Trenggalek Njenggelek - Wacana besar yang berpotensi mengubah wajah MotoGP dalam beberapa tahun ke depan akhirnya menemui jalan buntu. Dorna Sports dilaporkan menolak usulan yang menginginkan tim satelit mendapatkan status setara dengan tim pabrikan dalam struktur kejuaraan MotoGP.
Isu tim satelit MotoGP menjadi salah satu topik utama dalam pembahasan kontrak komersial baru yang akan berlaku setelah musim 2026. Sejumlah tim berharap adanya perubahan besar dalam pembagian hak dan posisi mereka di kejuaraan dunia balap motor paling bergengsi tersebut.
Namun, harapan itu tampaknya belum akan terwujud dalam waktu dekat. Dorna disebut telah menolak proposal yang diajukan dalam pertemuan tim-tim MotoGP dan pemangku kepentingan lainnya.
Tim Satelit Ingin Status Setara
Usulan tersebut muncul dalam diskusi yang melibatkan International Road Racing Teams Association (IRTA). Salah satu poin penting yang diajukan adalah memberikan kedudukan yang lebih setara antara tim satelit dan tim pabrikan.
Keinginan itu muncul setelah meningkatnya daya saing tim satelit dalam beberapa musim terakhir. Puncaknya terjadi ketika tim satelit Pramac Racing berhasil merebut gelar juara dunia pembalap bersama Jorge Martin, mengalahkan sejumlah tim pabrikan besar.
Keberhasilan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa tim satelit kini memiliki kemampuan bersaing di level tertinggi dan layak mendapatkan posisi yang lebih kuat dalam struktur MotoGP.
Dorna Tetap Pertahankan Sistem Lama
Meski demikian, Dorna memilih mempertahankan model yang sudah berjalan selama ini. Menurut berbagai laporan, proposal tersebut langsung ditolak dan tidak masuk ke tahap pembahasan lanjutan.
Keputusan ini menunjukkan bahwa Dorna masih ingin mempertahankan keseimbangan antara tim pabrikan dan tim satelit. Struktur yang ada dinilai masih menjadi fondasi utama dalam pengelolaan MotoGP modern.
Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa perubahan besar dalam aspek nonteknis MotoGP tidak akan semudah perubahan regulasi teknis yang sudah disepakati untuk musim 2027.
Liberty Media Masih Jadi Sorotan
Situasi ini terjadi di tengah era baru MotoGP setelah Liberty Media resmi mengambil alih hak komersial kejuaraan.
Banyak pihak berharap pemilik baru tersebut akan membawa perubahan besar dalam tata kelola MotoGP, seperti yang sebelumnya dilakukan terhadap Formula 1.
Namun hingga saat ini, Liberty Media masih terlihat berhati-hati dan belum menunjukkan intervensi besar terhadap berbagai kebijakan strategis yang dijalankan Dorna.
Karena itu, arah baru MotoGP pasca-2026 masih menjadi tanda tanya besar bagi banyak tim dan penggemar.
Cost Cap dan Gaji Pembalap Ikut Dibahas
Selain status tim satelit, sejumlah usulan lain juga mulai muncul dalam diskusi masa depan MotoGP.
Salah satunya adalah penerapan cost cap atau batas pengeluaran tim seperti yang diterapkan Formula 1. Ide tersebut muncul setelah beberapa pabrikan mengalami tekanan finansial dalam beberapa musim terakhir.
Di sisi lain, para pembalap juga mulai mendorong adanya standar minimum kontrak atau biaya tanda tangan agar kesejahteraan rider lebih terjamin.
Topik ini menjadi penting karena sejumlah pembalap merasa nilai kontrak mereka belum sebanding dengan risiko dan kontribusi yang diberikan di lintasan.
Aturan Kontrak Pembalap Bisa Diperketat
Perselisihan kontrak yang sempat terjadi dalam beberapa kasus juga menjadi perhatian serius. Dorna disebut ingin menghindari konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu stabilitas kejuaraan.
Karena itu, aturan mengenai sengketa kontrak pembalap berpotensi diperketat pada masa mendatang. Tujuannya untuk memberikan kepastian hukum bagi tim maupun rider.
Langkah tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa MotoGP tidak hanya bersiap menghadapi perubahan teknis pada 2027, tetapi juga perubahan tata kelola bisnis yang lebih kompleks.
Masa Depan MotoGP Masih Dinamis
Dengan berakhirnya kontrak komersial pada 2026, berbagai negosiasi diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Meski usulan kesetaraan tim satelit ditolak, diskusi mengenai pembagian pendapatan, hak komersial, regulasi finansial, hingga perlindungan kontrak pembalap dipastikan akan terus menjadi agenda utama.
MotoGP saat ini tengah memasuki salah satu periode paling penting dalam sejarah modernnya. Keputusan yang diambil dalam beberapa tahun ke depan berpotensi menentukan arah perkembangan kejuaraan untuk satu dekade mendatang.
Editor : M. Helmi Nurhisam