BANDUNG - Kegelisahan para Bobotoh mengenai fasilitas latihan Maung Bandung seolah menjadi pertanyaan abadi yang muncul setiap musim. Pertanyaan mendasar sering terlontar: Mengapa Training Center Persib Bandung belum juga terwujud, padahal status klub ini adalah salah satu yang terbesar dan tersukses di kancah sepak bola Indonesia?
Bagi suporter, memiliki pusat latihan sendiri bukan sekadar prestise, melainkan kebutuhan mendesak untuk menunjang performa tim di level tertinggi. Ketika klub rival seperti Bali United hingga tim-tim baru mulai menunjukkan keseriusan membangun fondasi jangka panjang dengan fasilitas mandiri, keterlambatan pembangunan Training Center Persib Bandung memicu tanda tanya besar. Apakah ini masalah ketiadaan dana, ataukah ada kendala administratif yang lebih rumit di balik layar?
Kenyataannya, manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) sebenarnya tidak tinggal diam. Isu ketiadaan Training Center Persib Bandung ini bukan disebabkan oleh kurangnya niat, melainkan karena tantangan multidimensi yang harus dihadapi. Lahan di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) sebenarnya sudah disiapkan sejak lama untuk mewujudkan konsep "Kampung Persib". Namun, realita di lapangan sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar perencanaan di atas kertas.
Faktor Finansial dan Dampak Pandemi
Direktur Utama PT PBB, Glenn Sugita, pernah secara terbuka menjelaskan bahwa kondisi finansial klub menjadi faktor penentu utama. Pandemi Covid-19 memberikan pukulan telak bagi ekonomi klub sepak bola di seluruh dunia, tidak terkecuali Persib. Pemasukan yang terhenti memaksa manajemen untuk bersikap realistis dalam mengalokasikan anggaran.
Pembangunan pusat latihan bukanlah proyek dengan biaya ringan. Ini adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan dana yang sangat besar. Memaksakan pembangunan di tengah ketidakpastian ekonomi justru berisiko menjadi beban bagi klub di masa depan. Manajemen memilih langkah yang mungkin terasa tidak populer bagi suporter, yakni memperbaiki fondasi keuangan terlebih dahulu sebelum memulai proyek fisik yang masif. Keputusan ini lahir dari perhitungan matang untuk memastikan klub tetap sehat secara jangka panjang.
Tantangan Administrasi dan Kondisi Geografis GBLA
Selain masalah finansial, kendala administratif dan teknis menjadi tembok penghalang lainnya. Meski lokasi di sekitar GBLA sudah dikunci, status lahan di kawasan tersebut tidak sepenuhnya berada di bawah kendali tunggal klub atau pemerintah kota. Sebagian lahan masih dimiliki oleh masyarakat, yang menuntut proses akuisisi serta kerja sama legal yang membutuhkan waktu panjang. Proses birokrasi dan legalitas ini tidak bisa dilakukan secara serampangan untuk menghindari sengketa hukum di masa depan.
Tak hanya itu, tantangan teknis di lapangan pun cukup berat. Karakter tanah di kawasan GBLA yang cenderung lembek membuat lahan tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk fasilitas olahraga modern. Diperlukan proses pengerasan tanah (soil treatment) yang memakan biaya miliaran rupiah bahkan sebelum satu lapangan rumput bisa dibangun. Tanpa pengerasan yang benar, fasilitas yang dibangun justru berisiko mengalami kerusakan cepat.
Pendekatan Realistis dan Dukungan Bobotoh
Alih-alih melakukan gebrakan instan yang berisiko gagal, manajemen Persib kini memilih langkah yang lebih terukur. Pembangunan lapangan pendamping di kawasan GBLA sebagai fasilitas latihan sementara adalah bentuk nyata dari komitmen tersebut. Langkah ini setidaknya menjaga agar rumput lapangan utama stadion tetap terjaga kualitasnya untuk pertandingan resmi.
Strategi ini menunjukkan bahwa Persib ingin membangun dengan pola "sedikit demi sedikit sesuai kemampuan". Bagi Bobotoh, masa penantian ini memang terasa melelahkan, namun penting untuk diingat bahwa fasilitas latihan yang akan lahir nanti adalah warisan untuk generasi mendatang. Dukungan suporter dalam bentuk kesabaran dan kepercayaan pada proses akan jauh lebih berharga daripada tuntutan instan yang berpotensi merusak fondasi klub. Pada akhirnya, membangun klub profesional memang membutuhkan ketenangan, perhitungan matang, dan waktu, agar hasilnya tidak hanya indah dipandang, tetapi juga tahan lama.
Baca Juga: 5 HP 2 Jutaan Terbaik Juni 2026, Redmi Note 15 Masih Jadi Raja, Poco M7 Punya Baterai 7000 mAh
Editor : Vicky Permana Saputra