TRENGGALEK NJENGGELEK- Tujuh klub pendiri PSSI menjadi simbol sejarah sepak bola Indonesia yang tak tergantikan hingga kini. Di tengah era sepak bola modern yang memungkinkan klub berganti nama, pindah kota, hingga berubah identitas karena kepentingan bisnis, tujuh klub pendiri PSSI tetap mempertahankan akar sejarah mereka sejak federasi berdiri pada 19 April 1930.
Tujuh klub pendiri PSSI itu adalah Persija Jakarta, Persib Bandung, PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persebaya Surabaya, PPSM Magelang, dan PSM Madiun. Nama-nama tersebut tercatat sebagai fondasi lahirnya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia yang dibentuk sebagai alat perjuangan nasionalisme di era kolonial Belanda.
Keberadaan klub-klub tersebut kini menjadi pengingat bahwa sepak bola Indonesia bukan sekadar industri hiburan, melainkan bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Meski sebagian mengalami pasang surut prestasi, identitas mereka tetap bertahan hingga era profesional modern.
Persija dan Persib Jadi Simbol Rivalitas Abadi Sepak Bola Indonesia
Persija Jakarta dan Persib Bandung menjadi dua klub pendiri PSSI yang paling konsisten menjaga eksistensi di kasta tertinggi sepak bola nasional. Persija yang lahir dari klub bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra atau VIJ pada 28 November 1928 kini dikenal sebagai salah satu klub dengan basis suporter terbesar di Indonesia.
Klub berjuluk Macan Kemayoran itu berhasil menjuarai Liga 1 musim 2018 dan tetap menjadi kekuatan utama sepak bola nasional. Loyalitas The Jakmania juga disebut sebagai salah satu simbol kuat identitas klub modern Indonesia.
Sementara itu, Persib Bandung yang lahir dari peleburan beberapa klub di Bandung pada 14 Maret 1933 terus berkembang menjadi ikon sepak bola Jawa Barat. Maung Bandung memiliki basis suporter Bobotoh yang dikenal sangat militan.
Dalam satu dekade terakhir, Persib termasuk klub paling stabil di Liga 1. Infrastruktur, kekuatan finansial, hingga manajemen modern menjadi faktor penting yang membuat Persib tetap kompetitif di papan atas.
“Rivalitas Persija dan Persib bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga menyangkut sejarah dan identitas daerah,” demikian narasi yang disampaikan dalam tayangan video sejarah klub pendiri PSSI tersebut.
Data sejarah menunjukkan kedua klub juga menjadi representasi penting dalam perkembangan sepak bola Indonesia sejak era perserikatan hingga profesionalisme modern.
Baca Juga: 7 Klub Pendiri PSSI yang Tak Bisa Ganti Nama dan Pindah Kota, Ada yang Kini Terpuruk di Liga Bawah
PSIM, Persis, PPSM dan PSM Madiun Berjuang di Tengah Kerasnya Sepak Bola Modern
Tidak semua klub pendiri PSSI mampu bertahan stabil di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. PSIM Yogyakarta, PPSM Magelang, dan PSM Madiun menjadi contoh klub bersejarah yang kini harus berjuang menghadapi realitas kompetisi modern.
PSIM Yogyakarta yang berdiri pada 5 September 1929 pernah menjadi kekuatan penting di era perserikatan. Klub berjuluk Laskar Mataram itu kini masih berupaya memperkuat stabilitas finansial dan prestasi agar kembali konsisten bersaing di level tertinggi.
Meski demikian, PSIM tetap memiliki kekuatan sosial melalui dukungan suporter Brajamusti dan The Maident yang terus menjaga eksistensi klub.
Berbeda dengan PSIM, Persis Solo justru mulai menunjukkan tren kebangkitan dalam beberapa tahun terakhir. Klub yang berdiri sejak 8 November 1923 itu menjadi salah satu tim tertua di Indonesia bahkan lebih tua dibanding usia PSSI.
Perbaikan manajemen dan infrastruktur membuat Persis perlahan kembali diperhitungkan di Liga Indonesia. Basis suporter Pasoepati dan kultur sepak bola Solo juga menjadi modal besar untuk membangun klub secara modern.
Sementara PPSM Magelang dan PSM Madiun menghadapi tantangan lebih berat. Kedua klub pendiri PSSI tersebut kini lebih banyak berkutat di kompetisi kasta bawah. Meski minim sorotan nasional, status historis mereka sebagai bagian dari lahirnya sepak bola Indonesia tetap tak tergantikan.
Persebaya Jadi Bukti Klub Bersejarah Bisa Bangkit dan Bertahan
Persebaya Surabaya menjadi contoh nyata bagaimana klub pendiri PSSI mampu bangkit dari keterpurukan. Klub yang awalnya bernama Soerabajasche Indonesische Voetbalbond atau SIVB itu berdiri pada 18 Juni 1927 sebagai wadah sepak bola pribumi di Surabaya.
Persebaya sempat mengalami konflik internal dan degradasi, namun berhasil bangkit dengan menjuarai Liga 2 musim 2017 sebelum kembali menjadi kekuatan utama Liga 1.
Loyalitas Bonek disebut menjadi salah satu fondasi penting kebangkitan klub berjuluk Bajul Ijo tersebut. Atmosfer pertandingan Persebaya juga dikenal sebagai salah satu yang paling kuat di Indonesia.
Di sisi lain, perkembangan sepak bola modern membuat klub-klub tradisional menghadapi tantangan besar. Faktor finansial, profesionalisme manajemen, hingga kekuatan sponsor kini menjadi pembeda utama dalam persaingan Liga Indonesia.
Meski demikian, tujuh klub pendiri PSSI tetap memiliki tempat istimewa dalam sejarah olahraga nasional. Nama mereka dianggap sebagai akar dari perkembangan sepak bola Indonesia modern.
Tanpa klub-klub tersebut, sejarah rivalitas, kompetisi nasional, hingga lahirnya PSSI kemungkinan tidak akan pernah terjadi. Karena itu, keberadaan mereka bukan sekadar soal trofi, tetapi juga tentang identitas dan warisan sejarah bangsa.
Editor : Cholifatun Nisak