TRENGGALEK NJENGGELEK - Panggung balap Grand Prix Moto3 musim 2026 langsung memanas setelah rider muda kebanggaan Indonesia, Veda Ega Pratama, buka-bukaan mengenai kesulitan besar yang dihadapinya pada balapan terakhir di Hungaria. Muncul rumor kuat bahwa manajemen tim harus segera melakukan upgrade motor veda ega pratama demi menjaga asa kompetitifnya di sirkuit-sirkuit non-Asia yang terkenal memiliki karakteristik teknis yang sangat menyiksa bagi para pembalap ruki.
Kegagalan meraih hasil maksimal di Hungaria memicu perbincangan hangat di kalangan pencinta otomotif tanah air mengenai seberapa mendesaknya langkah upgrade motor veda ega pratama agar bisa bersaing ketat dengan motor KTM yang mendominasi barisan depan. Veda mengakui bahwa dirinya sempat tampil menjanjikan di tiga lap awal balapan, namun performa motornya merosot tajam seiring habisnya daya cengkeram ban belakang secara drastis.
Kurangnya data sirkuit baru serta masalah teknis pada suspensi membuat opsi upgrade motor veda ega pratama menjadi bahan evaluasi yang krusial bagi kru mekanik sebelum memasuki rangkaian Asia Tour. Veda menjelaskan bahwa kegagalannya melakukan simulasi race akibat terjatuh di sesi Free Practice 2 (FP2) membuat tim buta arah mengenai setelan motor yang tepat ketika temperatur oli pada komponen shockbreaker mulai memanas dan mengencer di lintasan.
Baca Juga: 7 Mobil Bekas di Bawah Rp100 Juta yang Minim Penyakit, Avanza hingga Honda Jazz Jadi Pilihan Aman
Evaluasi Setelan Eks Tayo Furusato
Sebagai pembalap ruki di kelas Grand Prix, Veda menunggangi motor yang sebelumnya digunakan oleh pembalap tangguh asal Jepang, Tayo Furusato. Banyak pihak berspekulasi bahwa motor tersebut tidak mengalami banyak perubahan mendasar. Namun, Veda membantah bahwa dirinya hanya meniru mentah-mentah setelan pendahulunya tersebut.
Setiap pembalap memiliki gaya berkendara, metode pengereman, dan cara membuka tuas gas yang sangat berbeda. Menurut pembalap muda berbakat ini, tim mekanik sejatinya selalu menggunakan data dasar dari balapan sebelumnya, seperti dari Sirkuit Mugello, untuk kemudian disesuaikan secara minor dengan tantangan di sirkuit berikutnya tanpa melakukan rombakan ekstrem.
Nestapa Penalti Berat di Hungaria
Balapan di Hungaria diakui Veda sebagai salah satu momen paling sulit sepanjang karier balap profesionalnya. Selain kendala teknis akibat ban yang kehilangan daya cengkeram (grip), ia juga harus menerima pil pahit berupa long lap penalty dari race direction.
Hukuman tersebut dijatuhkan akibat kesalahan fatal saat kualifikasi kedua (Q2), di mana ia berjalan terlalu lambat di jalur balap (racing line) utama saat hendak masuk ke area pit, sehingga tidak sengaja mengganggu laju pembalap lain yang sedang melakukan hot lap. Veda sadar betul bahwa ia harus lebih waspada ke depannya karena penalti untuk pelanggaran berulang akan jauh lebih berat dan merugikan tim.
Menanti Kebangkitan di Asia Tour 2026
Baca Juga: 7 Mobil Bekas di Bawah Rp100 Juta yang Minim Penyakit, Avanza hingga Honda Jazz Jadi Pilihan Aman
Meskipun kecewa hanya bisa membawa pulang poin tanpa bisa merayakan podium, Veda kini menatap optimistis seri balapan selanjutnya yang akan berlangsung di benua Asia. Sirkuit-sirkuit legendaris seperti Motegi di Jepang, Sepang di Malaysia, serta Sirkuit Mandalika di Indonesia merupakan lintasan favorit yang sudah sangat dikenalnya dengan baik.
Dengan bekal pengalaman dari sirkuit Asia yang lengkap, tingkat kepercayaan diri Veda dipastikan melonjak drastis. Keputusan akhir mengenai modifikasi motor tetap berada di tangan Veda berdasarkan komunikasi intensif bersama manajer tim Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, guna memastikan performa optimal di lintasan.