Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Piala Suratin di Trenggalek Tak Maksimal, Administrasi Jlimet Jadi Penyebab

Zaki Jazai • Sabtu, 27 Juni 2026 | 11:39 WIB

KURANG MAKSIMAL : Pagelaran Piala Suratin di Trenggalek yang saat ini kurang maksimal karena sepinya peserta
KURANG MAKSIMAL : Pagelaran Piala Suratin di Trenggalek yang saat ini kurang maksimal karena sepinya peserta

 

KOTA, Radar Trenggalek – Pelaksanaan Piala Soeratin 2026 di Bumi Menak Sopal dinilai belum berjalan maksimal. Pasalnya, sejumlah tim sepak bola yang memiliki pemain usia dini dilaporkan gagal mengikuti kompetisi akibat rumitnya proses administrasi pemain yang dikelola melalui sistem Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP).

Kondisi ini memicu kritik dari berbagai pihak, salah satunya datang dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Shrimp Army asal Kecamatan Watulimo. Klub tersebut mengaku tidak dapat menurunkan tim pada kategori U-15 lantaran sejumlah pemain mereka tidak tercatat dalam sistem. Ini seperti yang diungkapkan Pemilik SSB Shrimp Army, Anjar Priadi Putra.

Dia menyebut persoalan administrasi menjadi kendala utama bagi klub pembinaan untuk berpartisipasi dalam kompetisi resmi.

“Banyak tim kesulitan mendaftarkan pemain karena sistem administrasinya terlalu rumit. Akibatnya, kompetisi tidak berjalan maksimal,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya jumlah peserta pada Piala Soeratin tahun ini. Untuk kategori U-15 hanya diikuti lima tim, sedangkan U-13 diikuti delapan tim. Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Anjar menjelaskan bahwa Shrimp Army telah menjalankan pembinaan pemain secara berjenjang sejak 2023. Dari sisi kualitas maupun jumlah pemain, timnya sudah siap bersaing dalam Piala Soeratin U-15.

Namun, rencana itu kandas ketika sejumlah nama pemain inti yang selama ini tercatat dalam database resmi klub tiba-tiba tidak lagi muncul di akun SIAP milik Shrimp Army.

“Askab seharusnya memfasilitasi pembinaan sepak bola usia dini, tetapi justru membuat sistem administrasi semakin rumit. Askab mengendalikan penuh pengelolaan aplikasi SIAP, padahal akun itu merupakan hak klub,” keluh Anjar.

Ia mengaku terkejut saat menemukan perubahan data dalam sistem. Beberapa pemain yang selama ini terdaftar sebagai anggota Shrimp Army mendadak keluar dari database klub tanpa pemberitahuan maupun persetujuan manajemen.

“Seseorang mencabut status beberapa pemain kami dari database klub. Tiba-tiba mereka tidak lagi tercatat sebagai bagian dari Shrimp Army. Situasi ini sangat mengecewakan,” tegasnya.

Anjar mengatakan pihaknya telah melaporkan persoalan tersebut kepada pengurus Askab PSSI Trenggalek sejak Mei 2025. Namun hingga kompetisi dimulai, ia merasa belum memperoleh penjelasan yang memuaskan.

“Saya sudah meminta kejelasan sejak Mei tahun lalu, tetapi sampai sekarang belum ada penjelasan yang benar-benar terang. Askab harus menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi besar dalam pembinaan SSB di Trenggalek,” imbuhnya.

Menanggapi polemik tersebut, Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni, mengakui adanya kesalahan dalam pengelolaan data pemain di aplikasi SIAP.

“Saya mengakui ada kesalahan dari sisi admin kabupaten karena ikut terlibat dalam proses mutasi dan pencabutan status pemain milik klub,” ungkapnya.

Pengelolaan dilakukan pihaknya sendiri lantaran ada beberapa tim yang dinilai belum mampu untuk mengelola sendiri. Sehingga agar proses administrasi dapat berjalan sebagaimana mestinya pihaknya mengambil inisiatif dalam mengelola akun tim tersebut. 

Bima juga menyampaikan permohonan maaf kepada klub-klub yang terdampak, serta memastikan bahwa Askab akan melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem administrasi tersebut.

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ke depan, Askab tidak akan lagi mencampuri pengelolaan akun klub. Kewenangan penuh akan kami kembalikan kepada masing-masing SSB,” tegasnya.

Ia menambahkan, perbaikan tata kelola administrasi menjadi prioritas agar pelaksanaan kompetisi usia dini di masa mendatang dapat berjalan lebih baik dan memberikan ruang bagi seluruh talenta muda untuk berkembang.

“Ini menjadi evaluasi bersama, semoga kedepan bisa lebih baik lagi, “ Jelas pria yang juga Wakil Sekretaris Askab PSSI Trenggalek ini. (Jaz) 

Editor : Zaki Jazai
#administrasi #kompetisi #pssi