TRENGGALEK NJENGGELEK- Sirkuit Brno, Ceko, menjadi saksi bisu lahirnya sebuah keajaiban dari pembalap muda berbakat asal Indonesia. Mengawali balapan dari posisi yang sama sekali tidak diuntungkan, rekor fantastis Veda Ega Pratama sukses membuat mata dunia otomotif internasional terbelalak. Bagaimana tidak, pembalap andalan Honda Team Asia ini berhasil merangsek maju dari posisi ke-20 (P20) hingga finis di urutan kelima (P5) dengan catatan waktu yang sangat mencengangkan.
Balapan di Moto3 Ceko kali ini benar-benar menguras emosi dan membuat jantung para pencinta balap tanah air berdegup kencang. Pasalnya, motor Honda NSF250RW yang ditunggangi Veda secara umum dinilai masih kalah improve dan kalah bertenaga jika dibandingkan dengan dominasi pasukan pabrikan KTM. Namun, keterbatasan teknis tersebut berhasil ditutupi dengan sempurna oleh talenta masterclass dan mentalitas baja yang dimiliki pembalap asal Gunungkidul ini.
Keberhasilan menembus posisi lima besar dari barisan belakang tentu sudah menjadi prestasi yang luar biasa. Namun, yang membuat pencapaian ini terasa begitu istimewa dan bersejarah adalah torehan rekor fantastis Veda Ega Pratama di atas lintasan. Veda sukses menyapu bersih mayoritas sektor sirkuit dan keluar sebagai satu-satunya pembalap yang mencetak waktu lap tercepat (fastest lap) di angka 2 menit 04,524 detik pada lap keempat.
Tumbangkan Catatan Waktu Masa Lalu
Catatan waktu luar biasa yang diukir oleh Veda ini langsung menumbangkan rekor all-time best race lap record Moto3 di Brno yang sebelumnya dipegang oleh pembalap papan atas dunia. Lebih gilanya lagi, torehan 2 menit 04 detik ini dicetak dalam kondisi race atau balapan resmi, bukan saat sesi kualifikasi yang minim tekanan. Sepanjang jalannya balapan, tidak ada satu pun pembalap dari pabrikan KTM, termasuk sang juara Hakim Danis dari Malaysia, yang mampu menyentuh atau mendekati catatan waktu milik Veda tersebut.
Strategi jitu juga menjadi kunci utama di balik kesuksesan pembalap bernomor motor 9 ini dalam mengobrak-abrik pertahanan lawan. Pada balapan kali ini, Veda bersama tim mekanik mengambil keputusan berani dengan beralih menggunakan kompon ban SC2 yang berkarakter lebih keras (medium) dibandingkan biasanya yang menyukai ban lunak (soft). Pilihan ini terbukti sangat tepat untuk menaklukkan karakter Sirkuit Brno yang didominasi oleh tikungan-tikungan cepat (fast corner).
Dengan manajemen ban yang sangat matang, Veda langsung melesat bak peluru sesaat setelah lampu hijau menyala. Dari posisi ke-20, ia langsung meroket ke posisi 11 pada lap-lap awal, sebelum akhirnya terus menusuk ke posisi 7, hingga sempat bertarung sengit di perebutan posisi ke-4. Pada tikungan terakhir menjelang garis finis, Veda dengan cerdik berhasil menekuk pembalap tangguh Karpe dan mengamankan posisi kelima dengan selisih waktu yang sangat tipis, hanya 0,9 detik dari sang pemenang.
Menjadi Tulang Punggung dan Satu-satunya Harapan Honda
Ketajaman performa Veda di lintasan Ceko sekaligus mempertegas posisinya sebagai tulang punggung utama pabrikan Honda saat ini. Ketika pembalap Honda lainnya kesulitan dan tercecer di pack kedua dengan jarak selisih hingga 10 detik di belakang, Veda menjadi satu-satunya pembalap berlogo sayap mengepak yang mampu menempel ketat dan mengancam rombongan terdepan KTM. Rekan satu timnya sendiri, Zen Mitani, bahkan harus puas finis di posisi ke-19 dengan jarak gap yang sangat jauh, yakni 26,6 detik.
Pencapaian luar biasa di sirkuit sepanjang 5,4 kilometer ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki aset pembalap masa depan dengan potensi yang sangat mengerikan. Kehadiran fasilitas sirkuit internasional seperti Mandalika serta program penjenjangan balap yang ketat dari Astra Honda Racing Team (AHRT) dalam lima tahun terakhir mulai membuahkan hasil nyata. Mimpi untuk melihat pembalap asli Merah Putih bersaing di kelas tertinggi MotoGP kini bukan lagi sekadar angan-angan kosong.
Dengan tambahan poin dari Ceko, Veda Ega Pratama kini kokoh bertengger di posisi keenam klasemen sementara Moto3 dengan total raihan 82 poin. Publik kini sangat berharap pihak pabrikan Honda bisa terus melakukan pembenahan besar pada sektor mesin agar motor NSF250RW bisa sejajar dengan KTM. Jika modal motor yang kompetitif sudah berada di genggahannya, bukan tidak mungkin podium pertama di sirkuit-sirkuit selanjutnya akan dengan mudah disapu bersih oleh pembalap ajaib asal Indonesia ini.
Baca Juga: Jumlah Warga Indonesia yang Pindah ke Luar Negeri Meningkat pada 2025