membaca arah serangan.
Ia menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar soal kalah atau menang, tetapi menyangkut kualitas permainan tim secara keseluruhan.
“Banyak momen di mana bola seharusnya diarahkan ke saya atau Megawati, tapi justru diberikan ke pemain yang tidak dalam performa terbaik,” ungkapnya usai pertandingan.
Ia juga menyoroti bahwa dirinya dan Megawati Hangestri Pertiwi seperti tidak dimaksimalkan dalam skema permainan.
Padahal, keduanya merupakan ujung tombak utama tim dalam mencetak poin.
Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Jakarta Elektrik PLN yang tampil solid dengan blok rapat dan pertahanan disiplin. Akibatnya, serangan JPE kerap gagal menembus pertahanan lawan.
Rekomendasi Rekrut Setter Baru
Tak hanya mengkritik, Foronkova juga memberikan rekomendasi tegas kepada manajemen.
Ia menyarankan agar JPE mempertimbangkan merekrut setter baru demi meningkatkan kualitas permainan tim.
Nama Anastasia Merkurva disebut sebagai sosok ideal yang dinilai memiliki visi permainan tinggi dan pengalaman yang mumpuni.
Menurutnya, kehadiran setter berkualitas akan mampu memaksimalkan potensi pemain seperti dirinya dan Megawati.
“Kalau tim ini serius ingin juara, mereka harus berani mengambil keputusan besar,” tegasnya.
Ia bahkan optimistis kombinasi dirinya, Megawati, dan setter berkualitas bisa menjadi kekuatan mematikan di sisa pertandingan Final Four Proliga 2026.
Hoaks yang Sempat Viral
Namun menariknya, setelah ditelusuri lebih dalam, narasi terkait konflik besar ini ternyata merupakan informasi yang tidak valid atau hoaks.
Konten tersebut dibuat sebagai bentuk edukasi agar publik lebih kritis dalam menyaring informasi, terutama yang beredar di media sosial.
Meski demikian, isu tersebut sempat membuat publik voli Indonesia geger dan memicu perdebatan luas terkait performa JPE.
Evaluasi Jelang Laga Berikutnya
Terlepas dari isu yang beredar, kekalahan dari Jakarta Elektrik PLN tetap menjadi alarm serius bagi JPE.
Tim juara bertahan ini dituntut segera melakukan evaluasi, terutama dalam hal strategi dan konsistensi permainan.
Dengan kualitas pemain seperti Megawati dan Foronkova, peluang untuk bangkit masih terbuka lebar.
Namun, perbaikan harus dilakukan secepat mungkin agar tidak kehilangan momentum di babak Final Four Proliga 2026.
Publik kini menanti langkah konkret manajemen JPE. Apakah akan ada perubahan besar, atau cukup dengan evaluasi internal ?
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan