Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Skandal PSSI dari Masa ke Masa Terungkap, Korupsi hingga Sepak Bola Gajah Jadi Luka Panjang Sepak Bola Indonesia

Cholifatun Nisak • Jumat, 22 Mei 2026 | 18:09 WIB
Skandal PSSI dari masa ke masa kembali disorot, mulai korupsi, match fixing, dualisme hingga sepak bola gajah yang memalukan.
Skandal PSSI dari masa ke masa kembali disorot, mulai korupsi, match fixing, dualisme hingga sepak bola gajah yang memalukan.

 

TRENGGALEK NJENGGELEK- Skandal PSSI kembali menjadi sorotan setelah berbagai catatan kelam federasi sepak bola Indonesia diungkap, mulai dari kasus korupsi, pengaturan skor, dualisme kompetisi hingga tragedi sepak bola gajah yang mencoreng nama Indonesia di mata dunia. Dalam perjalanan panjangnya, PSSI disebut tak pernah benar-benar lepas dari konflik internal dan kontroversi besar.

Sejak berdiri pada 19 April 1930, PSSI sebenarnya lahir dengan semangat nasionalisme. Organisasi ini dibentuk oleh tujuh klub pendiri seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, hingga PSIM Yogyakarta. Namun dalam perkembangannya, federasi sepak bola nasional justru berkali-kali diterpa persoalan yang membuat kepercayaan publik menurun drastis.

Nama Soeratin Sosrosoegondo menjadi sosok penting di balik lahirnya PSSI. Insinyur lulusan Jerman itu mendirikan federasi sepak bola sebagai alat perjuangan melawan kolonialisme Belanda melalui olahraga. Akan tetapi, konflik justru sudah muncul sejak era awal pembentukan federasi tersebut.

Konflik dan Dualisme Sudah Muncul Sejak Era Awal PSSI

Pada periode 1934 hingga 1937, PSSI sempat mengalami konflik internal dengan PSIM Mataram. Perselisihan itu disebut dipicu ketidakpuasan PSIM karena tidak dilibatkan dalam pembahasan kerja sama antara PSSI dan federasi sepak bola Hindia Belanda, NIVU.

Akibat konflik tersebut, PSIM memutuskan keluar dari PSSI dan membentuk organisasi tandingan bernama PORSI. Situasi makin panas ketika PSSI merespons dengan membentuk klub baru bernama Persib Mataram sebagai tandingan PSIM.

Konflik serupa ternyata terus berulang hingga era modern. Pada periode 2011 hingga 2013, sepak bola Indonesia kembali terpecah akibat dualisme antara PSSI dan KPSI. Situasi itu membuat kompetisi nasional kacau dan berdampak langsung terhadap prestasi tim nasional.

Tak hanya konflik internal, hubungan PSSI dengan NIVU juga sempat memanas. Pada 1937 kedua federasi sempat menandatangani “Gentlemen Agreement” sebagai bentuk pengakuan setara. Namun kerja sama itu berakhir setelah pemain PSSI dilarang tampil di kompetisi NIVU dan tak ada satu pun pemain PSSI yang dibawa ke Piala Dunia 1938.

Keputusan tersebut membuat Soeratin marah dan membatalkan perjanjian secara sepihak pada Juni 1938.

Baca Juga: Solo Trip Lombok Viral, Healing Naik Motor dari Pantai Senggigi hingga Desa Sade Bikin Netizen Takjub

Skandal Suap dan Match Fixing Jadi Penyakit Menahun

Masalah terbesar yang terus menghantui PSSI adalah praktik suap dan pengaturan skor. Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada Asian Games 1962 yang dikenal sebagai Skandal Senayan.

Sebanyak 10 pemain tim nasional Indonesia dituduh menerima suap dalam laga uji coba. Para pemain disebut mendapat bayaran Rp25 ribu per pertandingan dari bandar judi. Akibat kasus itu, para pemain dikeluarkan dari pemusatan latihan dan mimpi Indonesia meraih prestasi di Asian Games pun hancur.

Situasi serupa kembali terjadi pada era Galatama. Kompetisi semi profesional yang diperkenalkan pada akhir 1970-an sebenarnya sempat dipuji sebagai salah satu liga modern Asia. Namun praktik perjudian dan pengaturan skor justru berkembang liar.

Mantan Ketua Umum PSSI Ali Sadikin bahkan memilih mundur karena tekanan publik yang kecewa terhadap maraknya mafia sepak bola di kompetisi nasional.

Kontroversi lain muncul pada 1975 ketika final Perserikatan antara Persija Jakarta melawan PSMS Medan berakhir ricuh. Ketua Umum PSSI saat itu memutuskan kedua tim sama-sama menjadi juara setelah pertandingan tak dapat dilanjutkan akibat keributan di lapangan.

Keputusan tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu momen paling absurd dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Sepak Bola Gajah dan Korupsi Jadi Catatan Kelam PSSI

Skandal paling memalukan dalam sejarah sepak bola Indonesia terjadi pada Piala Tiger 1998. Saat itu timnas Indonesia dan Thailand justru sengaja menghindari kemenangan demi mendapatkan lawan yang dianggap lebih mudah di semifinal.

Pertandingan tersebut berubah menjadi “sepak bola gajah” setelah pemain Indonesia sengaja mencetak gol bunuh diri di menit akhir. FIFA langsung turun tangan dan menjatuhkan hukuman berat.

Pemain Mursyid Effendi mendapat larangan bermain seumur hidup, sedangkan Indonesia dan Thailand dikenai denda besar. Kasus itu menjadi simbol rusaknya integritas sepak bola nasional di mata internasional.

Selain sepak bola gajah, persoalan korupsi dan politisasi juga terus membayangi PSSI hingga era modern. Pergantian kepengurusan kerap diwarnai konflik kepentingan, intervensi politik, hingga perebutan kekuasaan.

Meski demikian, publik sepak bola Indonesia masih berharap reformasi besar benar-benar terjadi di tubuh federasi. Sebab sejarah panjang PSSI menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia sebenarnya memiliki fondasi besar untuk berkembang, namun berulang kali terhambat oleh konflik internal dan praktik tidak sehat.

Semangat yang dulu dibangun Soeratin lewat sepak bola nasional kini menjadi pengingat bahwa pembenahan federasi bukan sekadar soal prestasi, melainkan juga menyangkut harga diri sepak bola Indonesia di mata dunia.

Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Lombok Paling Populer 2025, dari Mandalika hingga Gili Trawangan yang Bikin Wisatawan Ketagihan

Editor : Cholifatun Nisak
#Sejarah PSSI #Soeratin Sosrosoegondo #Skandal PSSI #sepak bola gajah Indonesia #korupsi sepak bola Indonesia