TRENGGALEK NJENGGALEK – Nasib tragis dialami Fabio Quartararo pada balapan MotoGP Inggris di Silverstone. Saat kemenangan sudah berada di depan mata, pembalap Yamaha itu justru kehilangan peluang finis pertama akibat masalah teknis yang terjadi pada motornya.
Fabio Quartararo tampil luar biasa sepanjang balapan. Juara dunia MotoGP 2021 tersebut memimpin dengan keunggulan hingga 4,5 detik atas para rivalnya dan terlihat berada di jalur pasti menuju kemenangan pertamanya setelah sekian lama.
Namun petaka datang ketika balapan menyisakan delapan putaran. Secara tiba-tiba, Fabio Quartararo mengangkat tangannya saat masih memimpin lomba. Momen itu langsung mengejutkan seluruh tim Yamaha dan para penggemar yang menyaksikan jalannya balapan di Silverstone.
Pembalap asal Prancis tersebut terpaksa melambat dan akhirnya kehilangan posisi terdepan. Kemenangan yang hampir pasti diraih pun lenyap dalam hitungan detik.
Baca Juga: Jalan Menuju Bendungan Ngepeh Rusak, Warga Harap Perbaikan Dilanjutkan
Dominasi Fabio Quartararo Berakhir Tragis
Sebelum masalah terjadi, Quartararo menjalani salah satu penampilan terbaiknya dalam beberapa musim terakhir. Ia mampu mengendalikan balapan sejak awal dan menjaga jarak aman dari para pesaing.
Bahkan sejumlah pengamat menyebut performanya nyaris sempurna. Quartararo tampil agresif saat dibutuhkan, tetapi tetap mampu mengelola ban dan ritme balapan dengan sangat baik.
Situasi berubah saat motor Yamaha miliknya mengalami kerusakan pada perangkat rear ride height device, teknologi yang digunakan untuk meningkatkan akselerasi motor saat keluar tikungan.
Perangkat tersebut diduga macet dalam posisi aktif sehingga mengganggu keseimbangan motor. Quartararo terlihat beberapa kali mencoba mengerem keras untuk melepaskan sistem tersebut, tetapi usahanya tidak berhasil.
Akibatnya, motor Yamaha miliknya tidak lagi dapat dikendarai secara normal dan ia kehilangan peluang meraih kemenangan yang sudah berada di depan mata.
Air Mata Fabio Quartararo di Silverstone
Kegagalan tersebut menjadi pukulan emosional bagi Quartararo. Setelah turun dari motor, pembalap berusia 27 tahun itu tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya.
Ekspresi sedih terlihat jelas ketika ia kembali ke paddock Yamaha. Rekan-rekan tim berusaha memberikan dukungan, tetapi Quartararo tampak sangat terpukul karena merasa telah melakukan segalanya dengan benar.
Banyak pihak menilai pembalap Prancis itu sebenarnya layak menjadi pemenang MotoGP Inggris. Ia tidak melakukan kesalahan sepanjang balapan dan mampu mengendalikan lomba dengan sangat baik.
Sayangnya, masalah teknis yang jarang terjadi pada Yamaha justru menghancurkan kerja kerasnya.
Quartararo Tetap Ambil Sisi Positif
Meski kecewa berat, Quartararo mencoba melihat sisi positif dari performanya di Silverstone. Dalam pernyataannya setelah balapan, ia mengakui bahwa tim sebenarnya memiliki kecepatan yang sangat kompetitif.
"Kami menjalani balapan yang luar biasa. Sayangnya perangkat ride height belakang mengalami kerusakan dan itu mengakhiri balapan kami," ujar Quartararo.
Ia menambahkan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana sebelum masalah tersebut muncul.
"Saya tahu kapan harus menekan, saya tahu di mana harus mengambil risiko saat pengereman karena pengaruh angin. Semuanya berada dalam kendali sampai putaran itu," lanjutnya.
Meski gagal menang, Quartararo tetap mengapresiasi peningkatan performa Yamaha yang mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Harapan Baru untuk Yamaha
Penampilan Fabio Quartararo di Silverstone memberikan harapan besar bagi Yamaha. Dalam beberapa musim terakhir, pabrikan asal Jepang tersebut kesulitan bersaing dengan Ducati dan Aprilia.
Namun kecepatan yang ditunjukkan Quartararo membuktikan bahwa Yamaha mulai menemukan arah pengembangan yang tepat.
Bagi Quartararo sendiri, kegagalan di Silverstone memang menyakitkan. Namun performa dominan yang ia tunjukkan menjadi bukti bahwa dirinya masih merupakan salah satu pembalap tercepat di MotoGP.
Meski pulang tanpa kemenangan, Quartararo berhasil mengirim pesan kuat kepada para rivalnya bahwa ia dan Yamaha kembali memiliki potensi untuk bertarung di barisan depan.
Editor : Gita Dwi Nuraini