TRENGGALEK NJENGGELEK- Tujuh klub pendiri PSSI menjadi simbol sejarah sepak bola Indonesia yang tak tergantikan hingga sekarang. Di tengah era sepak bola modern yang dipenuhi relokasi klub, pergantian identitas, dan kepentingan bisnis, tujuh klub ini tetap mempertahankan nama, sejarah, dan akar tradisi sejak federasi sepak bola Indonesia berdiri pada 19 April 1930.
Status tujuh klub pendiri PSSI kembali menjadi sorotan setelah banyak klub Indonesia mengalami perubahan nama hingga perpindahan markas dalam beberapa tahun terakhir. Berbeda dengan klub modern hasil merger atau transformasi, tujuh klub pendiri PSSI dianggap sebagai warisan sejarah yang wajib dilindungi identitasnya.
Ketujuh klub tersebut adalah Persija Jakarta, Persib Bandung, PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persebaya Surabaya, PSM Madiun, dan PPSM Magelang. Mereka menjadi fondasi awal lahirnya sepak bola nasional sebelum Indonesia merdeka.
Persija dan Persib Jadi Simbol Rivalitas Bersejarah Sepak Bola Indonesia
Persija Jakarta menjadi salah satu klub paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola nasional. Klub yang berdiri sejak era kolonial itu awalnya bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra atau VIJ. Kini Persija tetap eksis di kasta tertinggi sepak bola Indonesia dan dikenal sebagai klub dengan basis suporter besar bernama The Jakmania.
Persija tercatat meraih 11 gelar kompetisi nasional sejak era perserikatan hingga Liga Indonesia modern. Gelar Liga 1 musim 2018 menjadi salah satu pencapaian terbesar mereka di era profesional.
Di sisi lain, Persib Bandung menjadi representasi kuat masyarakat Jawa Barat. Cikal bakal Persib berasal dari BIVB atau Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond yang ikut terlibat dalam pembentukan PSSI. Pada 14 Maret 1933, sejumlah klub di Bandung melebur dan melahirkan Persib Bandung.
Persib berkembang menjadi salah satu klub paling stabil di Indonesia. Basis suporter Bobotoh menjadi kekuatan besar yang membuat atmosfer pertandingan Persib selalu mendapat perhatian nasional.
Rivalitas Persija kontra Persib pun berkembang menjadi salah satu duel terbesar di sepak bola Indonesia. Pertemuan kedua tim tak hanya soal pertandingan, tetapi juga menyangkut sejarah panjang, identitas daerah, hingga gengsi antarsuporter.
“Rivalitas Persija versus Persib bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga harga diri sejarah,” demikian narasi yang berkembang dalam perjalanan sepak bola nasional.
PSIM, Persis, dan PPSM Masih Berjuang di Tengah Sepak Bola Modern
PSIM Yogyakarta menjadi salah satu klub tertua di Indonesia yang berdiri pada 5 September 1929 dengan nama Perserikatan Sepakraga Mataram. Klub berjuluk Laskar Mataram itu pernah berjaya pada era perserikatan.
Namun dalam era profesional, PSIM lebih sering berjuang di Liga 2. Meski demikian, dukungan Brajamusti dan The Maident membuat PSIM tetap memiliki kekuatan sosial besar di Yogyakarta.
Sementara itu, Persis Solo menjadi klub dengan sejarah panjang sejak berdiri pada 1923. Persis dikenal sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola Indonesia era perserikatan dengan tujuh gelar juara nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Persis mulai bangkit lewat pengelolaan modern dan pembenahan infrastruktur. Kehadiran suporter fanatik Pasoepati menjadi modal penting untuk menjaga eksistensi klub di kasta tertinggi sepak bola nasional.
Berbeda dengan Persis, PPSM Magelang kini masih berjuang di kasta bawah. Klub yang dahulu bernama Indonesische Voetbal Bond Magelang itu menjadi salah satu pendiri PSSI pada awal pembentukannya.
Meski prestasi PPSM tidak sebesar klub lain, status sebagai klub pendiri PSSI membuat mereka tetap memiliki tempat penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Persebaya dan PSM Madiun Jadi Bukti Sejarah Tak Selalu Sejalan dengan Prestasi
Persebaya Surabaya menjadi contoh klub bersejarah yang mampu bangkit di era modern. Klub berjuluk Bajul Ijo itu sempat mengalami konflik internal hingga degradasi sebelum akhirnya kembali promosi ke kasta tertinggi.
Kekuatan Bonek sebagai basis suporter fanatik menjadi faktor penting kebangkitan Persebaya. Kini klub asal Surabaya itu kembali menjadi salah satu kekuatan utama Liga 1.
Di sisi lain, PSM Madiun menghadapi situasi berbeda. Klub yang berdiri pada 1929 tersebut kini lebih banyak berkutat di kompetisi level bawah dan sempat mengalami mati suri.
Meski jarang muncul dalam pemberitaan nasional, status PSM Madiun sebagai klub pendiri PSSI tetap melekat kuat dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Fakta menariknya, dari tujuh klub pendiri PSSI, hanya sebagian yang mampu stabil di kasta tertinggi sepak bola nasional. Sisanya masih berjuang menghadapi tantangan finansial, manajemen, hingga perkembangan industri sepak bola modern.
Namun satu hal yang tidak berubah, tujuh klub tersebut tetap menjadi akar sejarah sepak bola Indonesia. Nama dan identitas mereka dianggap sebagai simbol perjuangan nasionalisme yang tak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang PSSI.
Editor : Cholifatun Nisak