TRENGGALEK NJENGGALEK - Veda Ega Pratama terus mencuri perhatian pada musim Moto3 2026. Di tengah berbagai kontroversi dan skandal teknis yang mengguncang persaingan kelas ringan Grand Prix, pembalap muda Indonesia itu justru menunjukkan konsistensi luar biasa hingga berhasil menembus posisi ketiga klasemen sementara dunia.
Pencapaian Veda Ega Pratama menjadi salah satu cerita terbesar dalam Moto3 musim ini. Saat sejumlah rival harus kehilangan poin akibat sanksi dan diskualifikasi, rider Honda Team Asia tersebut terus mengumpulkan poin penting melalui performa stabil di lintasan.
Kini, Veda Ega Pratama menempati posisi ketiga klasemen Moto3 2026 dengan koleksi 71 poin. Posisi tersebut membuat namanya mulai masuk dalam pembahasan perebutan gelar juara dunia, sesuatu yang sebelumnya nyaris tidak pernah dibayangkan banyak pihak pada awal musim.
Dari Rookie Menjadi Penantang Papan Atas
Saat musim dimulai, Veda datang dengan status rookie atau pendatang baru. Banyak pengamat internasional lebih fokus kepada nama-nama besar yang sudah berpengalaman di Moto3.
Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu pasar terbesar MotoGP di dunia, tetapi belum memiliki tradisi panjang dalam menghasilkan pembalap yang mampu bersaing memperebutkan gelar Grand Prix.
Namun Veda perlahan membuktikan bahwa dirinya layak diperhitungkan. Ia tampil konsisten sejak seri pembuka dan berhasil menghindari kesalahan yang kerap dialami para pembalap muda.
Meski belum mendominasi balapan demi balapan, Veda mampu mengumpulkan poin secara rutin. Strategi tersebut membuat posisinya terus merangkak naik di klasemen.
Momentum terbesar terjadi ketika ia berhasil meraih podium bersejarah di Moto3 Brasil. Hasil itu membuat namanya mulai menjadi perhatian media internasional dan para rival di paddock.
Diuntungkan Skandal Diskualifikasi Rival
Perubahan besar di klasemen Moto3 2026 terjadi setelah beberapa pembalap terkena sanksi akibat pelanggaran teknis.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah diskualifikasi Adrian Fernandez yang berdampak besar terhadap perolehan poin. Selain itu, Brian Uriarte juga disebut terkena sanksi yang memengaruhi posisi klasemen sementara.
Situasi tersebut membuat persaingan kejuaraan semakin terbuka.
Berbeda dengan sejumlah rivalnya, seluruh poin yang diraih Veda diperoleh dari hasil balapan di lintasan tanpa tersandung masalah regulasi teknis. Kondisi itu membuat pembalap Indonesia tersebut mampu naik ke posisi tiga besar dunia.
Konsistensi yang ditunjukkan Veda menjadi faktor penting di tengah musim yang penuh dinamika.
Peluang Kejar Gelar Dunia Masih Terbuka
Meski berada di posisi ketiga klasemen, jalan Veda menuju gelar dunia masih sangat panjang. Di depannya masih terdapat dua pembalap yang menjadi pesaing utama dalam perebutan gelar Moto3 2026, yakni Maximo Quiles dan Alvaro Carpe.
Keduanya masih menjadi tolok ukur performa di kelas Moto3 musim ini.
Namun yang membuat banyak pengamat optimistis adalah tren performa Veda yang terus meningkat dari seri ke seri. Pembalap berusia 17 tahun itu terlihat semakin percaya diri saat bertarung di kelompok depan.
Kemampuannya dalam menjaga ritme balapan, mengelola tekanan, serta mengambil keputusan saat duel langsung dengan rival menjadi nilai tambah yang menonjol sepanjang musim.
Karena itu, sejumlah analis mulai memasukkan nama Veda sebagai kandidat kuda hitam dalam perburuan gelar dunia Moto3 2026.
Harapan Baru Balap Motor Indonesia
Keberhasilan Veda menembus posisi tiga besar klasemen dunia menjadi pencapaian penting bagi balap motor Indonesia.
Jika sebelumnya publik hanya berharap melihat pembalap Indonesia tampil di ajang Grand Prix, kini situasinya telah berubah. Indonesia mulai memiliki wakil yang mampu bersaing di papan atas kejuaraan dunia.
Musim masih menyisakan banyak balapan dan segala kemungkinan masih bisa terjadi. Namun satu hal yang sudah pasti, Veda Ega Pratama kini bukan lagi sekadar rookie yang mencuri perhatian.
Ia telah menjelma menjadi salah satu penantang serius di Moto3 2026 dan membawa harapan besar bagi Indonesia untuk terus bersaing di panggung balap motor dunia.
Editor : Gita Dwi Nuraini