TRENGGALEK NJENGGELEK – Sosok Veda Ega Pratama selama ini lebih dikenal lewat aksi-aksinya di lintasan balap internasional. Namun di balik kesibukannya sebagai pembalap muda Indonesia yang berkiprah di Eropa, Veda ternyata tetap menjalani kehidupan sederhana saat pulang ke kampung halamannya di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Momen tersebut terlihat dalam sebuah kunjungan ke rumah Veda Ega Pratama saat bulan Ramadan. Dalam suasana santai menjelang berbuka puasa, pembalap binaan Astra Honda Racing Team (AHRT) itu terlihat ngabuburit seperti remaja pada umumnya dengan berburu takjil di pasar bersama keluarga dan kerabat dekat.
Kehangatan suasana di rumah Veda menjadi gambaran bahwa meski namanya semakin dikenal di dunia balap internasional, ia tetap mempertahankan kedekatannya dengan lingkungan dan keluarga di kampung halaman.
Ngabuburit dan Berburu Takjil Favorit
Menjelang waktu berbuka, Veda terlihat ikut mencari takjil di pasar. Salah satu menu yang disebut menjadi favoritnya adalah es buah. Aktivitas sederhana tersebut menunjukkan sisi lain dari pembalap yang kini berkompetisi melawan para talenta muda terbaik dunia.
Setelah berburu takjil, Veda dan keluarga berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Suasana kekeluargaan begitu terasa saat berbagai hidangan khas Gunungkidul tersaji di meja makan.
Menariknya, ketika ditanya makanan yang paling dirindukan saat berada di luar negeri, Veda menyebut bakso sebagai salah satu menu favoritnya. Namun ada jawaban lain yang cukup mengejutkan.
Penggemar Bekicot Sejak Kecil
Dalam obrolan santai tersebut, Veda mengaku menyukai olahan bekicot, makanan yang cukup populer di beberapa daerah di Jawa. Pengakuan itu sempat membuat orang-orang di sekitarnya terkejut.
Menurut Veda, rasa bekicot cukup enak dan menjadi salah satu makanan yang sulit ditemukan ketika dirinya berada di Eropa. Makanan khas daerah itu menjadi bagian dari kerinduan yang sering muncul saat menjalani musim balap di luar negeri.
Selain kuliner, Veda juga mengungkapkan bahwa kondisi alam Gunungkidul memberikan banyak keuntungan bagi program latihan fisiknya.
Gunungkidul Jadi Modal Penting Latihan Fisik
Pembalap berusia 17 tahun itu menjelaskan bahwa lingkungan Gunungkidul sangat mendukung kebutuhan latihan seorang pembalap. Kontur wilayah yang dipenuhi tanjakan dan kawasan perbukitan membuatnya terbiasa menjalani latihan sepeda serta aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
Menurut Veda, kondisi tersebut justru membantu proses adaptasinya ketika berlatih di Spanyol yang juga memiliki banyak jalur perbukitan untuk latihan sepeda.
Kebiasaan berlatih di medan yang menantang sejak kecil membuatnya tidak mengalami kesulitan berarti saat harus mengikuti program fisik yang diterapkan tim di Eropa.
Kamar Penuh Kenangan dan Helm Bersejarah
Momen paling menarik terjadi ketika Veda memperlihatkan koleksi perlengkapan balap yang tersimpan di kamarnya. Berbagai trofi, helm, baju balap, hingga memorabilia dari perjalanan kariernya masih tersimpan rapi.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah helm berwarna pink dengan desain belalang sembah atau mantis yang pernah digunakannya pada masa awal karier balap.
Veda mengaku menyukai warna pink dan sengaja memilih desain tersebut sebagai identitas uniknya di lintasan. Selain itu, ia juga masih menyimpan seluruh helm yang pernah digunakan tanpa menjualnya kepada kolektor.
"Masih disimpan semua," ujar Veda saat menunjukkan koleksi helm dan perlengkapan balapnya.
Kisah Nama "Salipan" yang Melekat pada Veda
Dalam kesempatan itu, Veda juga menjelaskan asal-usul tulisan "Salipan" yang pernah muncul di helm balapnya dan sempat membuat banyak penggemar penasaran.
Menurut Veda, Salipan merupakan nama yang diberikan oleh kakek buyutnya sebelum ia lahir. Nama tersebut memiliki nilai sejarah keluarga yang cukup kuat sehingga pernah dijadikan identitas tambahan pada desain helm balapnya.
Kini tulisan tersebut memang sudah tidak lagi digunakan secara dominan, namun Veda mengaku ingin suatu saat menghadirkannya kembali sebagai bagian dari identitas pribadinya di lintasan balap.
Di tengah kesibukan menghadapi jadwal kompetisi dunia, Veda tetap menunjukkan sosok yang sederhana dan dekat dengan keluarga. Dari rumah sederhana di Gunungkidul inilah lahir mimpi besar yang kini mulai membawa nama Indonesia semakin dikenal di pentas balap internasional.
Editor : Fadhilah Salsa Bella