Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Dilema Moral Trolley Problem Viral Lagi, Kuliah Filsafat Harvard Ini Bikin Netizen Bingung Pilih Selamatkan 5 Orang atau 1 Nyawa

Adinda Putri Sefiana • Kamis, 7 Mei 2026 | 10:44 WIB
Duel panas tersaji di ajang Volleyball Nations League (VNL)! Jepang dan Italia saling sikut demi poin penting di Rimini. (YT. Power Volleyball)
Duel panas tersaji di ajang Volleyball Nations League (VNL)! Jepang dan Italia saling sikut demi poin penting di Rimini. (YT. Power Volleyball)

JAKARTA - Fenomena “Trolley Problem” kembali viral di media sosial setelah potongan kuliah filsafat dari Universitas Harvard ramai dibahas di berbagai platform digital. Kuliah yang dipandu profesor filsafat politik terkenal, Michael Sandel, mengangkat dilema moral sederhana tetapi mengguncang cara berpikir banyak orang: lebih baik menyelamatkan lima orang atau satu nyawa?

Dilema moral Trolley Problem itu menjadi bahan diskusi panas karena dianggap relevan dengan kehidupan modern, mulai dari kecerdasan buatan (AI), kebijakan publik, hingga keputusan etis dalam dunia medis. Banyak netizen mengaku bingung menentukan pilihan setelah mendengar penjelasan dalam kuliah tersebut.

Dalam ilustrasi pertama, peserta kuliah diminta membayangkan diri sebagai pengemudi kereta trolley yang melaju tanpa rem menuju lima pekerja di rel. Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah mengalihkan jalur kereta ke sisi lain, tetapi di sana ada satu pekerja yang pasti tewas jika rel dialihkan.

Mayoritas peserta memilih membelokkan kereta demi menyelamatkan lima orang. Alasannya sederhana: lebih baik satu orang meninggal dibanding lima orang kehilangan nyawa.

Baca Juga: Proliga 2026 Kian Panas! Megawati Hangestri Bungkam Kritik, Yola Yuliana Tegas: Tak Ada Ratu di Lapangan

Namun situasi berubah drastis ketika skenario kedua diperkenalkan. Kali ini peserta bukan pengemudi kereta, melainkan pengamat di atas jembatan.

Untuk menghentikan trolley dan menyelamatkan lima pekerja, satu-satunya cara adalah mendorong seorang pria bertubuh besar ke rel agar kereta berhenti menghantam tubuhnya. Menariknya, mayoritas peserta justru menolak melakukan itu.

“Kenapa membunuh satu orang untuk menyelamatkan lima terasa benar di kasus pertama, tetapi salah di kasus kedua?” menjadi pertanyaan utama dalam diskusi tersebut. 

Perdebatan Moral yang Memicu Polemik. Diskusi berkembang menjadi perdebatan tentang moralitas, hak hidup manusia, dan batas tindakan yang bisa dibenarkan demi kepentingan banyak orang.

Sebagian peserta berpendapat bahwa tindakan dalam skenario kedua terasa seperti pembunuhan langsung. Sementara dalam kasus pertama, kematian dianggap sebagai konsekuensi tidak langsung dari pilihan yang diambil. Dari sinilah muncul dua konsep besar dalam filsafat moral, yakni consequentialism dan categorical morality.

Consequentialism atau utilitarianisme menilai tindakan berdasarkan hasil akhirnya. Jika tindakan menghasilkan manfaat terbesar bagi jumlah orang terbanyak, maka tindakan itu dianggap benar.

Sebaliknya, categorical morality menilai ada tindakan tertentu yang tetap salah dilakukan, apa pun hasilnya. Membunuh orang tak bersalah, misalnya, dianggap tetap tidak dapat dibenarkan meski bertujuan menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Kuliah itu juga membahas kasus nyata yang lebih ekstrem. Kisah Kanibalisme di laut yang mengguncang dunia, Profesor Sandel kemudian mengangkat kasus hukum terkenal abad ke-19, yakni kasus kapal pesiar Mignonette.

Empat awak kapal terdampar di laut selama berhari-hari tanpa makanan dan air. Setelah hampir mati kelaparan, dua awak senior memutuskan membunuh seorang anak kabin bernama Richard Parker demi bertahan hidup. Tubuh korban kemudian dimakan oleh para penyintas.

Kasus tersebut memicu pertanyaan moral yang lebih rumit: apakah membunuh seseorang demi menyelamatkan lebih banyak orang bisa dibenarkan?

Sebagian peserta kuliah menganggap tindakan itu dapat dimaklumi karena situasi darurat ekstrem. Namun sebagian lain menilai pembunuhan tetap salah, apa pun alasannya.

Baca Juga: Pertamina Enduro Bungkam Jogja Falcons 3-0 di Proliga 2025, Formasi Baru Bikin Permainan Makin Ganas!

Perdebatan makin menarik ketika muncul gagasan tentang undian atau persetujuan korban sebelum dibunuh. Beberapa peserta mulai berubah pendapat dan menganggap tindakan itu lebih dapat diterima jika semua pihak menyetujui prosedurnya. Filosofi yang Masih Relevan di Era AI.

Diskusi tentang Trolley Problem kini tidak hanya menjadi materi kuliah filsafat klasik. Konsep ini semakin relevan di era modern, terutama dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan dan kendaraan otonom.

Misalnya, mobil tanpa sopir suatu hari mungkin harus menentukan pilihan sulit ketika kecelakaan tidak bisa dihindari. Haruskah sistem menyelamatkan penumpang atau pejalan kaki? Pertanyaan moral semacam itu masih belum memiliki jawaban universal.

Baca Juga: Lengkap! Jadwal Final Proliga 2026 di Yogyakarta, Klasemen & Top Skor Terbaru Bikin Persaingan Makin Panas

Kuliah Harvard tersebut juga menyinggung pemikiran filsuf besar seperti Jeremy Bentham, Immanuel Kant, hingga John Stuart Mill. Jeremy Bentham dikenal lewat teori utilitarianisme dengan prinsip “the greatest good for the greatest number” atau kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak.

Sementara Immanuel Kant percaya bahwa moralitas tidak boleh bergantung pada hasil akhir semata. Menurutnya, ada prinsip moral mutlak yang tidak boleh dilanggar. Bikin netizen ikut berdebat.

Potongan video kuliah tersebut kini ramai di TikTok, YouTube, hingga X. Banyak pengguna internet ikut berdebat menentukan pilihan mereka sendiri.

Sebagian mengaku akan menyelamatkan lima orang karena lebih rasional. Namun tidak sedikit yang menolak mengorbankan satu orang secara sengaja meski jumlah korban bisa lebih sedikit.

Dilema moral Trolley Problem akhirnya menjadi bukti bahwa pertanyaan sederhana bisa membuka diskusi besar tentang etika, kemanusiaan, dan cara manusia mengambil keputusan dalam situasi sulit. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Dilema Moral #Filsafat Harvard #Michael Sandel #Utilitarianisme #Trolley Problem