TRENGGALEK NJENGGELEK- Penampilan impresif pembalap muda Indonesia di kancah internasional kembali memicu perdebatan hangat di kalangan pencinta otomotif. Setelah menjalani balapan dramatis yang diwarnai clash di tikungan menjelang akhir laga, pro-kontra mengenai performa motor Honda NSF250RW miliknya mencuat ke permukaan. Namun, sejumlah pengamat balap senior meminta publik untuk berhenti mencari-cari alasan teknis dan mulai mengapresiasi mentalitas juara Veda Ega Pratama yang sesungguhnya tampil luar biasa.
Dalam balapan terbaru yang berlangsung ketat tersebut, Veda harus menerima kenyataan pahit mengawali jalannya balapan dari posisi yang sangat tidak ideal. Sejak sesi latihan bebas di hari Jumat, pembalap asal Gunungkidul ini terpantau sangat kesulitan masuk dalam zona 14 besar hingga terpaksa melakoni start dari urutan ke-21. Meski demikian, penurunan posisi start tersebut tidak membuat nyali sang pembalap ciut di atas lintasan.
Ketika lampu hijau menyala, mentalitas juara Veda Ega Pratama langsung berbicara di atas aspal. Dengan sabar dan penuh perhitungan, ia merangkak naik melewati satu per satu pembalap di depannya tanpa melakukan manuver konyol yang berisiko memicu kecelakaan. Hasilnya, Veda sukses finis di barisan depan sekaligus menjadi penunggang Honda terbaik, bahkan berhasil mengasapi duet pembalap tangguh dari tim raksasa Leopard Racing.
Stop Jadikan Performa Motor Sebagai Kambing Hitam
Menanggapi keluhan netizen yang terus-menerus menyalahkan kecepatan trek lurus Honda yang kalah jauh dari pabrikan KTM, pengamat balap meminta publik untuk berpikir lebih objektif. Karakteristik motor yang berbeda di lintasan balap adalah hal yang sepenuhnya lumrah. Jika KTM unggul mutlak di sektor trek lurus, maka Honda di bawah kendali Veda terbukti mampu memangkas jarak dan melakukan aksi saling susul yang magis di sektor tikungan.
"Jangan selalu mencari alasan bahwa jika Veda memakai KTM, dia pasti sudah menang mudah ke mana-mana. Belum tentu bisa menang mudah melawan pembalap top seperti Quiles," ujar salah satu analisis di tayangan Bobola TV. Pihaknya menegaskan bahwa dalam dunia balap profesional, performa tim papan atas seperti Leopard Racing bisa lebih melesat karena faktor pengalaman insinyur dan kematangan data setup, bukan karena adanya tindakan kecurangan atau cheating.
Dibandingkan sibuk meratapi top speed motor, fokus utama seharusnya diarahkan pada bagaimana mentalitas juara Veda Ega Pratama mampu melahirkan sebuah balapan yang masuk kategori ekstraordinari. Veda menunjukkan kedewasaan membalap yang sangat tinggi dengan memaksimalkan potensi motor yang apa adanya. Ia tidak memaksakan diri secara ugal-ugalan demi podium jika risikonya adalah gagal finis atau crash yang merugikan tabungan poin klasemen.
Belajar dari Karakter Rider Kelas Dunia
Kondisi ketertinggalan teknis yang dialami Veda saat ini dinilai sangat mirip dengan apa yang dialami oleh para pembalap hebat di kelas MotoGP. Ketika paket motor sedang tidak berada dalam kondisi terbaik untuk memenangkan balapan, seorang pembalap dengan mentalitas bintang akan memilih bermain cerdas demi mengamankan poin penting. Karakteristik pantang menyerah namun tetap taktis ini menjadi modal utama untuk bertahan di kompetisi Eropa yang kejam.
Publik juga diingatkan pada performa pembalap rival seperti Quiles yang sempat dihantam masalah pada sistem gear motornya di awal pekan balapan. Namun, karena memiliki mental bertarung layaknya "setan", pembalap tersebut tetap mampu merangsek maju dan memenangkan balapan. Kelebihan khusus dalam membalikkan situasi sulit inilah yang kini juga mulai terlihat dengan jelas di dalam diri Veda Ega Pratama.
Dengan bakat alami dan ketenangan mental yang terus terasah di setiap seri, Veda dinilai berada di jalur yang tepat untuk menyamai jejak para legenda dunia seperti Marc Marquez, Valentino Rossi, hingga rising star Pedro Acosta. Selama Veda mampu mempertahankan konsistensi bertarung di tengah keterbatasan alat tempurnya, maka tiket menuju kelas tertinggi MotoGP dipastikan tinggal menunggu waktu saja bagi pembalap kebanggaan Indonesia ini.
Baca Juga: Jumlah Warga Indonesia yang Pindah ke Luar Negeri Meningkat pada 2025