TRENGGALEK NJENGGALEK - Nama Marc Marquez identik dengan gelar juara dunia, aksi agresif di lintasan, dan reputasi sebagai salah satu pembalap terbaik dalam sejarah MotoGP. Namun di balik kesuksesannya, terdapat kisah masa kecil yang penuh pengorbanan dan perjuangan keluarga yang jarang diketahui publik.
Dalam sebuah wawancara panjang, Marc Marquez mengenang awal perjalanannya mengenal dunia balap. Menariknya, memori pertama yang masih diingat pembalap Spanyol tersebut justru bukan kemenangan, melainkan sebuah kecelakaan saat masih kecil.
"Saya ingat kecelakaan ketika masih berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Itu adalah salah satu kenangan pertama saya tentang motor," ungkap Marquez.
Meski begitu, kenangan yang paling membekas baginya adalah momen-momen menghabiskan akhir pekan bersama keluarga saat mengikuti berbagai kompetisi balap.
Awal Mula Marc Marquez Mengenal Motor
Marc Marquez mengungkapkan bahwa dirinya mulai mengendarai motor sejak usia hampir empat tahun. Hadiah motor pertamanya diberikan saat Natal oleh kedua orang tuanya.
Motor tersebut adalah Yamaha PW, salah satu motor anak-anak yang sangat populer pada era tersebut.
Menurut Marquez, sejak kecil dirinya memang hanya menginginkan motor sungguhan, bukan motor mainan bertenaga baterai seperti kebanyakan anak seusianya.
Bersama sang ayah, ia mulai berlatih motocross dan perlahan menunjukkan bakat luar biasa di dunia balap.
Baca Juga: Jalan Menuju Bendungan Ngepeh Rusak, Warga Harap Perbaikan Dilanjutkan
Pernah Balapan Sebelum Usia yang Diizinkan
Salah satu cerita menarik yang diungkap Marc Marquez adalah pengalamannya mengikuti balapan saat usianya belum memenuhi syarat.
Saat itu batas minimum usia pembalap adalah lima tahun. Namun Marquez sudah mengikuti sebuah balapan enduro ketika berusia empat tahun sepuluh bulan.
Ia mengakui hal tersebut sebenarnya tidak sesuai aturan, tetapi situasi pada masa itu berbeda dengan sekarang.
Setelah genap berusia lima tahun, Marquez mulai mengikuti berbagai kejuaraan enduro secara resmi. Tidak lama kemudian, ia beralih ke motocross dan mulai meraih banyak kemenangan.
Ketika berusia delapan tahun, Marquez mencoba balap aspal atau road racing. Keputusan tersebut kemudian menjadi titik awal perjalanan menuju MotoGP.
Keluarga Rela Tidak Liburan demi Karier Balap
Marc Marquez juga mengenang pengorbanan besar keluarganya dalam mendukung karier balapnya.
Ia menegaskan bahwa keluarganya bukan keluarga kaya. Membeli motor balap untuk anak-anak saja sudah menjadi pengeluaran yang cukup besar.
Bahkan, uang yang seharusnya digunakan untuk berlibur sering kali dialihkan untuk kebutuhan balap dirinya dan sang adik, Alex Marquez.
"Kami tidak pernah liburan. Semua fokus untuk balapan," kata Marquez.
Ayahnya juga mengajarkan nilai kehidupan yang hingga kini masih dipegang teguh. Jika ingin serius di dunia balap, maka ada banyak hal lain yang harus dikorbankan.
Saat kecil, Marquez sempat ingin bermain sepak bola bersama teman-temannya. Namun sang ayah meminta dirinya memilih antara sepak bola atau balap motor.
Tanpa ragu, Marquez memilih dunia balap.
Bakat Besar yang Dilihat Sejak Dini
Karier Marquez mulai berubah ketika seorang pemilik sirkuit motocross melihat potensinya.
Orang tersebut menilai Marquez memiliki kemampuan menikung yang sangat cocok untuk balap aspal.
Tak lama kemudian, Marquez mendapat kesempatan mengikuti ajang promosi balap di Catalunya menggunakan motor produksi Prancis.
Meski awalnya sering terjatuh dan kesulitan karena posturnya sangat kecil, bakatnya mulai menarik perhatian sebuah tim balap.
Saat berusia sembilan tahun, ia mendapatkan dukungan penuh dari tim tersebut sehingga keluarganya tidak lagi menanggung seluruh biaya balapan.
Menurut Marquez, dukungan itu menjadi titik penting yang memungkinkan kariernya terus berkembang hingga mencapai level tertinggi.
Sosok Ramah di Luar Lintasan, Garang Saat Balapan
Marquez juga menanggapi anggapan banyak orang yang menilai dirinya sangat berbeda antara di lintasan dan kehidupan sehari-hari.
Ia mengakui selalu berusaha bersikap baik kepada orang lain. Namun ketika balapan dimulai, fokusnya hanya satu, yakni memenangkan kompetisi.
"Anda tidak bisa terlalu baik kepada lawan saat sedang berkompetisi," ujarnya.
Meski dikenal agresif di lintasan, Marquez menegaskan dirinya tetap menjaga hubungan baik dengan para rival, termasuk sang adik Alex Marquez.
Bahkan keduanya sering berlatih bersama, menjalani pola makan yang sama, hingga tinggal serumah saat menjalani musim balap.
Rahasia Menjadi Pembalap MotoGP
Selain membahas masa kecil, Marc Marquez juga mengungkap rutinitas yang dijalaninya sebagai pembalap profesional.
Menurutnya, menjadi pembalap MotoGP tidak hanya soal kecepatan di lintasan, tetapi juga disiplin selama 24 jam setiap hari.
Ia biasanya bangun sekitar pukul 07.30 pagi, menjalani sesi kardio seperti bersepeda atau berlari, kemudian melanjutkan latihan gym pada sore hari.
Namun di tengah kesibukan tersebut, Marquez tetap menyempatkan waktu untuk keluarga dan kekasihnya.
Saat masa liburan tiba, ia justru memilih hidup tanpa jadwal yang ketat.
"Saya tidak ingin memiliki rencana yang terlalu kaku saat liburan. Saya hanya ingin menikmati waktu dengan santai," tuturnya.
Kisah perjalanan Marc Marquez menunjukkan bahwa kesuksesan di MotoGP tidak datang secara instan. Di balik deretan gelar juara dunia yang diraihnya, terdapat pengorbanan keluarga, kerja keras, dan keputusan besar yang sudah dibuat sejak usia sangat muda.
Editor : Gita Dwi Nuraini