Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Lucy Wiryono Bongkar Sisi Lain Veda Ega Pratama, Tetap Prioritaskan Sekolah Meski Jadi Bintang Balap Indonesia dan Bidik MotoGP

Gita Dwi Nuraini • Sabtu, 20 Juni 2026 | 21:05 WIB
Lucy Wiryono mengungkap sisi lain Veda Ega Pratama yang tetap fokus sekolah sambil mengejar mimpi besar menuju MotoGP.(Gemini AI)
Lucy Wiryono mengungkap sisi lain Veda Ega Pratama yang tetap fokus sekolah sambil mengejar mimpi besar menuju MotoGP.(Gemini AI)

 

TRENGGALEK NJENGGALEK – Nama Veda Ega Pratama kembali menjadi sorotan setelah tampil dalam wawancara eksklusif bersama presenter otomotif Lucy Wiryono di kanal YouTube Padock Talk. Dalam perbincangan tersebut, pembalap muda Indonesia itu mengungkap berbagai cerita menarik, mulai dari pengalaman menjalani musim debut di Eropa hingga mimpi besarnya menembus MotoGP.

Veda Ega Pratama menjadi salah satu talenta balap paling menjanjikan yang dimiliki Indonesia saat ini. Setelah menjalani satu musim di ajang Red Bull Rookies Cup, pembalap asal Gunungkidul itu mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga, terutama soal adaptasi terhadap sirkuit dan gaya balap pembalap Eropa.

Menurut Veda, musim pertamanya lebih banyak digunakan untuk beradaptasi dengan motor, karakter lintasan, dan pola persaingan di Eropa. Pengalaman tersebut membuatnya semakin percaya diri menghadapi musim berikutnya.

Baca Juga: Rumor Hakim Danish Digaji Tim Moto3 2026 Tanpa Bawa Sponsor Besar Jadi Sorotan, Benarkah Nilainya Kalah dari Veda Ega Pratama?

Adaptasi Sulit di Sirkuit Eropa

Dalam wawancara bersama Lucy Wiryono dan Joni Rumagit, Veda mengaku tantangan terbesar bukan hanya soal kecepatan, melainkan memahami karakter sirkuit yang berbeda dari apa yang terlihat di video.

"Kalau lihat video, elevasinya tidak kelihatan. Saat track walk baru terasa ternyata ada tanjakan dan turunan yang ekstrem," ungkap Veda.

Ia menyebut Sirkuit Aragon di Spanyol sebagai salah satu trek paling menantang yang pernah dihadapinya. Selain Aragon, Sirkuit Red Bull Ring di Austria juga memberikan tantangan tersendiri karena kombinasi lintasan menanjak dan menurun yang cukup ekstrem.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi Veda untuk tampil lebih kompetitif pada musim berikutnya.

Baca Juga: 5 HP Samsung Terbaru 2026 Resmi Masuk Indonesia, Harga Mulai Rp2 Jutaan hingga Rp22 Juta, Galaxy S26 Plus Jadi Sorotan

Tetap Sekolah Meski Sibuk Balapan

Salah satu hal yang mendapat perhatian Lucy Wiryono adalah komitmen Veda terhadap pendidikan. Di tengah jadwal latihan dan balapan internasional yang padat, Veda tetap menjalani aktivitas sekolah seperti siswa pada umumnya.

Saat ini Veda telah duduk di bangku SMA. Meski sering menjalani latihan dan kompetisi di luar daerah maupun luar negeri, ia tetap menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang diberikan guru.

Beruntung, sekolah tempatnya belajar memberikan dukungan penuh terhadap karier balap yang sedang dijalani. Namun, bukan berarti ia mendapatkan kebebasan sepenuhnya.

"Kalau latihan memang diizinkan, tapi tetap ada tugas yang harus dikerjakan di rumah," kata Veda.

Sikap disiplin tersebut mendapat pujian dari Lucy Wiryono yang menilai Veda bukan hanya memiliki bakat besar di lintasan, tetapi juga menunjukkan tanggung jawab terhadap pendidikan.

Baca Juga: Hakim Danish Didiskualifikasi dari Moto3 Mugello 2026, Kehilangan 13 Poin dan Buka Peluang Veda Ega Pratama Naik ke Papan Atas

Kesepian Jadi Tantangan Pembalap Indonesia

Veda juga mengungkap tantangan lain yang jarang diketahui publik. Saat pertama kali berkompetisi di Eropa, ia sempat mengalami kesulitan berkomunikasi dengan pembalap lain.

Mayoritas rider di paddock menggunakan bahasa Spanyol atau Italia sehingga membuatnya cukup kesulitan untuk berinteraksi.

Menurut Veda, komunikasi yang terbatas membuat dirinya lebih sering bergaul dengan sesama pembalap Asia yang memiliki latar belakang budaya lebih dekat.

Meski demikian, kondisi tersebut justru menjadi pengalaman berharga yang membantunya berkembang sebagai pembalap profesional.

Soroti Minimnya Fasilitas Balap di Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Veda juga menyoroti minimnya fasilitas balap di Indonesia, khususnya di daerah asalnya, Yogyakarta.

Menurutnya, kemampuan pembalap Indonesia sebenarnya tidak kalah dibandingkan rider luar negeri. Namun, keterbatasan fasilitas dan jumlah sirkuit menjadi salah satu kendala utama.

"Kalau skill pembalap Indonesia saya rasa tidak kalah. Yang kurang itu fasilitasnya," ujar Veda.

Ia berharap ke depan semakin banyak fasilitas balap dan sirkuit yang dibangun agar talenta-talenta muda Indonesia memiliki kesempatan berkembang lebih besar.

Mimpi Besar Menuju MotoGP

Di akhir wawancara, Lucy Wiryono menanyakan mimpi terbesar yang ingin dicapai Veda Ega Pratama.

Tanpa ragu, pembalap muda tersebut mengungkapkan target utamanya adalah tampil di ajang Grand Prix dunia hingga MotoGP.

"Yang pasti saya ingin ke Grand Prix, Moto3, Moto2, sampai MotoGP," tegasnya.

Mimpi besar itu kini mulai terlihat realistis. Dengan prestasi yang terus meningkat, dukungan berbagai pihak, serta mentalitas disiplin yang dimiliki, Veda Ega Pratama menjadi salah satu harapan terbesar Indonesia untuk kembali memiliki wakil di panggung balap motor dunia.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#Veda Ega Pratama #Red Bull Rookies Cup #Lucy Wiryono #pembalap indonesia #motogp