Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah Veda Ega Pratama: Bocah Ajaib Gunung Kidul Binaan Astra Honda yang Siap Guncang Panggung MotoGP!

Cholifatun Nisak • Minggu, 14 Juni 2026 | 16:31 WIB
Profil Veda Ega Pratama, pembalap muda Gunung Kidul binaan Astra Honda pembuat sejarah di Eropa yang kini menatap panggung dunia MotoGP!
Profil Veda Ega Pratama, pembalap muda Gunung Kidul binaan Astra Honda pembuat sejarah di Eropa yang kini menatap panggung dunia MotoGP!

TRENGGALEK NJENGGELEK- Nama Veda Ega Pratama kini menjelma sebagai sorotan utama dalam dunia balap motor internasional. Pembalap muda berbakat ini merupakan buah dari perjalanan panjang yang ditempa oleh bakat alami, kerja keras tanpa henti, serta sistem pembinaan berjenjang yang terstruktur. Namanya mencuat sebagai salah satu talenta terbaik yang lahir dari program PT Astra Honda Motor (AHM). Lewat dedikasi tinggi, Veda berhasil menorehkan sejarah baru sekaligus membawa harum nama Indonesia di kancah kejuaraan dunia.

Lahir di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta pada tanggal 23 November 2008, Veda telah akrab dengan deru mesin prototype sejak usia dini. Ketertarikannya pada olahraga ekstrem ini tidak lepas dari pengaruh besar sang ayah, Sudarmono, yang merupakan mantan pembalap nasional dan juara Indoprix 2012. Raungan knalpot sudah menjadi musik yang akrab di telinga Veda kecil karena ia sering diajak menyambangi berbagai arena perlombaan. Sudarmono mengenalkan Veda pada dunia roda dua sejak putranya masih balita dengan metode yang menyenangkan layaknya sebuah permainan.

Pada usia 4 tahun, Veda mulai mengenal motor kecil sekadar memegang atau memainkan grip gasnya. Setahun kemudian, di usianya yang kelima, ia mulai mahir mengendarai motor sendiri. Menginjak usia 6 tahun, sang ayah sudah berani mengikutsertakannya ke dalam berbagai event balap anak-anak. Perkenalan awal Veda dimulai dari ajang Mini GP. Melihat minat yang begitu masif dari sang anak, Sudarmono kemudian mengarahkannya ke balap garuk tanah atau motocross. Namun, saat menginjak usia 8 tahun, fokus latihan Veda dipindahkan sepenuhnya ke trek aspal, sebuah keputusan krusial yang menjadi fondasi emas bagi kariernya di balap motor road race.

Baca Juga: Alvaro Carpe Resmi Didiskualifikasi dari Moto3 Ceko 2026: Imbas Tabrakan Horor David Munoz, Feda Ega Pratama Untung Besar Naik ke Grid 9!

Didikan Keras dan Kurikulum Emas Astra Honda

Sejak saat itu, frekuensi partisipasi Veda dalam berbagai ajang balap nasional semakin meningkat tajam. Didikan sang ayah yang akrab disapa Momon dikenal sangat keras, ketat, dan disiplin. Berbekal pengalaman panjang sebagai pembalap profesional, Momon memahami betul risiko tinggi dari olahraga kecepatan ini. Latihan fisik berat menjadi menu wajib bagi Veda sepulang sekolah, yang membuatnya harus rela mengorbankan waktu bermain yang dimiliki oleh anak-anak seusianya demi mengejar mimpi.

Prestasi mengkilap Veda di level nasional akhirnya membawanya masuk ke dalam program bergengsi Astra Honda Racing School (AHRS) pada tahun 2019. Di akademi ini, bakat alaminya diasah jauh lebih dalam di bawah bimbingan para pelatih profesional serta pembalap senior dari Astra Honda Racing Team (AHRT). Hasilnya instan, Veda berhasil menunjukkan performa gemilang dan meraih predikat sebagai murid terbaik di AHRS. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata dari kesuksesan pola pembinaan berjenjang yang diterapkan oleh PT Astra Honda Motor.

AHM memiliki kurikulum balap yang matang dan sangat sistematis. Skema pembinaan dimulai dari perekrutan talenta muda di AHRS, kemudian diterjunkan ke Thailand Talent Cup, naik kelas ke Asia Road Racing Championship (ARRC), hingga menembus FIM JuniorGP di Eropa. Puncaknya adalah mengantarkan para pembalap ke kejuaraan dunia kelas Moto3, langkah tertinggi yang sebelumnya juga telah dilalui oleh para pembalap senior Indonesia seperti Andi Gilang dan Gerry Salim.

