TRENGGALEK NJENGGALEK - Nama Guido Pini mulai menjadi sorotan di ajang Moto3 2025. Meski baru menjalani musim debut di kejuaraan dunia, pembalap muda Italia itu dinilai sebagai salah satu talenta paling menjanjikan yang siap mengikuti jejak para bintang besar MotoGP.
Dalam sebuah wawancara di podcast otomotif Italia, Guido Pini menceritakan perjalanan panjangnya hingga berhasil menembus Kejuaraan Dunia Moto3. Pembalap kelahiran Borgo San Lorenzo, Italia, pada 10 Januari 2008 itu mengaku kecintaannya terhadap dunia balap motor sudah tumbuh sejak usia sangat dini.
Menurut Guido, minatnya terhadap motor berasal dari keluarganya. Sang ayah, Matteo Pini, merupakan sosok yang pertama kali mengenalkannya pada dunia balap. Kecintaan itu bahkan diwariskan secara turun-temurun dari sang kakek.
“Saya pertama kali naik mini moto saat berusia 2 tahun 8 bulan. Sejak kecil saya sudah terbiasa berada di lingkungan balap,” ungkap Guido.
Awal Karier dan Titik Balik di Spanyol
Karier balap Guido Pini berkembang secara bertahap. Ia memulai dari ajang minimoto sebelum beralih ke Mini GP dan PreMoto3. Meski berhasil menjadi juara Italia dan Eropa di kelas minimoto, Guido mengaku dirinya bukan pembalap yang langsung mendominasi sejak awal.
Setelah hampir meraih gelar di kompetisi nasional Italia, Guido mengambil keputusan besar untuk pindah ke Spanyol demi meningkatkan kemampuannya. Langkah tersebut menjadi titik penting dalam kariernya.
Namun, perjalanan di Spanyol tidak langsung berjalan mulus. Pada musim pertamanya di kompetisi Eropa, Guido hanya mampu finis di posisi ke-18 klasemen. Hasil itu menjadi tantangan besar bagi pembalap muda tersebut.
Alih-alih menyerah, Guido memilih bekerja lebih keras. Ia menghabiskan banyak waktu di Malaga untuk berlatih dan beradaptasi dengan level persaingan yang jauh lebih tinggi.
Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Pada 2022, Guido sukses menjuarai European Talent Cup, sebuah pencapaian yang membuat namanya mulai diperhitungkan di kancah internasional.
Konsisten Bersinar Hingga Tembus Moto3
Performa Guido terus meningkat dalam beberapa musim berikutnya. Pada 2023, ia meraih dua podium di Red Bull Rookies Cup. Setahun kemudian, ia tampil impresif di JuniorGP dengan koleksi tiga kemenangan, lima podium, dua pole position, dan finis sebagai runner-up klasemen akhir.
Menariknya, posisi kedua tersebut diraih di belakang Alvaro Carpe, yang kini juga menjadi salah satu rivalnya di Moto3.
Keberhasilan itu membuka jalan bagi Guido untuk promosi ke Kejuaraan Dunia Moto3 pada 2025. Meski masih berstatus rookie, ia menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan sepanjang musim.
“Saya tahu kami bisa tampil lebih baik. Kecepatan sudah ada, sekarang tinggal mengubahnya menjadi hasil yang lebih besar saat balapan,” katanya.
Pengorbanan Besar Demi Mimpi Balap
Salah satu cerita yang paling menarik dari perjalanan Guido Pini adalah pengorbanannya di usia muda. Demi mengejar karier balap, ia harus meninggalkan kehidupan remaja yang normal.
Pada usia 13 tahun, Guido mulai menghabiskan banyak waktu di Spanyol untuk berlatih. Ia bahkan harus meninggalkan sekolah formal dan melanjutkan pendidikan secara daring.
Keputusan itu tidak mudah, baik bagi dirinya maupun keluarganya. Namun Guido mengaku selalu mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
Ia juga merasa beruntung mendapatkan bimbingan dari mantan pembalap dan pelatih berpengalaman Emilio Alzamora. Bersama Alzamora, Guido menjalani program latihan intensif yang membantunya berkembang sebagai pembalap profesional.
Terinspirasi Marc Marquez
Di luar lintasan, Guido Pini mengaku memiliki satu idola besar, yakni pembalap MotoGP Marc Marquez.
Menurutnya, gaya balap agresif dan mental juara Marquez menjadi inspirasi utama dalam kariernya. Bahkan, nomor balap yang digunakannya saat ini, 94, memiliki kaitan dengan nomor 93 milik Marquez yang tidak bisa ia gunakan karena sudah dipakai pembalap lain.
Guido menggambarkan dirinya sebagai pembalap agresif yang selalu berani memanfaatkan celah untuk menyalip lawan. Karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan utamanya sejak masih berlaga di kategori junior.
Meski demikian, pembalap muda Italia itu menyadari bahwa perjalanan menuju puncak masih panjang. Fokus utamanya saat ini adalah terus berkembang dan mengumpulkan pengalaman di Moto3 sebelum berbicara soal gelar juara dunia.
Editor : Gita Dwi Nuraini