TRENGGALEK NJENGGELEK- Persib Bandung kembali menjadi sorotan setelah sukses mendatangkan banyak pemain bintang dengan nilai transfer fantastis. Namun di balik aktivitas belanja besar-besaran itu, Persib Bandung justru disebut sebagai salah satu klub paling sehat di Indonesia karena memiliki sistem finansial yang kuat dan tidak bergantung pada dana pemerintah.
Sebagai juara bertahan Liga Indonesia, Persib Bandung musim ini merekrut sejumlah nama besar seperti William Barros, Tom Haye, Eliano Reijnders hingga eks pemain PSG, Layvin Kurzawa. Kehadiran para pemain tersebut membuat publik bertanya-tanya bagaimana Maung Bandung mampu membayar gaji tinggi tanpa mengalami krisis keuangan.
Faktanya, Persib Bandung tidak hanya mengandalkan hadiah juara liga. Klub asal Jawa Barat itu memiliki banyak sumber pemasukan mulai dari sponsor, tiket pertandingan, merchandise hingga pendapatan dari kompetisi Asia. Sistem inilah yang membuat Persib tetap stabil secara finansial di tengah tingginya biaya operasional sepak bola modern.
Baca Juga: Wisata Lombok Viral 2026, Pantai Tanjung Aan hingga Gili Trawangan Jadi Destinasi Favorit Traveler
Persib Bandung Punya Banyak Sumber Pendapatan Besar
Kesuksesan Persib Bandung menjaga stabilitas keuangan ternyata berasal dari strategi diversifikasi pendapatan. Klub tidak hidup dari satu sumber uang saja.
Musim lalu, Persib memang memperoleh hadiah juara liga sebesar Rp7,5 miliar. Namun angka tersebut ternyata belum cukup untuk menutupi seluruh kebutuhan operasional selama satu musim kompetisi.
Manajemen harus membayar gaji pemain, staf pelatih, bonus pertandingan, logistik, hingga biaya perjalanan tandang. Belum lagi denda dari Komisi Disiplin PSSI dan AFC yang musim lalu mencapai Rp1,3 miliar.
Karena itu, sponsor menjadi salah satu napas utama keuangan Persib Bandung. Pada Agustus lalu, manajemen secara terbuka mengumumkan memiliki 12 sponsor utama. Delapan di antaranya merupakan partner lama yang terus memperpanjang kerja sama.
Beberapa sponsor besar seperti Indofood sudah mendukung Persib sejak 2015, sedangkan Kopi ABC menjadi mitra sejak 2013. Musim ini juga hadir sponsor baru seperti Kelme, Bank BTN hingga GoPay.
Basis suporter yang sangat besar membuat Persib menjadi magnet sponsor. Akun Instagram resmi Persib bahkan disebut memiliki 9,4 juta pengikut per Januari 2026, tertinggi di antara seluruh klub Indonesia.
Jumlah fans yang besar membuat sponsor melihat Persib sebagai lahan promosi yang sangat menguntungkan. Terlebih performa Maung Bandung terus meningkat setelah sukses meraih gelar back to back juara liga dan tampil di kompetisi Asia.
Liga Champions Asia Jadi Mesin Uang Baru Persib Bandung
Selain sponsor, Persib Bandung juga mulai menikmati pemasukan besar dari kompetisi Asia. Penampilan mereka di Liga Champions Asia 2 musim ini disebut menghasilkan dana miliaran rupiah.
Rinciannya meliputi uang partisipasi fase grup sekitar Rp4,9 miliar, subsidi perjalanan tandang Rp2,5 miliar, bonus kemenangan dan hasil imbang Rp3,7 miliar, hingga bonus lolos 16 besar sebesar Rp1,3 miliar.
Jika ditotal, pemasukan dari kompetisi Asia jauh lebih besar dibanding hadiah juara liga domestik.
Kondisi ini membuat Persib Bandung tidak hanya bergantung pada prestasi lokal. Mereka memiliki arus pemasukan berlapis yang terus berjalan sepanjang musim.
Di sisi lain, manajemen Persib juga dinilai sangat disiplin dalam mengelola anggaran. Klub dikelola oleh PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) yang dipimpin CEO Glenn Sugita.
Persib tidak hanya diposisikan sebagai klub sepak bola, tetapi juga sebagai entitas bisnis profesional dengan visi jangka panjang. Strategi ini membuat pengeluaran klub tetap terkendali meski aktif mendatangkan pemain mahal.
Pelatih Bojan Hodak bahkan pernah mengungkap salah satu kunci stabilitas Persib adalah pembayaran gaji yang selalu tepat waktu.
“Salah satu hal yang membuat kami stabil adalah gaji selalu tepat waktu. Itu karena anggaran dikelola dengan baik,” ujar Bojan Hodak.
Musim ini Persib juga disebut menghabiskan sekitar Rp32 miliar di bursa transfer. Nilai skuad mereka bahkan mencapai Rp13,58 juta euro berdasarkan data Transfermarkt.
Persib Bandung Siap IPO dan Tak Mau Bergantung pada Pemda
Langkah besar berikutnya yang sedang disiapkan Persib Bandung adalah melantai di bursa saham atau Initial Public Offering (IPO).
CEO Glenn Sugita menegaskan Persib ingin mengikuti jejak Bali United yang lebih dulu menjadi klub terbuka sejak 2019 melalui PT Bali Bintang Sejahtera Tbk.
Melalui IPO, Persib nantinya bisa memperoleh tambahan modal besar dari publik untuk pembangunan stadion, fasilitas latihan hingga akademi pemain muda.
Selain menambah pemasukan, IPO juga membuat pengelolaan keuangan klub menjadi lebih transparan karena harus diaudit secara berkala.
Persib Bandung juga dikenal sebagai klub yang berusaha mandiri tanpa bergantung pada dana pemerintah daerah. Sikap itu pernah terlihat ketika manajemen mengembalikan bonus juara dari Gubernur Jawa Barat karena asal-usul dananya dianggap tidak jelas.
Model bisnis seperti ini membuat Persib disebut sebagai salah satu contoh klub modern di Indonesia. Mereka tidak hanya mengejar gelar juara, tetapi juga membangun fondasi bisnis agar tetap hidup dalam jangka panjang.
Dengan sistem finansial yang kuat, Persib Bandung kini bukan sekadar klub besar di lapangan. Maung Bandung mulai menjelma menjadi klub profesional yang siap bersaing secara bisnis maupun prestasi di era sepak bola modern.
Editor : Cholifatun Nisak