TRENGGALEK NJENGGELEK – Feda Ega Pratama akhirnya buka suara mengenai pencapaian terbesar dalam karier balapnya sejauh ini. Pembalap muda binaan Astra Honda Racing Team tersebut mengaku sempat tidak percaya bisa mengakhiri musim sebagai runner up Red Bull MotoGP Rookies Cup dan sekaligus mengamankan golden ticket menuju Moto3.
Dalam wawancara terbaru usai kembali dari Eropa, Feda Ega Pratama menceritakan perjalanan berat yang harus dilaluinya sepanjang musim. Cedera yang sempat membuatnya absen dari satu seri balapan ternyata tidak menghentikan langkahnya untuk tetap bersaing di papan atas klasemen.
Meski gagal meraih gelar juara dunia junior, hasil runner up yang diraih Feda tetap dianggap sebagai prestasi bersejarah bagi Indonesia. Apalagi pencapaian tersebut memberinya kesempatan istimewa untuk naik ke Moto3 meski belum memenuhi batas usia normal yang ditetapkan regulasi.
Tak Menyangka Bisa Jadi Runner Up Dunia
Feda mengaku hasil yang diraihnya musim ini berada di luar ekspektasinya. Pasalnya, pada awal musim dirinya harus menghadapi berbagai kendala, termasuk cedera yang membuatnya kehilangan kesempatan tampil di salah satu seri penting.
"Saya jujur tidak percaya bisa mendapatkan posisi dua klasemen. Karena di awal musim saya sempat cedera dan tidak ikut satu seri balapan," ungkap Feda.
Namun situasi mulai berubah ketika dirinya berhasil meraih kemenangan di Mugello dan Sachsenring. Dua kemenangan penting tersebut membuatnya kembali masuk dalam persaingan perebutan gelar hingga akhir musim.
Meski puas dengan hasil runner up, Feda mengakui masih ada sedikit rasa penasaran karena sebenarnya peluang menjadi juara dunia masih terbuka.
"Saya tahu sebenarnya bisa mendapatkan gelar juara. Tapi ini tetap menjadi pencapaian terbesar saya sampai saat ini," ujarnya.
Persaingan Ketat di Red Bull Rookies Cup
Menurut Feda, salah satu tantangan terbesar di Red Bull MotoGP Rookies Cup adalah ketatnya persaingan antar pembalap.
Setiap balapan selalu menghadirkan grup besar yang saling bertarung dalam jarak sangat dekat. Kontak antar pembalap, aksi saling salip, hingga berbagai drama di lintasan menjadi bagian yang hampir selalu terjadi sepanjang musim.
Karena itu, strategi menjadi faktor yang sangat menentukan.
"Setiap lap selalu sengit. Banyak saling salip dan kadang ada kontak kecil. Yang penting bagaimana mengatur strategi untuk lap terakhir," jelasnya.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi bekal penting bagi Feda sebelum memasuki level kompetisi yang lebih tinggi pada musim mendatang.
Golden Ticket Moto3 Jadi Hadiah Spesial
Pencapaian runner up Red Bull MotoGP Rookies Cup juga membawa hadiah besar bagi Feda. Ia berhasil mendapatkan golden ticket yang memungkinkan dirinya tampil di Moto3 meski belum berusia 18 tahun.
Berdasarkan regulasi terbaru, pembalap harus berusia minimal 18 tahun untuk dapat tampil penuh di Moto3. Namun terdapat pengecualian bagi pembalap yang berhasil finis tiga besar di Red Bull MotoGP Rookies Cup atau JuniorGP.
Karena berhasil menempati posisi kedua klasemen akhir, Feda otomatis memenuhi syarat tersebut.
"Saya sangat senang karena hanya tiga pembalap yang bisa mendapatkan kesempatan itu dan saya menjadi salah satunya," kata Feda.
Meski demikian, pembalap asal Gunungkidul tersebut mengaku belum ingin terlalu jauh memikirkan musim depan. Fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan seluruh program balap yang masih dijalani sepanjang 2025.
Jalani Sekolah dan Balapan Sekaligus
Di tengah jadwal kompetisi yang padat, Feda juga tetap harus menjalani pendidikan formal. Saat berada di Spanyol, ia masih mengikuti kegiatan sekolah sambil menjalani latihan dan balapan.
Menurutnya, seluruh aktivitas sudah diatur secara rinci oleh tim dan manajemen sehingga dirinya hanya perlu menjalankan jadwal yang telah disusun.
Mulai dari latihan fisik, latihan menggunakan motor, hingga kegiatan sekolah dilakukan secara terstruktur agar tidak saling mengganggu.
"Semua sudah dijadwalkan oleh tim. Jadi saya tinggal mengikuti jadwal yang ada," ujarnya.
Pesan untuk Pembalap Muda Indonesia
Menutup wawancara, Feda memberikan pesan kepada para pembalap muda Indonesia yang bercita-cita mengikuti jejaknya ke level internasional.
Ia menekankan pentingnya latihan, disiplin, dan tidak mudah menyerah dalam mengejar impian.
"Pokoknya terus latihan, disiplin, dan jangan menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin," pesan Feda.
Pembalap berusia 17 tahun itu juga berharap semakin banyak talenta Indonesia yang mampu menembus ajang Grand Prix dunia pada masa mendatang.
Dengan usia yang masih sangat muda dan peluang besar tampil di Moto3, Feda Ega Pratama kini menjadi salah satu harapan terbesar Indonesia untuk bisa bersaing di level tertinggi balap motor dunia hingga suatu hari nanti mencapai MotoGP.
Editor : Fadhilah Salsa Bella