Baca Juga: Dorna dan FIM Bongkar Skandal Mesin Ilegal Rival: Feda Ega Pratama Resmi Meroket Kembali ke Takhta Puncak Klasemen Moto3!

Merajai Asia Hingga Mengguncang Eropa

Sebelum mencicipi ketatnya persaingan sirkuit Eropa, Veda mendapatkan kesempatan pertamanya di level regional saat memperoleh fasilitas wild card untuk berlaga di ajang Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) tahun 2021 di Sirkuit Mandalika. Musim 2022 menjadi tahun yang fenomenal karena Veda menjalani musim penuh pertamanya di IATC dan sukses merebut gelar juara sebagai pembalap termuda sepanjang sejarah. Hebatnya lagi, dominasi tersebut berlanjut pada musim 2023 di mana Veda kembali mengklaim titel juara Asia Talent Cup secara beruntun. Penampilan konsisten di podium tertinggi level Asia ini menjadi tiket emas yang membuka jalan lebarnya menuju benua biru.

Pada tahun 2024, Veda Ega Pratama resmi naik kelas untuk berkompetisi di ajang Red Bull MotoGP Rookies Cup. Sebagai seorang debutan, ia menunjukkan progres yang sangat signifikan sepanjang musim dan sering terlibat aksi saling salip di barisan depan melawan talenta-talenta muda terbaik dari seluruh dunia. Puncak penampilannya di musim 2024 terjadi di Sirkuit Red Bull Ring, Austria, di mana Veda sukses finis di posisi ketiga pada race kedua dan mempersembahkan podium perdananya tersebut sebagai kado Hari Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia.

Memasuki tahun 2025, performa Veda semakin matang dan menakutkan bagi rival-rivalnya. Ia sukses mengukir sejarah emas sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil menjuarai Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025. Gelar juara dunia junior tersebut dipastikan setelah penampilan dominan Veda di Sirkuit Mugello, Italia, dengan mencetak kemenangan ganda (double win) yang meyakinkan. Momen berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya di sirkuit legendaris Italia tersebut menjadi pencapaian luar biasa yang membanggakan bagi seluruh masyarakat tanah air.

Tantangan Baru di FIM JuniorGP dan Prospek MotoGP

Setelah sukses menaklukkan panggung Rookies Cup, pembalap beragama Islam ini langsung naik jenjang ke ajang FIM JuniorGP. Kompetisi ini dianggap sebagai batu loncatan terakhir bagi para pembalap muda sebelum bisa menembus ketatnya kejuaraan dunia Grand Prix kelas Moto3. Di ajang JuniorGP ini, Veda harus menghadapi tantangan baru yang menuntut adaptasi cepat. Ia kini memacu motor Honda NSF250RW yang memiliki karakter mesin, sasis, serta handling yang berbeda total dengan motor KTM RC 250R yang ia gunakan pada musim sebelumnya.

Meskipun demikian, Veda memiliki modal yang sangat berharga berkat pengalamannya yang sudah mengenal karakter sejumlah sirkuit Eropa seperti Jerez, Le Mans, dan Mugello. Di usianya yang masih belia, Veda telah menunjukkan kematangan teknis dan mentalitas yang melampaui batas usianya. Selama sesi latihan bebas di Sirkuit Aragon, Spanyol, para mekanik tim dibuat terpukau oleh kecepatan dan kecekatannya dalam membaca karakter lintasan. Veda mampu memberikan masukan yang sangat jelas, akurat, dan mendetail terkait setup suspensi hingga engine mapping motor, sebuah kepekaan tingkat tinggi yang jarang ditemui pada pembalap seusianya.

Dengan kemampuan membantu menyempurnakan data telemetri, didukung aura kepemimpinan yang kuat di dalam paddock, Veda Ega Pratama dinilai para pengamat internasional sebagai paket komplit calon juara dunia sejati di era modern MotoGP. Perjalanan karier anak muda dari Gunung Kidul ini membuktikan bahwa mimpi pembalap lokal untuk bersaing di panggung tertinggi dunia bukanlah hal yang mustahil, sekaligus menegaskan kesuksesan investasi jangka panjang program pembinaan berjenjang dari Astra Honda Motor bagi masa depan dunia otomotif Indonesia.

Baca Juga: Profil Lengkap Veda Ega Pratama: Pembalap Muda Asal Gunung Kidul Pembuat Sejarah yang Kini Kuasai Puncak Klasemen Dunia!

Editor : Cholifatun Nisak
#Veda Ega Pratama #Red Bull Rookies Cup #Astra Honda Racing School #Pembalap Gunung Kidul #Pembinaan Astra Honda