TRENGGALEK NJENGGELEK - Portugal kembali menjadi sorotan menjelang Piala Dunia 2026.
Dengan skuad bertabur bintang yang meraih berbagai gelar di level klub, Timnas Portugal disebut-sebut sebagai salah satu generasi emas terbaik yang pernah dimiliki negara tersebut.
Meski demikian, peluang Portugal juara Piala Dunia masih dipandang sebelah mata oleh sejumlah pengamat.
Bahkan lembaga statistik sepak bola Opta menempatkan Portugal di bawah Inggris dalam daftar kandidat juara.
Penilaian tersebut memunculkan perdebatan karena banyak pihak menilai kualitas skuad Portugal saat ini sangat layak bersaing memperebutkan trofi tertinggi sepak bola dunia.
Tim berjuluk Selecao das Quinas itu datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal luar biasa.
Beberapa pemain seperti Nuno Mendes, Vitinha, Joao Neves, dan Goncalo Ramos sukses membawa klub mereka meraih prestasi bergengsi di Eropa.
Sementara Ruben Dias dan Bernardo Silva juga tetap menjadi pilar penting di level klub.
Lini Tengah Jadi Kekuatan Utama Portugal
Salah satu alasan Portugal dianggap berbahaya adalah kekuatan lini tengah mereka. Pelatih Roberto Martinez memiliki banyak opsi dengan karakter yang berbeda-beda.
Bruno Fernandes menjadi motor kreativitas serangan berkat visi permainan dan kemampuan umpannya yang akurat. Bernardo Silva menawarkan kontrol bola yang baik dan kemampuan keluar dari tekanan lawan.
Di sisi lain, Vitinha berperan sebagai pengatur tempo permainan. Joao Neves menghadirkan energi besar melalui kemampuan box-to-box yang dimilikinya. Sementara Ruben Neves memberikan keseimbangan sebagai gelandang bertahan dengan distribusi bola jarak jauh yang efektif.
Samuel Costa melengkapi komposisi tersebut sebagai gelandang bertahan murni yang mengandalkan fisik, agresivitas, dan kemampuan duel.
Kombinasi tersebut membuat Portugal memiliki salah satu lini tengah paling lengkap di turnamen kali ini.
Taktik Roberto Martinez Dinilai Menjanjikan
Roberto Martinez diperkirakan tetap menggunakan formasi dasar 4-3-3 yang fleksibel. Namun dalam fase menyerang, skema tersebut dapat berubah menjadi 3-2-4-1 untuk menciptakan dominasi jumlah pemain di area tengah.
Strategi ini memungkinkan Portugal menguasai pertandingan dan membuka ruang di sisi sayap. Pemain-pemain cepat seperti Rafael Leao, Joao Felix, dan Pedro Neto diproyeksikan menjadi ancaman utama ketika lawan kehilangan keseimbangan.
Dengan penguasaan lini tengah yang kuat, Portugal diyakini mampu mendikte jalannya pertandingan melawan tim mana pun.
Cristiano Ronaldo Masih Jadi Faktor Pembeda
Perdebatan terbesar tetap mengarah pada Cristiano Ronaldo. Banyak kritik menyebut kehadiran sang megabintang justru menjadi penghambat permainan Portugal.
Namun Roberto Martinez memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, Ronaldo tidak lagi dibebani tugas bertahan seperti sebelumnya. Penyerang berusia 41 tahun itu hanya akan fokus mencari ruang, menyelesaikan peluang, dan memberikan ancaman di kotak penalti lawan.
Selain itu, keberadaan Ronaldo dinilai mampu menarik perhatian bek lawan sehingga menciptakan ruang bagi pemain lain seperti Bernardo Silva, Rafael Leao, maupun Pedro Neto.
Performa Ronaldo juga masih terbilang impresif. Dalam dua musim terakhir bersama Al Nassr, ia mampu mencetak puluhan gol dan terus mendekati rekor 1.000 gol sepanjang karier profesionalnya.
Tak hanya soal gol, Ronaldo disebut masih memiliki pengaruh besar di ruang ganti. Pengalamannya menjadi sumber motivasi bagi generasi muda Portugal yang kini mulai mengambil peran penting di tim nasional.
Dengan kombinasi pemain muda berkualitas, pengalaman para senior, serta tangan dingin Roberto Martinez, Portugal memiliki alasan kuat untuk bermimpi mengangkat trofi Piala Dunia 2026. Jika hal itu benar-benar terjadi, nama Cristiano Ronaldo berpotensi kembali menjadi pusat perdebatan dalam statusnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan