TRENGGALEK NJENGGELEK - risiko panas ekstrem Piala Dunia 2026 menjadi perhatian serius para ilmuwan iklim menjelang digelarnya turnamen sepak bola terbesar dunia yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Peringatan ini muncul seiring meningkatnya suhu global yang berpotensi mengganggu jalannya pertandingan.
Isu risiko panas ekstrem Piala Dunia 2026 mencuat setelah sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar seperempat dari total pertandingan berpotensi dimainkan dalam kondisi suhu berbahaya. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi performa pemain hingga keselamatan penonton di stadion.
Dalam kajian risiko panas ekstrem Piala Dunia 2026, para peneliti menyoroti pentingnya penyesuaian jadwal dan protokol kesehatan ketat, mengingat turnamen ini akan melibatkan 48 negara dan berlangsung selama 39 hari di 16 kota berbeda di Amerika Utara.
25 Persen Laga Berpotensi Berbahaya
Menurut penelitian World Weather Attribution, sekitar 25 persen pertandingan FIFA World Cup 2026 diperkirakan berlangsung dalam kondisi panas ekstrem yang melebihi ambang aman olahraga.
Penelitian ini menggunakan metode Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) untuk mengukur tingkat stres panas dengan mempertimbangkan suhu udara, kelembaban, angin, dan paparan sinar matahari. Dalam standar olahraga internasional, WBGT di atas 26 derajat Celsius sudah dianggap berisiko dan membutuhkan cooling break serta pengawasan medis ketat.
Beberapa kota tuan rumah seperti Miami, Dallas, Houston, hingga Mexico City disebut memiliki potensi suhu tinggi yang dapat memicu kondisi berbahaya bagi pemain.
Ancaman Serius bagi Pemain dan Penonton
Para peneliti memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan ekstrem hingga heat stroke pada pemain. Bahkan, beberapa laga diperkirakan bisa mencapai suhu di atas 28 derajat Celsius, yang dianggap hampir tidak aman untuk aktivitas fisik intensitas tinggi.
Selain pemain, penonton juga berada dalam risiko. Ribuan suporter yang hadir di stadion harus beraktivitas di bawah paparan matahari langsung, mulai dari perjalanan menuju stadion hingga duduk berjam-jam di tribun terbuka.
Kondisi ini dikhawatirkan lebih berbahaya bagi kelompok rentan seperti lansia atau penonton dengan riwayat penyakit tertentu.
Potensi Penjadwalan Ulang Pertandingan
Peneliti dari World Weather Attribution, termasuk Choy Kimutai, menyebut bahwa dalam kondisi ekstrem, opsi penundaan atau penjadwalan ulang pertandingan perlu dipertimbangkan.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa hasil penelitian ini bukan untuk menentukan kebijakan secara langsung, melainkan memberikan gambaran ilmiah mengenai risiko yang mungkin terjadi selama turnamen berlangsung.
Dampak Perubahan Iklim Semakin Nyata
Studi tersebut juga membandingkan kondisi Piala Dunia 2026 dengan edisi 1994 yang juga digelar di Amerika Serikat. Saat itu, suhu di beberapa kota sempat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
Namun, kondisi saat ini dinilai jauh lebih berisiko karena dampak pemanasan global yang terus meningkat. Rata-rata suhu di kota penyelenggara disebut naik sekitar 1 derajat Celsius dibanding beberapa dekade lalu. Meski terlihat kecil, peningkatan tersebut berdampak besar pada kesehatan manusia dan aktivitas luar ruangan.
Jadwal Turnamen Tetap Berjalan
Meski ada peringatan tersebut, jadwal resmi tetap tidak berubah. Piala Dunia 2026 akan dibuka pada 11 Juni di Stadion Azteca, Meksiko, dan berakhir pada 19 Juni 2026 di Stadion MetLife, New Jersey.
Dengan adanya peringatan ini, penyelenggara diharapkan dapat menyiapkan langkah antisipasi agar turnamen tetap berjalan lancar tanpa mengabaikan keselamatan pemain maupun penonton.
Editor : Fadhilah Salsa Bella