TRENGGALEK NJENGGELEK- Nama Veda Ega Pratama menjadi salah satu pembicaraan paling hangat setelah balapan Moto3 berakhir. Meski bukan pemenang lomba, pembalap muda Indonesia itu justru mencuri perhatian berkat penampilan impresifnya dari posisi start ke-20 hingga mampu finis di urutan kelima.
Balapan Moto3 kali ini memang menghadirkan drama menarik. Pembalap muda Malaysia, Hakim Danish, keluar sebagai juara setelah melakukan manuver brilian di tikungan terakhir yang membuat para penonton menahan napas. Namun, setelah garis finis, sorotan publik beralih pada momen persahabatan antara Hakim Danish dan Veda Ega Pratama.
Keyword utama Veda Ega Pratama semakin ramai diperbincangkan setelah ia diajak Hakim Danish merayakan kemenangan bersama. Momen tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan mendapat respons positif dari penggemar balap Indonesia maupun Malaysia.
Hakim Danish Juara, Persahabatan Jadi Sorotan
Sejak awal balapan, Hakim Danish harus menghadapi tekanan ketat dari para rivalnya. Posisi pembalap Malaysia itu beberapa kali berubah karena persaingan sengit di kelompok terdepan.
Memasuki lap terakhir, Hakim masih berada dalam rombongan pembalap yang saling berebut posisi. Ketika memasuki tikungan terakhir, ia mengambil jalur berbeda yang tidak dipilih pembalap lain. Keputusan sepersekian detik itu terbukti tepat dan membawanya melesat lebih cepat menuju garis finis.
Setelah memastikan kemenangan, Hakim melakukan tindakan yang mengundang simpati banyak orang. Ia langsung mencari Veda Ega Pratama di area paddock dan mengajaknya merayakan hasil balapan bersama.
Momen tersebut dianggap menunjukkan bahwa rivalitas di lintasan tidak selalu menghapus persahabatan di luar arena. Dua pembalap muda dari negara berbeda itu terlihat menikmati pencapaian masing-masing dengan penuh kebanggaan.
Perjuangan Veda Ega Pratama dari Posisi 20
Di balik kemeriahan selebrasi tersebut, performa Veda Ega Pratama sebenarnya menjadi cerita yang tak kalah menarik.
Sebelum balapan dimulai, pembalap Indonesia itu harus menerima hukuman penalti yang membuatnya memulai lomba dari posisi ke-20. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan berat, terutama bagi seorang pembalap muda yang masih berstatus rookie.
Namun Veda menunjukkan mentalitas kuat. Begitu lampu start padam, ia langsung melakukan sejumlah manuver agresif tetapi tetap terukur. Perlahan namun pasti, posisinya terus merangkak naik.
Dalam beberapa lap awal, Veda berhasil menembus posisi ke-11. Tak lama kemudian, ia masuk ke delapan besar dan terus menjaga ritme balapan di kelompok depan.
Hingga balapan berakhir, Veda Ega Pratama mampu menyentuh garis finis di posisi kelima. Hasil itu menjadi pencapaian luar biasa mengingat ia memulai lomba dari barisan paling belakang.
Banyak pengamat menilai hasil tersebut menjadi bukti kemampuan balap sekaligus kecerdasan strategi yang dimiliki pembalap muda Indonesia tersebut.
Baca Juga: Banyak Fitur Tersembunyi, Simak Panduan Memilih Suzuki Ertiga Bekas 2026 Agar Tidak Menyesal
Dipuji Aki Ajo, Disebut Punya Kemiripan dengan Pedro Acosta
Performa gemilang Veda ternyata juga menarik perhatian Aki Ajo, bos tim KTM yang dikenal sebagai salah satu sosok berpengaruh dalam dunia balap motor internasional.
Menurut Aki Ajo, apa yang dilakukan Veda secara logika balapan tergolong sangat sulit dilakukan oleh seorang rookie. Terlebih, pencapaiannya bukan karena banyak pembalap lain mengalami insiden atau terjatuh di lintasan.
Aki Ajo menilai Veda benar-benar mampu membalap secara cerdas sepanjang perlombaan. Ia juga menyoroti data telemetri pembalap Indonesia tersebut.
Hal yang paling mengejutkan adalah ketika Aki Ajo menyebut gaya balap Veda memiliki kemiripan dengan Pedro Acosta, salah satu talenta terbesar yang saat ini berkembang di level MotoGP.
Menurutnya, cara Veda mengerem, membaca tikungan, hingga keluar dari tikungan menunjukkan karakteristik yang serupa dengan Acosta. Pujian tersebut tentu bukan hal biasa karena Pedro Acosta dikenal sebagai pembalap dengan insting balap luar biasa dan kemampuan mengelola tekanan dengan sangat baik.
Sinyal Cerah Masa Depan Balap Indonesia
Perbandingan dengan Pedro Acosta menjadi sinyal positif bagi perkembangan karier Veda Ega Pratama. Meski masih berada dalam tahap awal perjalanan profesionalnya, pembalap muda Indonesia itu dinilai memiliki fondasi teknis yang kuat serta kemampuan belajar yang cepat.
Penampilannya dari posisi ke-20 hingga finis kelima memperlihatkan kombinasi keberanian, kecerdasan strategi, dan konsistensi yang jarang dimiliki pembalap muda.
Bagi penggemar balap Indonesia, kemunculan Veda menjadi harapan baru untuk melihat wakil Merah Putih bersaing di level tertinggi balap motor dunia. Jika terus berkembang dengan pola yang sama, bukan tidak mungkin nama Veda Ega Pratama akan menjadi salah satu pembalap yang diperhitungkan pada masa mendatang.
Baca Juga: Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Paling Layak Dibeli, Ini 5 Mobil Diesel Irit BBM yang Masih Diburu
Editor : Cholifatun Nisak