TRENGGALEK NJENGGELEK - Fenomena Piala Dunia 2026 sepi menjadi perbincangan hangat di media sosial dan forum sepak bola global. Banyak warganet menilai gelaran yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu terasa kurang greget dibanding edisi sebelumnya. Narasi mengenai Piala Dunia 2026 sepi bahkan disebut sudah muncul sejak Piala Dunia 2022, namun kali ini gaungnya dinilai lebih kuat dan meluas.
Sejumlah pengamat dan warganet menyebut suasana “hambar” ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari politik penunjukan tuan rumah, aturan visa yang ketat, hingga biaya menonton yang semakin mahal. Kondisi tersebut membuat Piala Dunia 2026 sepi menjadi isu yang terus diperbincangkan, terutama di platform X (Twitter) dan komunitas sepak bola internasional.
Meski FIFA menegaskan turnamen akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dengan format 48 tim, sebagian publik justru mempertanyakan apakah antusiasme penonton benar-benar akan setinggi edisi sebelumnya.
Pemilihan Tuan Rumah Dinilai Minim Intrik
Salah satu alasan yang kerap muncul terkait isu Piala Dunia 2026 sepi adalah proses pemilihan tuan rumah. Berbeda dengan Piala Dunia 2022 yang penuh kontroversi dan tuduhan suap, edisi 2026 dinilai berlangsung lebih “bersih” setelah FIFA mereformasi sistem pemilihan.
Kini, pemungutan suara dilakukan oleh seluruh anggota FIFA, bukan hanya komite eksekutif. Koalisi Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menang telak atas Maroko pada pemilihan di Moskow tahun 2018. Namun, minimnya drama dan intrik politik ini justru dianggap mengurangi tensi cerita yang biasanya membangun hype turnamen.
Faktor Politik dan Pengaruh Global
Narasi lain yang ikut memengaruhi persepsi Piala Dunia 2026 sepi adalah isu pengaruh politik dalam proses pemilihan tuan rumah. Beberapa laporan menyebut adanya tekanan diplomatik dalam proses voting, meski hal tersebut tidak terbukti secara hukum.
Hubungan erat antara federasi sepak bola Amerika dan FIFA juga disebut memperkuat posisi koalisi Amerika. Kondisi ini membuat sebagian pihak menilai hasil pemilihan kurang “drama kompetitif” yang biasanya menjadi bahan konsumsi publik sepak bola dunia.
Masalah Visa dan Akses Penonton
Isu serius lain yang memicu kekhawatiran Piala Dunia 2026 sepi adalah kebijakan visa Amerika Serikat. Sejumlah laporan menyebut ribuan penggemar dari berbagai negara mengalami penolakan visa, termasuk suporter tim nasional tertentu.
Tidak hanya suporter, beberapa anggota delegasi tim nasional dan bahkan perangkat pertandingan dilaporkan mengalami kendala serupa. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa akses penonton internasional ke stadion akan terbatas, sehingga atmosfer turnamen bisa berkurang.
Harga Tiket dan Biaya Tinggi
Selain akses, faktor ekonomi juga memperkuat narasi Piala Dunia 2026 sepi. FIFA menerapkan sistem harga tiket dinamis yang membuat harga pertandingan melonjak signifikan. Untuk laga fase grup saja, harga tiket dilaporkan bisa mencapai jutaan rupiah, sementara final dapat menembus ratusan juta rupiah.
Jika ditambah biaya akomodasi dan transportasi antar kota di tiga negara tuan rumah, total biaya menonton langsung Piala Dunia diperkirakan sangat tinggi. Kondisi ini membuat turnamen dianggap semakin eksklusif dan sulit dijangkau penonton umum.
Perubahan Perilaku Penonton
Faktor lain yang turut disorot dalam isu Piala Dunia 2026 sepi adalah perubahan perilaku penonton. Dengan jumlah pertandingan mencapai lebih dari 100 laga, sebagian penggemar dinilai hanya mengikuti hasil akhir ketimbang menonton langsung setiap pertandingan.
Selain itu, tren konsumsi konten sepak bola yang bergeser ke platform digital juga membuat pengalaman menonton langsung di stadion tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan utama.
Editor : Fadhilah Salsa Bella