JAKARTA - Feda Ega Pratama kembali menjadi sorotan jelang balapan utama Moto3 Grand Prix Ceko 2026 di Sirkuit Automotodrom Brno. Pembalap muda Indonesia tersebut harus menerima hukuman penalti mundur 12 posisi start setelah dinilai berkendara terlalu lambat pada sesi kualifikasi Q2.
Meski berhasil mencatatkan performa impresif dengan menempati posisi kedelapan saat kualifikasi, Feda Ega Pratama akhirnya harus turun ke posisi ke-20 di grid start. Keputusan tersebut diambil Panel Steward FIM setelah menemukan pelanggaran terkait kecepatan rendah di salah satu sektor lintasan yang dianggap berpotensi membahayakan pembalap lain.
Hukuman itu tentu menjadi tantangan besar bagi Feda Ega Pratama yang tengah menjalani musim debutnya di Moto3. Namun sejumlah pengamat justru menilai penalti tersebut tidak mengurangi kualitas penampilan pembalap asal Gunungkidul, Yogyakarta itu sepanjang akhir pekan balapan di Brno.
Tampil Mengesankan di Debut Brno
Sebelum penalti diumumkan, Feda sukses mencuri perhatian banyak pihak setelah mencatat waktu kompetitif dan hanya terpaut beberapa persepuluh detik dari barisan depan. Komentator internasional bahkan menyebut penampilan pembalap Indonesia itu sebagai salah satu kejutan terbesar pada sesi kualifikasi Moto3 Ceko.
"Indonesia, kalian punya superstar baru. Dia benar-benar spesial," ujar salah satu komentator Moto3 saat membahas performa Feda di Brno.
Pujian tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa musim terakhir, Feda memang menunjukkan perkembangan pesat. Ia pernah menjadi juara Asia Talent Cup dan finis sebagai runner-up Red Bull Rookies Cup, kompetisi yang banyak melahirkan pembalap MotoGP masa depan.
Keberhasilannya menembus posisi delapan besar pada sesi kualifikasi di sirkuit yang sangat teknis seperti Brno semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan dari Asia.
Penalti Tak Hanya Menimpa Feda
Feda bukan satu-satunya pembalap yang menerima hukuman dari steward. Pembalap Malaysia, Hakim Danish, juga mendapat penalti serupa dan harus turun ke posisi ke-14.
Selain itu, Guido Pini dan Rico Salmela turut dijatuhi sanksi akibat pelanggaran yang berkaitan dengan kecepatan saat sesi kualifikasi berlangsung.
Meski demikian, perhatian publik Indonesia tetap tertuju pada perjuangan Feda yang harus memulai balapan dari barisan belakang. Posisi ke-20 jelas bukan situasi ideal untuk seorang rookie yang ingin bersaing memperebutkan poin penting di klasemen Moto3.
Dipuji Karena Maksimalkan Potensi Motor
Sejumlah analis balap menilai performa Feda sepanjang akhir pekan justru menunjukkan kualitasnya sebagai pembalap muda yang mampu memaksimalkan kemampuan motor Honda Team Asia.
Menurut mereka, salah satu keunggulan terbesar Feda terlihat pada sektor tikungan. Ketika motor KTM milik para rival memiliki keunggulan kecepatan di lintasan lurus, Feda mampu memangkas selisih waktu melalui teknik pengereman dan kecepatan menikung yang sangat baik.
Pengamat balap nasional menyebut hasil kualifikasi posisi delapan besar merupakan pencapaian luar biasa mengingat Feda sempat mengalami kesulitan sejak sesi latihan bebas pada hari Jumat.
"Dia berjuang sejak awal pekan, tetapi tetap mampu mendapatkan hasil maksimal tanpa mengambil risiko berlebihan," ujar salah satu analis balap yang mengamati performa Feda di Brno.
Tantangan Berat di Balapan Utama
Memulai balapan dari posisi ke-20 tentu membuat perjuangan Feda semakin berat. Sirkuit Automotodrom Brno memiliki karakter yang menuntut pembalap untuk mampu menyalip dengan bersih sekaligus menjaga kondisi ban hingga lap terakhir.
Meski begitu, banyak pihak tetap optimistis pembalap berusia muda tersebut mampu memberikan kejutan. Pengalaman menunjukkan bahwa Feda kerap tampil lebih kompetitif saat balapan dibandingkan ketika sesi kualifikasi.
Kemampuan mengelola ritme balap, menjaga konsistensi lap time, dan memanfaatkan area pengereman menjadi modal penting bagi pembalap Indonesia tersebut untuk merangsek ke depan.
Apapun hasil akhirnya, performa yang ditunjukkan Feda Ega Pratama di Moto3 Ceko 2026 kembali membuktikan bahwa Indonesia kini memiliki talenta muda yang mampu bersaing dengan para pembalap terbaik dunia di level Grand Prix.
Editor : Divka Vance Yandriana