TRENGGALEK NJENGGALEK - Nama Veda Ega Pratama semakin sering diperbincangkan dalam dunia balap motor internasional. Di usia yang masih sangat muda, pembalap asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu dinilai memiliki jalur karier menuju MotoGP yang berbeda dibandingkan pembalap Indonesia generasi sebelumnya.
Kesuksesan Veda Ega Pratama bukan lahir dari jalan pintas. Berbeda dengan sejumlah pembalap Indonesia yang sempat mencicipi level dunia melalui kesempatan wild card atau kontrak jangka pendek, Veda meniti karier secara bertahap melalui sistem pembinaan yang panjang dan terstruktur.
Perjalanan Veda Ega Pratama menuju MotoGP bahkan mulai disebut sebagai salah satu proyek pembinaan pembalap paling matang yang pernah dimiliki Indonesia. Prestasinya di level nasional, Asia, hingga Eropa menjadi bukti bahwa dirinya berkembang melalui proses yang berjenjang.
Dibentuk Sejak Usia Dini
Perjalanan Veda dimulai jauh sebelum namanya dikenal dunia balap internasional. Sejak usia lima tahun, ia sudah berlatih motor di kawasan Gunungkidul dengan bimbingan sang ayah.
Bukan di sirkuit megah, Veda mengasah kemampuan dasar di area sederhana yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam kariernya. Teknik pengereman, pengaturan gas, racing line, posisi tubuh, hingga konsistensi lap dilatih berulang kali sejak kecil.
Dari motocross mini, Veda kemudian berkembang ke balap aspal nasional sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi.
Dominasi di Kejuaraan Nasional
Nama Veda mulai mencuri perhatian ketika tampil dominan di berbagai kejuaraan nasional seperti Honda Dream Cup, Motoprix, dan OnePrix.
Yang membuatnya berbeda bukan hanya jumlah kemenangan yang diraih, tetapi cara ia memenangkan balapan. Veda dikenal memiliki gaya balap yang tenang, minim kesalahan, dan sangat konsisten sepanjang lomba.
Kemampuannya juga terbukti saat menjajal motor dengan kapasitas lebih besar di kelas AP250 Asia Road Racing Championship. Ia mampu langsung bersaing di barisan depan dan meraih podium tanpa mengalami kesulitan berarti.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Veda bukan pembalap yang bergantung pada satu kategori motor tertentu.
Juara Asia Talent Cup dengan Rekor Mengesankan
Musim 2023 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Veda sukses menjadi juara Asia Talent Cup dengan performa yang sangat dominan.
Ia memenangkan sembilan dari sepuluh balapan dan mengumpulkan 256 poin untuk mengunci gelar lebih awal sebelum musim berakhir.
Prestasi tersebut menjadi sejarah baru bagi Indonesia karena belum pernah ada pembalap nasional yang tampil sedominan itu di ajang pembinaan resmi menuju MotoGP.
Kesuksesan di Asia Talent Cup juga memperlihatkan kemampuan teknis, disiplin, dan kecerdasan balap yang dimiliki Veda.
Bersinar di Eropa
Setelah menaklukkan Asia, Veda melanjutkan tantangan ke Eropa melalui dua ajang penting sekaligus, yakni Red Bull MotoGP Rookies Cup dan FIM JuniorGP.
Pada Red Bull MotoGP Rookies Cup, Veda langsung menunjukkan kapasitasnya sebagai calon bintang masa depan. Ia berhasil meraih kemenangan di Mugello dan melanjutkannya dengan kemenangan lainnya di Sachsenring.
Tiga kemenangan dalam empat balapan membuat namanya masuk dalam persaingan perebutan gelar juara dan semakin diperhitungkan oleh tim-tim Eropa.
Keberhasilannya bersaing dengan pembalap muda terbaik dunia menunjukkan bahwa Veda tidak sekadar hadir sebagai peserta, melainkan sebagai penantang serius.
FIM JuniorGP Jadi Bekal Penting
Selain Rookies Cup, Veda juga menjalani musim kompetitif di FIM JuniorGP, kompetisi yang sering disebut sebagai gerbang terakhir menuju Moto3.
Meski menghadapi tantangan adaptasi dengan motor Honda NSF250R yang memiliki karakter berbeda dibanding rival-rivalnya, Veda terus menunjukkan perkembangan positif.
Hasil finis keenam dan kedelapan di Aragon menjadi indikasi bahwa proses adaptasinya berjalan ke arah yang tepat.
Bagi banyak pengamat, perkembangan performa yang stabil jauh lebih penting dibanding hasil instan.
Jalur Menuju MotoGP Dinilai Lebih Matang
Banyak analis menilai perbedaan terbesar antara Veda dan sejumlah pembalap Indonesia sebelumnya terletak pada proses pembentukannya.
Jika sebagian pembalap terdahulu mendapatkan kesempatan tampil di level dunia melalui jalur cepat, Veda justru menempuh tangga pembinaan secara lengkap. Ia meraih kemenangan di level nasional, mendominasi Asia, kemudian membuktikan kemampuannya di Eropa.
Proses tersebut membentuk kemampuan teknis, race craft, konsistensi, dan mental bertanding yang sangat dibutuhkan untuk bertahan di kejuaraan dunia.
Target Berikutnya: Moto3
Dengan performa yang terus meningkat, target berikutnya bagi Veda adalah mendapatkan kursi penuh di Moto3.
Pengamat menilai fokus utama saat ini adalah menjaga konsistensi di Red Bull MotoGP Rookies Cup dan meningkatkan hasil di FIM JuniorGP.
Jika perkembangan tersebut terus berlanjut, peluang Veda untuk promosi ke Moto3 dalam waktu dekat semakin terbuka lebar.
Bagi Indonesia, kehadiran Veda Ega Pratama menghadirkan harapan baru. Ia bukan hanya dianggap sebagai talenta berbakat, tetapi juga simbol keberhasilan sistem pembinaan yang mampu menghasilkan pembalap berkelas dunia. Jika proses ini terus berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin Indonesia akan segera memiliki pembalap yang mampu bersaing secara reguler di Moto3, Moto2, hingga MotoGP.
Editor : Gita Dwi Nuraini