TRENGGALEK NJENGGELEK– Nama Veda Ega Pratama kini menjadi pusat perhatian penggemar balap tanah air. Sebagai pembalap Indonesia yang tengah berkompetisi di ajang bergengsi Moto3, Veda menunjukkan performa yang jauh melampaui ekspektasi awal musimnya. Memasuki jeda setelah menyelesaikan delapan seri balapan, pembalap muda berbakat ini telah berhasil menorehkan dua kali podium, sebuah pencapaian yang mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri.
Di awal musim, Veda secara terbuka menyatakan bahwa target utamanya hanyalah belajar dan beradaptasi dengan kelas Grand Prix. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Veda kini bertengger di posisi keenam klasemen sementara, sebuah posisi yang sangat kompetitif bagi seorang pembalap rookie.
"Alhamdulillah pastinya senang sekali dengan apa yang saya jalani sejauh ini. Walaupun ada satu podium yang diraih karena ada pembalap lain yang didiskualifikasi, saya merasa progres saya dalam menyelesaikan balapan cukup baik," ujar Veda dalam wawancara eksklusif bersama awak media.
Belajar dari Drama dan Kesalahan di Lintasan
Perjalanan delapan seri perdana tentu tidak lepas dari berbagai drama. Salah satu yang paling membekas adalah hukuman long lap saat kualifikasi di Hungaria. Veda mengakui bahwa insiden tersebut murni karena kurangnya kehati-hatian saat ia hendak kembali ke lintasan usai masuk ke pit lane. Meski tidak sengaja, Veda menjadikannya sebagai pelajaran berharga agar lebih teliti dalam memperhitungkan posisi pembalap lain di belakangnya.
Mengenai dinamika persaingan di kelas Moto3, Veda menegaskan bahwa kunci utama dalam menghadapi sirkuit yang belum pernah ia jajaki sebelumnya adalah kecepatan adaptasi. "Saya hanya berpikir semua pembalap sama-sama belum tahu sirkuit tersebut. Siapa yang mampu beradaptasi lebih cepat, dialah yang akan menang," jelas Veda. Ia pun menyebutkan bahwa seri di Brazil menjadi salah satu momen paling spesial baginya karena berhasil mengamankan podium di lintasan yang benar-benar baru.
Menepis Rumor Persaingan di Luar Lintasan
Tidak hanya soal prestasi, nama Veda juga kerap disandingkan dengan pembalap Malaysia, Hakim Danis, di media sosial. Hubungan keduanya sering kali memancing perdebatan panas di kalangan netizen. Menanggapi hal tersebut, Veda dengan tenang memberikan klarifikasi bahwa hubungan mereka baik-baik saja di luar lintasan.
"Kami berteman seperti biasa. Memang di off track wajar saja ada persaingan, karena kami sama-sama ingin menang. Orang-orang saja yang mungkin membuat situasi jadi ramai," ucap Veda santai. Ia juga mengaku tidak ambil pusing terkait masalah teknis yang dialami pembalap lain, termasuk Adrian Fernandez yang menggunakan mesin Honda serupa. Fokus Veda tetap satu: terus meningkatkan kemampuan riding-nya sendiri tanpa terdistraksi isu teknis.
Fokus Belajar hingga Akhir Musim
Saat ditanya mengenai target di sisa seri balapan musim ini, Veda tetap rendah hati. Ia menolak untuk memasang target spesifik seperti masuk dalam tiga besar atau mengejar gelar Rookie of the Year. Baginya, mengoleksi poin sebanyak-banyaknya dan menyerap ilmu sebanyak mungkin adalah prioritas utama.
Mengenai masa depannya, apakah akan bertahan di Moto3 atau naik ke kelas Moto2 pada musim depan, Veda memilih untuk realistis. "Ini baru tahun pertama saya, jadi saya belum tahu. Kita lihat nanti saja, yang penting saya fokus memberikan yang terbaik untuk diri saya sendiri," pungkasnya.
Setelah menikmati waktu singkat bersama keluarga di Indonesia, Veda akan segera kembali bertolak ke Eropa untuk melanjutkan perjuangannya di seri Ceko. Dukungan doa dari masyarakat tanah air menjadi bahan bakar tambahan bagi Veda untuk terus membawa bendera Merah Putih berkibar di kancah balap internasional.