GUNUNGKIDUL - Nama Veda Ega Pratama kembali menjadi sorotan para pecinta balap Tanah Air. Pembalap muda binaan Astra Honda Motor yang berasal dari Gunungkidul, Yogyakarta, itu ternyata menyimpan banyak kisah menarik di balik kesuksesannya di lintasan.
Melalui sebuah kunjungan langsung ke kediamannya di Jalan Ki Ageng Giring, Desa Wareng, Wonosari, Gunungkidul, terungkap berbagai koleksi berharga milik Veda Ega Pratama yang menjadi saksi perjalanan kariernya sejak masih anak-anak.
Rumah Veda Ega Pratama tidak hanya menjadi tempat tinggal biasa, tetapi juga layaknya museum mini yang menyimpan berbagai perlengkapan balap, koleksi helm, motor, hingga puluhan trofi hasil perjuangan di berbagai kejuaraan.
Ruang Penuh Kenangan Sejak Masih Mini GP
Begitu memasuki ruang depan rumah, pengunjung langsung disambut deretan wearpack milik Veda Ega Pratama dan sang ayah, Sudarmono, yang juga pernah aktif di dunia balap.
Selain itu, terdapat beberapa unit motor yang pernah digunakan dalam berbagai ajang balap. Tak ketinggalan, lemari berisi piala-piala prestasi yang dikumpulkan sejak tahun 2015 menjadi daya tarik tersendiri.
Berbagai helm yang pernah dipakai Veda saat masih turun di kelas Mini GP juga tersimpan rapi. Koleksi tersebut menjadi bagian penting perjalanan karier pembalap Astra Motor Racing Team Yogyakarta tersebut.
Wearpack Pertama Bersama Astra Motor Racing Team
Veda Ega Pratama juga memperlihatkan sejumlah perlengkapan balap yang memiliki nilai sejarah baginya. Salah satunya adalah wearpack pertama yang digunakannya saat bergabung dengan Astra Motor Racing Team pada 2019.
Tak hanya itu, terdapat pula helm-helm promotor dan beberapa koleksi favorit yang pernah menemani perjuangannya di lintasan.
Salah satu helm yang paling disukainya adalah helm KYT yang digunakan ketika mulai aktif di ajang road race pada 2018.
Menurut Veda, helm tersebut memiliki nilai emosional karena banyak mengantarkannya meraih kemenangan.
"Karena banyak pengalaman dan sering juara menggunakan helm ini, jadi saya sangat suka," ungkapnya.
Pernah Menekuni Motocross Sebelum Road Race
Perjalanan Veda Ega Pratama menuju dunia balap profesional ternyata tidak dimulai dari road race. Pembalap muda tersebut sempat menekuni motocross sejak sekitar tahun 2015.
Ia mengikuti Kejurnas Motocross sebelum naik kelas 65 cc pada 2016 hingga 2017. Setelah itu, Veda memutuskan beralih ke balap aspal dan mulai serius mengikuti berbagai kejuaraan road race.
Keputusan tersebut menjadi titik penting yang mengantarkannya berkembang menjadi salah satu talenta muda terbaik Indonesia.
Memiliki Ruang Khusus untuk Latihan Fisik
Tidak hanya menyimpan koleksi berharga, rumah Veda Ega Pratama juga dilengkapi ruangan khusus untuk menunjang latihan fisik.
Di dalamnya terdapat berbagai peralatan seperti treadmill, meja tenis, roller, barbel, bola gym, hingga sejumlah alat kebugaran lainnya.
Fasilitas tersebut digunakan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap prima dalam menghadapi jadwal balap yang padat.
Selain itu, terdapat papan khusus yang biasa digunakan untuk menerima arahan dan evaluasi mengenai teknik balap.
Kehadiran fasilitas tersebut menunjukkan keseriusan Veda dalam menjaga performanya sebagai pembalap profesional.
Adik Veda Juga Mulai Menekuni Dunia Balap
Bakat balap rupanya mengalir di keluarga Veda Ega Pratama. Sang adik yang masih berusia tujuh tahun ternyata sudah mulai mengikuti jejak kakaknya.
Ia telah mengenal Mini GP sejak usia tujuh tahun dan bahkan pernah meraih gelar juara.
Keduanya kerap berlatih bersama di Pasar Hewan Siyono, Gunungkidul, setiap Selasa, Rabu, dan Jumat mulai pukul 14.00 hingga 15.00 WIB.
Dalam sesi latihan tersebut, berbagai teknik dasar seperti cara menikung, pengereman, hingga keluar masuk tikungan terus diasah.
Dukungan keluarga serta lingkungan yang dekat dengan dunia balap menjadi modal penting bagi Veda Ega Pratama untuk terus berkembang dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Melihat isi rumahnya, perjalanan Veda Ega Pratama ternyata dipenuhi dengan jejak perjuangan panjang sejak usia dini. Koleksi helm, motor, serta puluhan trofi yang tersimpan rapi menjadi bukti bahwa kesuksesan seorang pembalap tidak diraih secara instan, melainkan melalui latihan dan dedikasi yang konsisten.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari