TRENGGALEK NJENGGELEK- Soeratin Sosrosoegondo bukan hanya dikenal sebagai ketua umum pertama PSSI, tetapi juga sosok penting dalam sejarah perjuangan nasional Indonesia. Di balik perannya membangun sepak bola nasional, Soeratin ternyata merupakan insinyur lulusan Jerman, pengusaha, hingga perwira militer yang ikut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.
Nama Soeratin Sosrosoegondo kembali menjadi sorotan dalam pembahasan sejarah sepak bola Indonesia. Sosok kelahiran Yogyakarta pada 17 September 1898 itu memiliki perjalanan hidup yang jauh lebih besar dibanding sekadar tokoh olahraga.
Sebagai pendiri sekaligus ketua umum pertama PSSI, Soeratin dikenal memiliki visi menjadikan sepak bola sebagai alat perjuangan nasionalisme melawan penjajahan Belanda. Namun di luar sepak bola, terdapat sejumlah fakta menarik yang jarang diketahui publik.
Soeratin Sosrosoegondo Ternyata Keluarga Tokoh Kebangkitan Nasional
Salah satu fakta menarik dari Soeratin Sosrosoegondo adalah hubungan keluarganya dengan tokoh pergerakan nasional Indonesia.
Istri Soeratin, Raden Ajeng Sri Wulan, diketahui merupakan adik kandung Dokter Soetomo. Nama Soetomo sendiri dikenal sebagai pendiri organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Kedekatan dengan lingkungan tokoh nasionalis membuat Soeratin tumbuh dalam semangat perjuangan sejak muda. Hal tersebut pula yang kemudian memengaruhi gagasannya membangun sepak bola sebagai sarana membangkitkan persatuan rakyat Indonesia pada masa kolonial.
Dalam sejarah PSSI, Soeratin memang dikenal aktif menghubungkan sepak bola dengan semangat nasionalisme. PSSI yang lahir pada 19 April 1930 bahkan menjadi simbol perlawanan pribumi terhadap dominasi Belanda di dunia olahraga.
Lulusan Teknik Jerman dan Rela Biayai PSSI dengan Uang Pribadi
Fakta berikutnya, Soeratin ternyata merupakan seorang insinyur sipil lulusan Jerman. Gelar tersebut ia peroleh dari Hecklenburg Technische Hochschule di Jerman pada 1927.
Pendidikan tinggi di Eropa membuat Soeratin memiliki wawasan modern yang kemudian diterapkan dalam pengelolaan organisasi sepak bola nasional.
Sepulang dari Jerman, Soeratin sempat bekerja di perusahaan konstruksi milik Belanda. Namun ia memilih keluar karena lebih tertarik memperjuangkan bangsa Indonesia melalui sepak bola dan organisasi nasional.
Tak hanya itu, Soeratin juga mendirikan perusahaan bangunan di Yogyakarta sebelum kemudian mengembangkannya saat pindah ke Bandung pada 1937.
Menariknya, hasil usaha tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan keluarga. Sebagian keuntungan bisnisnya justru dipakai membantu pendanaan PSSI pada masa awal berdiri.
Langkah tersebut menunjukkan besarnya pengorbanan Soeratin dalam membangun sepak bola Indonesia. Pada masa itu, PSSI belum memiliki dukungan finansial kuat seperti sekarang sehingga organisasi berjalan dengan keterbatasan dana.
“Uang hasil usahanya bukan hanya untuk keluarga tapi juga membantu kas PSSI,” demikian kisah yang tercatat dalam berbagai sumber sejarah sepak bola nasional.
Aktif di Militer hingga Punya Hobi Bermain Catur
Selain aktif di dunia olahraga, Soeratin Sosrosoegondo juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui jalur militer.
Ia tercatat aktif di Tentara Keamanan Rakyat atau TKR yang kini dikenal sebagai TNI. Dalam perjalanan karier militernya, Soeratin mencapai pangkat Letnan Kolonel.
Pada masa perang kemerdekaan, Soeratin disebut pernah menjalankan sejumlah tugas penting untuk membantu perjuangan bangsa Indonesia.
Meski memiliki aktivitas padat sebagai tokoh sepak bola dan militer, Soeratin ternyata memiliki hobi unik yaitu bermain catur.
Fakta tersebut diungkap cucunya, Ratnaningdia Indrawati Santoso, dalam buku berjudul Soeratin Sosrosoegondo Menentang Penjajahan Belanda dengan Sepakbola Kebangsaan karya Eddi Elison.
Menurut Ratnaningdia, Soeratin sangat menyukai permainan catur bahkan pernah menjuarai pertandingan simultan dengan banyak kemenangan.
Kisah hidup Soeratin Sosrosoegondo menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia sejak awal tidak bisa dipisahkan dari semangat perjuangan bangsa. Sosoknya bukan hanya membangun federasi sepak bola nasional, tetapi juga ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia melalui berbagai bidang.
Hingga kini, nama Soeratin tetap dikenang lewat kompetisi usia muda Piala Soeratin yang menjadi bagian penting pembinaan sepak bola nasional.
Editor : Cholifatun Nisak