TRENGGALEK NJENGGALEK - Nama Veda Ega Pratama semakin menguat sebagai simbol harapan baru Indonesia di dunia balap motor internasional. Di tengah dominasi pembalap Eropa dan Amerika Latin di ajang MotoGP, rider muda asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu dinilai memiliki peluang paling realistis untuk menembus kelas tertinggi balap motor dunia.
Selama bertahun-tahun, Indonesia memang telah mengirim sejumlah pembalap ke kompetisi internasional. Namun perjalanan Veda Ega Pratama dianggap berbeda karena dibangun melalui jalur pembinaan yang lebih terstruktur, mulai dari level nasional, Asia, hingga Eropa. Konsistensi prestasi yang ditorehkannya membuat banyak pengamat menyebut Veda sebagai pembalap Indonesia paling potensial dalam sejarah jalur menuju MotoGP.
Di usia yang masih sangat muda, Veda Ega Pratama sudah berhasil mencatat berbagai pencapaian yang belum pernah diraih pembalap Indonesia lainnya. Mulai dari juara Asia Talent Cup hingga bersaing dalam perebutan gelar Red Bull MotoGP Rookies Cup, Veda terus menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.
Awal Karier dari Asia Talent Cup
Nama Veda pertama kali menarik perhatian publik saat tampil sebagai wildcard pada Asia Talent Cup di Sirkuit Mandalika pada 2021. Meski hanya turun dalam satu seri, gaya balap agresif dan penuh keberanian membuatnya langsung mendapat sorotan.
Setahun kemudian, Veda menjalani musim penuh pertamanya di Asia Talent Cup. Alih-alih sekadar beradaptasi seperti kebanyakan pembalap debutan, ia justru tampil impresif dengan meraih tiga kemenangan sepanjang musim.
Hasil tersebut membawanya finis di posisi ketiga klasemen akhir dengan raihan 141 poin, sebuah pencapaian luar biasa bagi pembalap muda Indonesia.
Dominasi dan Gelar Juara Asia
Puncak performa Veda di Asia terjadi pada musim 2023. Ia tampil dominan dengan memenangi sembilan balapan dari total 12 seri yang digelar.
Raihan 256 poin mengantarkannya menjadi juara Asia Talent Cup sekaligus mencatat sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar tersebut.
Prestasi itu bukan sekadar menambah koleksi trofi, tetapi juga membuka jalan menuju level yang lebih tinggi. Sebagai bagian dari sistem pembinaan resmi menuju MotoGP, Asia Talent Cup menjadi gerbang bagi para talenta muda Asia untuk menembus kompetisi Eropa.
Bersinar di Red Bull MotoGP Rookies Cup
Setelah sukses di Asia, Veda melanjutkan karier ke Red Bull MotoGP Rookies Cup, kompetisi yang dikenal sebagai tempat lahirnya banyak bintang MotoGP modern.
Nama-nama seperti Jorge Martín, Joan Mir, dan Pedro Acosta pernah meniti jalur yang sama sebelum mencapai kelas utama.
Pada musim debutnya tahun 2024, Veda langsung mencetak sejarah baru bagi Indonesia. Ia berhasil meraih podium di Austria, rutin finis di posisi sepuluh besar, dan menutup musim di peringkat kedelapan klasemen dengan 112 poin.
Catatan tersebut menjadi pencapaian terbaik pembalap Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan di Rookies Cup.
Kandidat Juara di Eropa
Musim 2025 menjadi bukti bahwa keberhasilan Veda bukan kebetulan semata. Ia berkembang menjadi salah satu kandidat juara Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Beberapa kemenangan penting dan sejumlah podium membuatnya terus bersaing di papan atas klasemen. Konsistensi menjadi faktor utama yang membedakannya dari banyak pembalap muda lainnya.
Dalam hampir setiap balapan, Veda mampu bertarung di grup depan dan memperebutkan podium. Mental bertanding yang kuat membuatnya mampu menghadapi tekanan tinggi di lintasan Eropa.
FIM JuniorGP Jadi Bekal Menuju Moto3
Selain tampil di Rookies Cup, Veda juga menjalani kompetisi FIM JuniorGP yang sering disebut sebagai "Moto3 versi junior".
Persaingan di ajang ini sangat ketat karena diikuti para talenta terbaik dunia yang telah terbiasa balapan di Eropa sejak usia dini.
Meski sempat mengalami cedera dan proses adaptasi yang tidak mudah, performa Veda terus meningkat. Hasil finis enam besar dan delapan besar di Aragon menjadi sinyal positif bahwa ia mampu berkembang di level kompetitif tersebut.
Mengapa Veda Dinilai Berbeda?
Pengamat menilai ada tiga faktor utama yang membuat Veda berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Pertama, ia memiliki prestasi nyata di setiap jenjang pembinaan. Kedua, jalur kariernya mengikuti sistem resmi menuju MotoGP, mulai dari Asia Talent Cup, Rookies Cup, JuniorGP, hingga target Moto3.
Ketiga, Veda dikenal memiliki mental bertarung yang kuat dan konsistensi tinggi. Ia tidak hanya cepat dalam satu balapan, tetapi mampu mempertahankan performa sepanjang musim.
Dengan modal tersebut, peluangnya untuk menembus Moto3 bahkan MotoGP dinilai semakin terbuka.
Jika perkembangan positif ini terus berlanjut, Indonesia berpeluang menyaksikan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, seorang pembalap Merah Putih dapat bersaing secara reguler di panggung tertinggi balap motor dunia. Dan saat hari itu tiba, nama Veda Ega Pratama kemungkinan akan dikenang sebagai sosok yang membuka jalan bagi generasi pembalap Indonesia berikutnya.
Editor : Gita Dwi Nuraini